Pameran “Bahasa Langit, Luka di Tapak”: Angkat Dampak Hilirisasi Nikel terhadap Ruang Hidup Warga

harianfajar
20 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Di tengah gencarnya narasi hilirisasi nikel dan transisi energi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi nasional, sebuah pameran foto di Makassar menghadirkan sudut pandang berbeda. Melalui karya-karya visual, publik diajak melihat dampak langsung industri ekstraktif terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat di sekitar kawasan tambang dan smelter.

Pameran bertajuk “Dari Bahasa Langit Menjadi Luka di Tapak: Jejak Ekstraksi pada Tanah, Air, dan Tubuh Warga” digelar di Alternative Coffee & Space 2.0, Makassar, pada 15 Juli 2026. Kegiatan ini menampilkan sekitar 52 foto dokumenter dari Bantaeng, Sorowako, Morowali, Morowali Utara, Pulau Wawonii, dan Pulau Obi.

Foto-foto tersebut menggambarkan perubahan bentang alam akibat pertambangan, pembukaan hutan, aktivitas smelter, kondisi sumber air dan pesisir, hingga kehidupan masyarakat yang terdampak langsung oleh ekspansi industri nikel.

Pameran diselenggarakan sebagai ruang dialog yang mempertemukan dokumentasi visual, kesaksian warga, dan analisis kritis mengenai implementasi kebijakan hilirisasi serta transisi energi di lapangan.

Penyelenggara menilai, selama ini hilirisasi lebih banyak dibahas dalam konteks investasi, kendaraan listrik, mineral kritis, dan industri hijau. Sementara itu, masyarakat di wilayah tambang menghadapi realitas berbeda berupa perubahan ruang hidup, pencemaran lingkungan, hingga ancaman terhadap sumber penghidupan.

Istilah “bahasa langit” digunakan untuk menggambarkan narasi kebijakan, investasi, dan teknologi yang menjanjikan masa depan rendah karbon. Sebaliknya, “luka di tapak” merujuk pada pengalaman nyata masyarakat yang menghadapi dampak langsung dari aktivitas pertambangan dan pengolahan nikel.

Selain menampilkan kerusakan lingkungan seperti bukit yang dipotong, sungai yang berubah warna, sedimentasi di pesisir, dan kawasan permukiman yang berdampingan dengan cerobong smelter, pameran juga memperlihatkan perjuangan warga mempertahankan ruang hidup mereka.

Warga Sampaikan Kesaksian

Dalam sesi diskusi, sejumlah warga dari daerah terdampak membagikan pengalaman mereka.

Nengsi, warga Borong Loe, Kabupaten Bantaeng, menceritakan perubahan kampungnya sejak berkembangnya kawasan industri. Menurutnya, debu, kebisingan, serta kedekatan permukiman dengan kawasan smelter kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Amirullah dari Luwu Timur mengangkat persoalan kebocoran pipa minyak MFO yang berdampak pada wilayah sekitar Danau Towuti. Ia menegaskan pemulihan lingkungan harus dibuktikan melalui kondisi tanah, air, dan penghidupan masyarakat, bukan sekadar pernyataan perusahaan.

Petani asal Rante Angin, Loeha Raya, Ali Kamri, menyampaikan kekhawatirannya terhadap rencana perluasan pertambangan yang dinilai mengancam kebun merica dan sumber air masyarakat.

“Kami berjuang untuk tanah, air, dan masa depan anak-anak kami. Transisi energi terlalu asing buat kami,” ujarnya.

Masalah Perlindungan Warga

Junaedi Hambali dari Balang Institute mengatakan konflik pertambangan sering kali bermula sejak proses perizinan dan pemetaan wilayah, jauh sebelum aktivitas tambang dimulai.

Sementara Azis Dumpa dari LBH Makassar menyoroti masih adanya warga yang menghadapi tekanan hukum ketika mempertahankan tanah dan lingkungan mereka. Menurutnya, negara harus memastikan hukum tidak menjadi alat untuk membungkam keberatan masyarakat.

Pameran juga mengkritisi konsep partisipasi publik dalam berbagai forum transisi energi. Penyelenggara menilai kehadiran masyarakat dalam forum belum tentu berarti mereka memiliki pengaruh terhadap pengambilan keputusan.

Karena itu, masyarakat harus memperoleh informasi yang memadai, dilibatkan sejak awal penyusunan agenda, serta memiliki ruang untuk menerima, mengubah, atau menolak rencana yang akan berdampak pada kehidupan mereka.

Melalui pameran ini, penyelenggara mengajak publik menilai keberhasilan hilirisasi dan transisi energi tidak hanya dari besarnya investasi, jumlah smelter, maupun nilai ekspor, tetapi juga dari kualitas lingkungan, keselamatan pekerja, perlindungan sumber penghidupan masyarakat, keterbukaan informasi, pemulihan kerusakan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Pameran ini disebut sebagai antitesis terhadap narasi yang berkembang dalam Eastern Indonesia International Conference on Energy Transition and Critical Mineral (EIIC) 2026, yang berlangsung di Makassar pada 14–16 Juli 2026.

Menurut penyelenggara, suara masyarakat yang hidup di sekitar tambang dan smelter harus menjadi dasar dalam menentukan apakah suatu proyek layak dilanjutkan, diperbaiki, dipulihkan, atau dihentikan.

Pameran menghadirkan masyarakat terdampak, fotografer, jurnalis, mahasiswa, akademisi, organisasi masyarakat sipil, komunitas seni, pegiat lingkungan, serta masyarakat umum. Karya-karya yang dipamerkan merupakan hasil dokumentasi fotografer Ikbal Lubis, Qalbi, Nopri, Adlun, dan Rizki. (*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ngantuk Usai Nobar Final Piala Dunia, Pemotor Kecelakaan di Flyover Ciputat
• 5 jam laluokezone.com
thumb
Begini Reaksi Lionel Messi Soal Foto Mandikan Lamine Yamal saat Masih Bayi, Kini Jadi Rival di Final Piala Dunia 2026!
• 20 jam lalugrid.id
thumb
Kemkomdigi gelar nobar final Piala Dunia 2026 dua lokasi di Medan
• 5 jam laluantaranews.com
thumb
Enggak Asal Pakai, Pelat Nomor Cantik Wajib Bayar 5 Tahun Sekali
• 1 jam lalumedcom.id
thumb
‎Final Piala Dunia 2026: Gol Nico Williams Dianulir Wasit, Begini Kronologinya
• 10 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.