TABLOIDBINTANG.COM - Aldi Taher membagikan kisah perjuangannya melawan kanker limfoma yang pernah mengubah hidupnya.
Dalam podcast bersama Raditya Dika dan dokter Gia Pratama, Aldi mengungkap bahwa sebelum didiagnosis mengidap kanker, ia sempat memiliki massa berukuran 9x6 sentimeter di area mediastinum, yakni rongga di antara kedua paru-paru.
Ukuran massa tersebut ternyata cukup besar hingga menekan paru-parunya dan membuat Aldi kesulitan bernapas.
"Aku pernah ada massa di samping mediastinum, segede 9x6 cm," ujar Aldi.
Mendengar pengakuan itu, dr Gia langsung menanggapi, "Wah gede dong."
Aldi kemudian menjelaskan bahwa letak massa tersebut berada di samping paru-paru sehingga mengganggu fungsi pernapasannya.
"Di samping paru-paru. Jadi itu udah neken paru-paru, makanya saya suka napas harus busungin dada dulu baru nyampe napasnya. Itu kejadian delapan tahun lalu sebelum saya didiagnosis kanker limfoma," ungkap Aldi.
Berawal dari Benjolan di Leher
Aldi mengaku awalnya tidak menyadari ada masalah serius karena massa tersebut tidak tampak dari luar. Ia baru merasa ada yang tidak biasa saat merasakan ganjalan di area leher.
"Awalnya saya nengok, di leher itu kayak ada ganjelan, kayak salah bantal. Kok aneh ya, nggak enak, kayak ada sesuatu," tutur Aldi.
Karena penasaran, ia kemudian meraba bagian lehernya hingga menemukan benjolan. Dokter akhirnya melakukan tindakan biopsi untuk memastikan penyebabnya.
"Nah akhirnya dibelek, diambil buat dicek di patologi anatomi. Dari situ ternyata ada jenis kanker limfoma non-Hodgkin," ungkap Aldi.
Menanggapi hal itu, dr Gia menjelaskan bahwa limfoma non-Hodgkin termasuk jenis kanker yang cenderung lebih agresif.
"Itu lebih gawat, lebih ganas," kata dr Gia.
Jalani Enam Kali Kemoterapi
Raditya Dika kemudian menanyakan kondisi Aldi saat ini. Aldi memastikan dirinya telah dinyatakan bersih dari kanker.
"Alhamdulillah," jawab Aldi.
Aldi mengaku momen didiagnosis kanker menjadi salah satu fase paling berat dalam hidupnya.
Menurutnya, siapa pun pasti akan merasa sedih ketika mengetahui dirinya mengidap penyakit serius.
"Waktu didiagnosis kanker itu pasti runtuh ya semuanya. Manusia mana pun, latar belakang apa pun, pasti sedih kalau didiagnosis kanker," ujarnya.
Namun, Aldi memilih untuk tidak terus-menerus larut dalam kesedihan. Ia mengatakan dukungan spiritual membantunya bangkit selama menjalani pengobatan.
"Saya bilang ke teman-teman yang diuji sakit, mau cuci darah, kanker, tifus, demam berdarah, pasti sedih. Tapi jangan lama-lama. Saya balik pikiran saya. Alhamdulillah efek baca Al-Qur'an, akhirnya saya berpikir begitu dan akhirnya sembuh," tutur Aldi.
Ia juga mengungkap telah menjalani enam kali kemoterapi. Sementara tindakan operasi hanya dilakukan untuk mengambil sampel jaringan melalui biopsi karena lokasi massa berada di mediastinum yang dinilai berisiko tinggi jika diangkat.
"Operasi itu hanya untuk biopsi, karena terlalu dekat mediastinum, terlalu bahaya," jelas Aldi.




