FIFA akan mengevaluasi dampak aturan tersebut sebelum memutuskan apakah hydration break perlu digunakan kembali dalam kompetisi mendatang. Pernyataan itu disampaikan Wenger menjelang pertandingan final Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Spanyol di New York New Jersey Stadium, Minggu (19/7/2026).
Wenger Akui Belum Ada Data yang Membuktikan Dampaknya
Dalam konferensi pers pada Sabtu (18/7), Wenger ditanya mengenai keberadaan data yang menunjukkan bahwa jeda minum dapat meningkatkan kemampuan pemain ataupun memperbaiki aliran pertandingan. Mantan pelatih Arsenal itu menjawab bahwa FIFA belum mempunyai bukti semacam itu.
Menurut Wenger, respons penonton terhadap hydration break harus menjadi bagian dari evaluasi FIFA. Ia juga tidak melihat indikasi kuat bahwa jeda tersebut telah mengubah hasil pertandingan selama turnamen.
Wenger menekankan bahwa FIFA mempunyai tanggung jawab kepada masyarakat yang menyaksikan sepak bola. Oleh sebab itu, keputusan mengenai kelanjutan aturan tersebut baru akan ditetapkan setelah seluruh pelaksanaan Piala Dunia 2026 dianalisis.
"Kadang-kadang orang tidak menyukainya. Kami harus menganalisis dampaknya setelah Pia]la Dunia,” kata Wenger.
FIFA sebelumnya menetapkan jeda minum selama tiga menit pada sekitar menit ke-22 di setiap babak. Kebijakan itu diberlakukan dalam seluruh pertandingan tanpa mempertimbangkan suhu, cuaca, atap stadion, maupun keberadaan sistem pendingin udara.
Berbeda dengan Respons Positif Aturan Pemain Cedera
Sikap hati-hati Wenger terhadap hydration break berbeda dengan penilaiannya atas sejumlah peraturan baru lain yang diuji selama Piala Dunia 2026.
Salah satunya adalah ketentuan yang mewajibkan pemain meninggalkan lapangan selama satu menit setelah menerima pemeriksaan atau perawatan medis.
Aturan tersebut diterapkan untuk mengurangi penghentian permainan yang tidak diperlukan sekaligus mencegah pemain menggunakan alasan cedera untuk membuang waktu.
FIFA menyebut jumlah intervensi medis mengalami penurunan. Dalam paparan Technical Study Group, rata-rata intervensi medis disebut turun dari sekitar 2,3 kali per pertandingan pada Piala Dunia 2022 menjadi 1,6 kali dalam turnamen 2026.
Kepala Wasit FIFA Pierluigi Collina juga menilai sejumlah langkah pencegahan pembuangan waktu, termasuk kewajiban meninggalkan lapangan setelah perawatan, berjalan efektif. FIFA mencatat semakin sedikit pemain yang membutuhkan intervensi tim medis selama pertandingan.
Wenger menilai aturan itu turut mengurangi rasa frustrasi penonton ketika melihat seorang pemain terbaring cukup lama meskipun tidak mengalami cedera serius.
Ia mengatakan banyak pihak memberikan respons positif terhadap aturan satu menit di luar lapangan tersebut. Sebaliknya, penerimaan terhadap hydration break masih jauh dari kata bulat.
Jeda Minum Dipertanyakan di Stadion Beratap
Kritik paling tajam muncul ketika jeda minum tetap dilakukan dalam pertandingan yang berlangsung di stadion beratap, berpendingin udara, atau berada dalam kondisi cuaca sejuk.
Wenger mengakui penonton tidak senang melihat pertandingan dihentikan dalam situasi tersebut. Namun, keputusan awal FIFA adalah menerapkan aturan yang sama kepada seluruh peserta demi menjaga konsistensi kompetisi.
Ia menilai hydration break memang dibutuhkan secara medis dalam sejumlah pertandingan yang berlangsung di tengah suhu ekstrem. Masalahnya, kondisi di setiap kota tuan rumah sangat berbeda.
Piala Dunia 2026 digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Sebagian pertandingan berlangsung dalam suhu panas yang dapat mengancam kesehatan pemain, sedangkan laga lainnya dimainkan di stadion tertutup atau kota dengan temperatur jauh lebih rendah.
Pelatih Spanyol Luis de la Fuente dan kapten Belanda Virgil van Dijk termasuk pihak yang memahami pentingnya jeda minum dalam cuaca panas. Namun, keduanya mempertanyakan penerapannya secara seragam ketika kondisi stadion sejuk atau tertutup.
Pelatih Inggris Thomas Tuchel bahkan menilai jeda tersebut lebih banyak memengaruhi ritme pertandingan daripada yang diperkirakan sebelumnya. Pelatih Uruguay Marcelo Bielsa juga melontarkan kritik keras karena aturan itu dinilai mengubah karakter sepak bola.
Laga Mesir kontra Iran Tetap Dihentikan dalam Cuaca Dingin
Salah satu kejadian yang memancing reaksi penonton berlangsung ketika Mesir menghadapi Iran pada fase grup di Seattle.
Saat pertandingan tersebut dimainkan, temperatur udara berada di kisaran 16 derajat Celsius atau sekitar 60 derajat Fahrenheit. Meskipun cuaca relatif dingin, pemain dari kedua tim tetap diwajibkan berhenti selama tiga menit pada setiap babak.
Sebelum pertandingan dimulai, seorang pendukung Mesir bernama Roger Antoine bahkan menyebut penerapan jeda minum dalam kondisi dingin akan terasa menggelikan.
