Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp17.850–Rp17.950 per dolar AS sepekan ke depan, dengan arah pergerakan tetap dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik global, arus modal asing, serta ekspektasi terhadap kebijakan Bank Indonesia.
Berdasarkan data analisis Doo Financial Futures, rupiah ditutup melemah tipis sebesar 0,36% ke level Rp17.921 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (17/7/2026).
Selain rupiah terhadap dolar AS, penguatan terjadi terhadap sejumlah mata uang Asia lainnya. Penguatan terbesar terhadap dolar AS terjadi untuk peso Filipina yang terapresiasi sebesar 0,06%, diikuti yen Jepang dan rupee India yang menguat sebesar 0,01%.
Sebaliknya, mayoritas mata uang Asia lainnya justru terpantau melemah. Pelemahan terbesar terhadap dolar AS terjadi untuk mata uang won Korea sebesar 0,35%, diikuti oleh ringgit Malaysia sebesar 0,23%, disusul baht Thailand yang melemah sebesar 0,09%.
Selanjutnya, yuan China melemah 0,07%, dolar Singapura terhadap dolar AS juga melemah sebesar 0,02%, dan dolar Hong Kong melemah 0,01%.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan nilai tukar rupiah ditutup menguat signifikan didorong oleh kembalinya aliran dana asing ke pasar keuangan domestik, baik di instrumen obligasi maupun pasar saham, di tengah kondisi pasar global yang masih dibayangi ketidakpastian.
Menurutnya arus masuk dana asing menjadi faktor utama yang menopang penguatan rupiah. Selain itu, sentimen domestik yang terus membaik juga mulai memberikan dukungan yang lebih kuat terhadap pergerakan mata uang nasional.
"Rupiah ditutup menguat cukup tajam oleh dukungan kembalinya dana asing baik di obligasi maupun ekuitas," ujar Lukman.
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang berlangsung bervariasi, namun mayoritas masih mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Sementara itu, pasar saham Asia cenderung terkoreksi tajam akibat aksi jual pada saham-saham sektor semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI).
Di tengah tekanan tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bersama bursa Malaysia (KLSE) menjadi pengecualian dengan berhasil mencatatkan penguatan.
Di sisi lain, indeks dolar AS dan harga minyak mentah dunia terpantau bergerak sedikit melemah. Meski demikian, perhatian pelaku pasar global masih tertuju pada perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi meningkatkan volatilitas di pasar keuangan.
Untuk pasar domestik, Lukman menilai prospek rupiah masih cukup positif. Selain ditopang arus modal asing, investor juga mulai mengantisipasi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pekan depan.
Pasar memperkirakan Bank Indonesia akan kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus meredam tekanan eksternal.





