JAKARTA, KOMPAS — Lima pekan jelang Muktamar Ke-35, bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama atau PBNU mulai memanas seiring mengalirnya dukungan bagi sejumlah kandidat di berbagai daerah. PBNU mengingatkan agar aksi dukung-mendukung itu tidak sampai mencederai marwah muktamar yang berpegang pada tradisi musyawarah serta istikharah para kiai.
Aksi dukung-mendukung salah satunya muncul bagi KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah. Sebanyak 22 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di wilayah Jawa Tengah menyatakan dukungan kepada Gus Yusuf agar maju dalam bursa pemilihan calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar Ke-35.
Aspirasi dukungan tersebut disampaikan dalam Lamaran Agung Maklumat Dukungan PCNU Wilayah Jawa Tengah kepada KH Muhammad Yusuf Chudlori di Pondok Pesantren API Tegalrejo, Sabtu (18/7/2026) malam. Pertemuan tersebut turut dihadiri oleh Gus Yusuf, para masayikh, serta jajaran pengurus Himpunan Alumni Santri Lirboyo dan Itihadul Mutakhorrijin Al-Falah Ploso (IMAP).
"Ketika menerima amanah atau dukungan dari PCNU se-Jawa Tengah, baik secara langsung maupun tertulis, ini menjadi modal awal bagi saya. Kalau dalam bahasa kita, ini adalah miqot atau titik berangkat menuju Muktamar. Tentu, dukungan ini akan segera kami tindak lanjuti dengan melakukan silaturahmi ke PWNU, PCNU, hingga ke luar Jawa," ujar Gus Yusuf saat dihubungi dari Jakarta, Minggu (19/7/2026).
Gus Yusuf pun optimistis dapat memenuhi syarat dukungan minimal, yakni 99 suara dari peserta muktamar. Keyakinan tersebut juga didasarkan pada komunikasi intensif yang telah dibangun melalui jaringan alumni pesantren besar, seperti Lirboyo, Ploso, dan Tegalrejo, yang pengurusnya tersebar di seluruh pelosok Tanah Air.
Di luar dukungan teknis tersebut, ia merasa mendapat kekuatan tambahan dari doa restu para masyayikh yang merasa prihatin atas berbagai konflik yang terjadi belakangan ini. Menurutnya, pesan utama para kiai adalah agar ke depan NU dapat kembali solid dan fokus pada agenda pendidikan, pelayanan masyarakat, serta pengembangan ekonomi, bukan justru larut dalam perselisihan.
"Insya Allah kami akan segera melangkah. Bismillah, saya siap hadir di Muktamar Tambakberas," tutur Gus Yusuf.
Selain Gus Yusuf, nama-nama lain yang muncul dalam bursa pemilihan Ketua Umum PBNU adalah petahana Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. Rencana untuk maju kembali dalam bursa calon Ketua Umum PBNU disampaikan Gus Yahya dalam konferensi pers di gedung PBNU, Jakarta, Selasa (14/7/2026). Keputusan maju kembali didasarkan masih banyak program strategis yang belum tuntas terlaksana dalam periode pertamanya memimpin PBNU.
”Saya memang hendak mencalonkan lagi karena pertama saya ingin menyelesaikan agenda-agenda yang sejak awal sudah saya bangun dan saya sekarang lebih mengerti tentang bagaimana menyempurnakan capaian-capaian yang sudah berhasil diperoleh ini. Bagaimana menyempurnakannya sehingga bisa sungguh-sungguh dirasakan manfaatnya secara nyata oleh warga Nahdlatul Ulama,” ungkap Gus Yahya kala itu.
Muktamar NU Ke-35 menurut rencana digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur pada 27-31 Agustus 2026. Agenda utama muktamar adalah pemilihan Rais Aam yang diikuti dengan pemilihan Ketua Umum PBNU periode 2026-2031.
Selain Gus Yahya dan Gus Yusuf, sejumlah nama lain juga masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU. Mereka di antaranya adalah Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa serta Katib Aam PBNU KH Abdul Ghofar Rozin, serta Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin). Selain itu, terdapat pula tokoh muda NU KH Abdussalam Shohib (Gus Salam) serta Menteri Agama KH Nasaruddin Umar yang namanya disebut-sebut patut untuk menduduki kursi pertama di Tanfidziyah PBNU.
Serial Artikel
Selain Gus Yahya, Siapa Lagi yang Mengincar Kursi Ketua Umum PBNU?
Muktamar NU dihelat akhir Agustus 2026. Jika melirik sejarah sejak 1926, pucuk kepemimpinan NU selalu dinamis dengan mayoritas ketumnya hanya menjabat satu periode.