Peristiwa tersebut memperkuat kritik bahwa aturan seharusnya tidak diterapkan secara kaku. Sebagian penggemar mendukung jeda ketika pemain menghadapi panas ekstrem, tetapi menganggapnya tidak relevan ketika pertandingan berlangsung dalam kondisi nyaman.
Aturan Lama Memberikan Keputusan kepada Wasit
Sebelum Piala Dunia 2026, wasit sebenarnya sudah dapat memberikan jeda minum atau jeda pendinginan dalam pertandingan yang berlangsung pada suhu tinggi.
Perbedaannya terletak pada sifat penerapannya. Keputusan sebelumnya ditentukan berdasarkan kondisi lapangan dan penilaian perangkat pertandingan.
Jeda tersebut juga berlangsung lebih singkat, sekitar 90 detik. Pada Piala Dunia 2026, penghentian selama tiga menit diwajibkan dalam setiap pertandingan, tanpa pengecualian berdasarkan kondisi cuaca.
FIFA menjelaskan kebijakan baru tersebut sebagai bagian dari komitmen melindungi kesehatan pemain. Organisasi itu juga menyebut keseragaman aturan diperlukan agar seluruh tim menerima kondisi pertandingan yang setara.
Fans Curiga Hydration Break jadi Ruang Iklan
Di luar alasan medis, muncul kecurigaan bahwa *hydration break* memberikan keuntungan komersial kepada penyiar.
Sebagian stasiun televisi tetap menampilkan situasi di lapangan selama jeda berlangsung. Namun, sejumlah penyiar memanfaatkan penghentian tersebut untuk menayangkan iklan.
Situasi itu membuat sebagian pendukung menilai jeda minum bukan hanya berkaitan dengan kesehatan pemain. Mereka menduga FIFA sedang mendorong sepak bola menuju pola olahraga Amerika yang mempunyai banyak penghentian untuk kepentingan iklan televisi.
Kritik semakin kuat karena jeda wajib tersebut secara tidak langsung membagi satu pertandingan menjadi empat segmen.
Pada laga pembuka Amerika Serikat melawan Paraguay di Los Angeles, seorang petugas stadion bahkan menyebut bagian-bagian pertandingan tersebut sebagai “kuarter”. Istilah itu lazim digunakan dalam bola basket dan beberapa olahraga Amerika lainnya, bukan sepak bola.
Sejumlah penggemar, pemain, dan pelatih kemudian menjulukinya sebagai commercial break atau jeda iklan. Di Amerika Serikat, beberapa siaran televisi memang langsung beralih menuju iklan ketika wasit menghentikan pertandingan.
FIFA sebelumnya membantah bahwa keuntungan komersial menjadi alasan utama penerapan aturan tersebut. Presiden FIFA Gianni Infantino menyatakan perlindungan pemain dari suhu panas tetap menjadi pertimbangan utama.
Hydration Break Dinilai Mengubah Momentum Pertandingan
Selain persoalan iklan, dampak terhadap aliran permainan menjadi keluhan utama.
Jeda selama tiga menit memberikan waktu kepada pemain untuk memulihkan kondisi fisik. Namun, pelatih juga dapat memanfaatkannya untuk memberikan instruksi, memperbaiki formasi, atau mengubah strategi.
Bagi tim yang sedang tertekan, jeda tersebut menjadi kesempatan untuk mengatur ulang permainan. Sebaliknya, tim yang sedang mendominasi berisiko kehilangan ritme dan tekanan yang telah dibangun.
Beberapa tim bahkan kebobolan tidak lama setelah pertandingan dilanjutkan. Fenomena itu memunculkan anggapan bahwa hydration break dapat menjadi titik balik yang tidak alami dalam sebuah laga.
Analisis menggunakan data pertandingan fase grup juga menunjukkan perubahan momentum terjadi dalam sejumlah pertandingan setelah jeda pertama maupun kedua. Meskipun temuan tersebut belum membuktikan hubungan sebab akibat, pola itu memperkuat kekhawatiran bahwa penghentian permainan dapat mengubah dinamika taktik.
Seorang penggemar sepak bola di Washington DC, Cesar Espino, menilai perubahan momentum setelah jeda terlihat cukup jelas melalui jalannya pertandingan dan angka-angka yang muncul.
Menurutnya, sepak bola selama ratusan tahun dibangun melalui dua babak yang mengalir. Penghentian wajib di tengah babak dianggap mengganggu karakter tersebut.
FIFA Janji Lakukan Evaluasi Menyeluruh
Wenger belum memberikan sinyal apakah FIFA lebih condong mempertahankan atau menghapus hydration break.
Ia hanya memastikan evaluasi mendalam akan dilakukan setelah Piala Dunia 2026 selesai. Analisis tersebut akan mencakup manfaat medis, pengalaman pemain, pengaruh terhadap permainan, serta respons penonton.
FIFA menghadapi pilihan yang tidak sederhana. Perlindungan pemain dari cuaca panas tetap menjadi kebutuhan penting, terutama ketika pertandingan diselenggarakan dalam suhu ekstrem.
Namun, penerapan aturan yang sama dalam stadion sejuk atau berpendingin udara telah menimbulkan kesan bahwa penghentian itu tidak selalu mempunyai dasar medis yang kuat.
“Kami belum mencapai kesimpulan. Namun, saya berjanji kami akan mendapatkannya,” ujar Wenger.
Keputusan akhir FIFA akan menentukan apakah hydration break menjadi bagian permanen dari sepak bola internasional atau hanya meninggalkan jejak kontroversial dalam Piala Dunia 2026. (aljazeera.com)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(KAH)





