Aroma kopi yang sedang digiling tercium keras di Alun-alun Surabaya, Kota Surabaya, Jawa Timur, Minggu (19/7/2026) siang. Aroma itu berasal dari salah satu stan yang ikut pameran Java Coffe and Flavors Fest (JCFF) 2026.
Sejumlah pengunjung nampak memenuhi stan yang sedang menggiling kopi tersebut. Aroma kopi yang sedang digiling memang menggoda pengunjung untuk mendatanginya. Kalau beruntung, mereka bisa merasakan seduhan kopi yang masih segar tersebut. Selain stan tersebut, pengunjung lain juga terlihat memilih kopi yang dijual di sejumlah stan festival tersebut.
JCFF 2026 digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur. Acara ini menjadi ajang promosi berbagai komoditas unggulan Pulau Jawa, mulai dari kopi, teh, cokelat, hingga rempah-rempah. Selain itu festival ini juga sekaligus sarana mempertemukan pelaku UMKM, petani, roaster, pelaku industri, dan masyarakat dalam satu ekosistem yang terintegrasi.
Mengusung tema “Kopi Jawa : Merajut Rasa Lokal Indonesia di tengah Tantangan Dunia Bisnis.” JCFF 2026 menghadirkan beragam kegiatan seperti pameran produk UMKM, business matching, pelatihan dan workshop kopi, hingga kompetisi yang diharapkan mampu memperluas akses pasar bagi pelaku usaha. Festival ini juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan nilai, sejarah, dan filosofi kopi Jawa kepada masyarakat luas.
Bagi peserta acara ini menjadi kesempatan berharga untuk mempromosikan produknya. Namun, bagi masyarakat, acara ini dimanfaatkan untuk bisa membeli kopi, teh, dan rempah kualitas tinggi dari berbagai daerah tanpa perlu repot datang ke masing-masing daerah tersebut.
Menyeduh kopi. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)
Biji kopi yang dijual. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)
Daftar harga kopi. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)
Salah satu pengunjung, Ade Widariyanto, mengungkapkan bahwa dirinya tidak bisa lepas dari kopi. “Bagi saya kopi menimbulkan efek menenangkan. Awalnya saya hanya penikmat kopi, tetapi sekarang malah bergelut di industri ini,” ujarnya yang memiliki warung kopi Kluwung Bean and Vanilla di Kabupaten Mojokerto ini.
“Saat ini dunia perkopian sedang ramai-ramainya. Namun tantangannya saat ini adalah banyak yang membuka warung, khususnya yang muda-muda hanya karena ikut-ikuatn. Akhirnya banyak yang tidak menjaga rasa kopinya. Asal laku,” ujar Ade yang saat ini sudah mengekspor kopi ke beberapa negara.
Selain kopi, sejumlah pelaku usaha teh juga ikut berpameran. Salah satu pengusaha yang ikut adalah Ketut Sunyoto dengan produknya yang bernama Teh Tubruk Mbah Djie dari Tuluagung.
Ketut mengatakan teh lokal yang ditanam di Penampihan, Desa Geger, Kecamatan Sendang, Tulungagung sempat berjaya di era kolonial. Namun karena alih fungsi lahan maka lahan teh yang ada di desanya tersebut semakin menyempit. Kini memanfaatkan lahan yang tersisa, Ketut memperkenalkan kembali pamor teh penampihan ke luar desa.
“Dulu saya keliling warung-warung untuk promosi, dan ternyata banyak yang suka. Akhirnya saya fokus mengembangkan teh tersebut agar lebih bisa dinikmati khalayak lebih luas,” ujar Ketut.
Ketut bekerja sama dengan petani teh Penampihan untuk mengenalkan teh lokal Tulungagung ke kalangan anak muda. Terutama penyeduhan teh tubruk, yakni daun teh kering yang dimasukkan dalam gelas, lalu disiram air mendidih.
Berbagai jenis daun teh yang dijual. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)
Teh untuk pengunjung. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)
Memilih produk teh. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)
”Satu gelas kecil cukup 3 gram teh, lalu tuangkan air panas pada suhu sekitar 75 derajat celcius untuk teh hijau, dan 90 derajat celcius untuk teh merah” papar Ketut berbagi tips menyeduh teh agar rasanya nikmat.
Ia membeli teh langsung dari petani, kemudian dipilah berdasarkan grade, seperti premium, standar, dan lainnya. Keahlian Ketut mengenai pengolahan teh bertambah setelah Ketut bergabung dengan komunitas pecinta teh.
”Untuk grade premium, dipilih dari pucuk daun teh saja, yakni ukuran yang paling kecil,” terangnya.
Untuk rasa teh Penampihan yang grade premium, lebih terasa sepet. ”Bagi yang baru minum, mungkin aneh karena sepet, tapi itulah rasa teh yang ideal,” terang Ketut.
Di sisi lain, Ketut menilai sebagian anak muda tidak mengetahui bahwa Tulungagung memiliki kebun teh. Untuk itu, ia berupaya mengenalkan teh Tulungagung secara langsung.
Bagi penyelenggara, JCFF 2026 bertujuan mendorong kopi, rempah-rempah, teh, dan cokelat asal Pulau Jawa menjadi komoditas unggulan nasional yang memiliki daya saing di pasar internasional.