Ketua Panitia Pelaksana (OC) Muktamar ke-35 NU Saifullah Yusuf mengatakan, fenomena kandidat yang muncul jelang Muktamar kali ini cenderung berbeda dari periode sebelumnya. Jika biasanya nama-nama calon akan mengerucut mendekati Muktamar, kali ini jumlah kandidat yang mencuat justru terus bertambah.
"Biasanya makin dekat makin mengerucut, tapi sekarang malah makin banyak. Ya, itu artinya menandakan NU ini besar, kadernya banyak, dan semuanya boleh berperan di dalam Muktamar," ungkap pria yang akrab dipanggil Gus Ipul itu.
Meskipun demikian, Gus Ipul mengingatkan bahwa setiap kandidat nantinya tetap harus memenuhi syarat dukungan minimal untuk bisa melaju ke tahap pemilihan. Jika berkaca pada Muktamar Ke-34 di Lampung, aturan yang berlaku adalah minimal 99 suara. Namun, tidak menutup kemungkinan aturan tersebut akan dievaluasi kembali dalam forum muktamar mendatang.
"Soal nanti batas dukungannya berapa, apakah tetap 99, dikurangi, atau diubah, itu harus dibahas di Muktamar. Semuanya tergantung keputusan peserta nanti," katanya.
Menurut Gus Ipul, aturan dukungan minimal bagi calon ketua umum bisa saja berubah di Muktamar Tambakberas. Angkanya bisa bertambah maupun berkurang sesuai kesepakatan peserta. Termasuk, adanya kemungkinan perubahan metode pemilihan ketua umum dari sistem one man one vote menjadi dipilih oleh AHWA (Ahlul Halli wal Aqdi).
Perubahan aturan yang disepakati nantinya bisa langsung diterapkan untuk memandu proses pemilihan di muktamar kali ini, atau menjadi landasan mekanisme pemilihan pada periode muktamar mendatang. Semua tergantung pada dinamika dan keputusan peserta di forum nanti.
"Intinya, kita ikuti saja prosesnya nanti seperti apa, karena di muktamar itu semua serba mungkin," tutur Gus Ipul.
Terkait aksi dukung-mendukung yang mulai mengemuka, Gus Ipul menegaskan bahwa PBNU mempersilakan setiap pihak untuk memberikan dukungan kepada kandidat mana pun. Ia menegaskan bahwa penggalangan dukungan tersebut merupakan hak sepenuhnya dari pengurus cabang maupun wilayah.
Namun, ia mengingatkan agar dinamika dukungan tersebut tidak mendominasi rangkaian muktamar. Pasalnya, dukungan yang mengalir saat ini tidak serta-merta mencerminkan hasil akhir pengambilan keputusan, mengingat NU memiliki banyak kader potensial yang mampu mengemban amanah untuk memimpin jam’iyah.
Gus Ipul, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PBNU, berharap seluruh pihak tetap menjaga esensi muktamar dengan meneladani nilai-nilai perjuangan di Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan, sebab pesantren tersebut didirikan oleh salah satu pendiri NU, KH Wahab Chasbullah.
"Karena Muktamar ini bertempat di kediaman pendiri, tentu kita berharap berpedoman pada nilai-nilai musyawarah dan istikharah yang diwariskan para muassis (pendiri). Pemilihan Ketua Umum PBNU itu tidak hanya sekadar voting atau rebutan suara, tetapi ada proses istikharah di dalamnya," ujarnya.
Di sisi lain, Gus Ipul membantah isu yang menyebutkan bahwa lokasi Muktamar di Tambakberas hanya untuk seremoni pembukaan, sementara proses pemilihan dipindah ke Surabaya. Ia meminta semua pihak untuk tidak menelan mentah-mentah informasi yang belum terverifikasi.
"Saya minta jangan percaya hoaks. Saya bingung berita itu muncul dari mana. Rapat sudah kami pimpin di Tambakberas dan pendataan pun sudah dilakukan," tegasnya.
Ia memastikan Tambakberas siap menjadi tuan rumah. Persiapan akomodasi untuk sekitar 3.000 peserta terus dimatangkan, termasuk memanfaatkan rumah warga sebagai penginapan cadangan. Dengan demikian, penyelenggaraan Muktamar tetap dipusatkan sepenuhnya di Tambakberas.
"Kepada peserta di tingkat cabang maupun wilayah, saya minta fokus saja mempersiapkan gagasan untuk Muktamar. Jangan percaya hoaks, ikuti saja informasi yang benar," pungkas Gus Ipul.





