Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur, Taufik Zuhrizal, menyebut ada 14 kecamatan yang mengalami krisis air bersih imbas musim kemarau.
Kecamatan-kecamatan tersebut yakni Kecamatan Ciranjang, Cibeber, Cibinong, Sukaluyu, Gekbrong, Camapakamulya, Kadupandak, Agrabinta, Cugenang, Haurwangi, Bojongpicung, Mande, Cilaku, dan Cikalongkulon.
"Berdasarkan catatan, wilayah-wilayah tersebut hampir setiap musim kemarau mengalami krisis air bersih," kata Taufik, kepada kumparan, Sabtu (18/7).
Menurut Taufik, puncak kemarau di Kabupaten Cianjur diperkirakan berlangsung pada Juli hingga Agustus. Masyarakat pun diimbau meningkatkan upaya mitigasi dan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi ancaman kekeringan dan krisis air bersih.
Taufik menyebutkan, masyarakat perlu mengidentifikasi sumber-sumber air yang tersedia, seperti sumur serapan dangkal, kolam retensi, bendungan, dan sumur bor, serta memaksimalkan fasilitas penampungan air sebagai cadangan kebutuhan rumah tangga selama musim kemarau.
"Selain ancaman kekeringan dan krisis air bersih, Kabupaten Cianjur masih berpotensi mengalami bencana hidrometeorologi selama masa transisi dari kemarau basah menuju musim kemarau," jelasnya.
Meski status siaga darurat bencana hidrometeorologi yang ditetapkan hingga 31 Mei 2026 telah berakhir, BPBD Cianjur tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi bencana yang dapat terjadi.
Sementara itu, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Cianjur mendistribusikan 10 ribu liter air bersih untuk 600 jiwa di Desa Sukajadi, Kecamatan Cibinong yang mengalami krisis air, dampak kemarau.
Ketua PMI Kabupaten Cianjur, Ahmad Fikri mengungkapkan, terdapat tujuh desa di Kecamatan Cibinong yang mengalami krisis air bersih akibat kemarau sehingga warga terpaksa menggunakan air sungai untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari yang debitnya terus menurun.
"Pendistribusian air bersih dilakukan sesuai permintaan warga yang akan dilakukan selama beberapa hari ke depan karena terbatasnya sumber air yang berjarak puluhan kilometer dari desa itu," kata Fikri.
Fikri mengatakan, distribusi air bersih dilakukan secara bertahap ke wilayah-wilayah yang terjangkau truk tanki. Karena masyarakat sudah tidak memiliki sumber air untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk air sungai yang mulai mengering dan sumber air dari sumur gali sudah mengering sejak satu pekan terakhir.
"Sumber air yang cukup jauh membuat waktu pendistribusian terkendala, sehingga upaya maksimal dalam satu hari hanya dapat menyuplai 10 ribu liter air bersih di satu desa. Kami bersama enam orang relawan dengan satu tangki air akan melakukan upaya maksimal dengan mencari sumber air yang lebih dekat," pungkas Fikri.





