Aspirasi: Suara Konsumen soal Beras Premium

kompas.id
1 hari lalu
Cover Berita

Efrosina Astragati (38), warga Depok, Jawa Barat

Saya dan keluarga selalu membeli beras premium kemasan 5 kilogram sebanyak dua hingga tiga kali per bulan. Namun, belakangan ini, saya kesulitan mencari beras premium di minimarket, supermarket, dan hipermarket.

Kalaupun ada, jumlahnya terbatas dan pembeliannya dibatasi. Bahkan, stoknya sering kali kosong. Mau tidak mau, saya membeli beras bervitamin (fortifikasi) yang tersedia meskipun harganya lebih mahal.

Di tengah kondisi ekonomi saat ini, saya merasa beras premium tetap dibutuhkan. Pasalnya, harganya terjangkau dan kualitasnya terjamin. (HEN)

Agustin Setyo Wardani, ibu satu anak dan karyawan swasta di Jakarta

Saya tidak mengalami kesulitan saat menemukan dan membeli beras premium. Pembelian saya lakukan di salah satu toko daging yang memang sudah menjadi langganan. Dari pengamatan saya, stok beras premium yang dipajang di rak masih terlihat cukup banyak, jumlahnya lebih kurang sama seperti bulan lalu. Oleh karena itu, saya tidak melihat adanya tanda-tanda kelangkaan atau pembatasan penjualan.

Dari sisi harga pun belum ada perubahan dibandingkan dengan bulan lalu. Saya masih membeli beras premium dengan harga sekitar Rp 74.500 per kemasan. Kalau dibandingkan dengan tahun lalu memang terasa ada kenaikan. Seingat saya, harga beras premium saat itu masih berkisar Rp 65.000 hingga Rp70.000 per kemasan. Jadi, meskipun saat ini ketersediaan beras masih aman dan pembelian tidak menemui kendala, harga yang saya bayarkan memang sudah lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. (MED)

Mikratna Dewi (40), guru PAUD, tinggal di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat

Belakangan ini, saya dan para ibu rumah tangga di lingkungan rumah memang kesulitan mencari beras premium di ritel modern. Stoknya sering kosong atau dibatasi. Kalaupun ada di pasar tradisional, harganya sudah melonjak tinggi di atas harga eceran tertinggi normal, berkisar Rp 16.000 hingga Rp 18.000 per kilogram. Sebagai alternatif, mau tidak mau saya beralih membeli beras medium atau mencampurnya agar nasi tetap pulen meski dari segi kualitas dan kebersihan tentu berbeda.

Bagi keluarga kami, beras premium sebenarnya masih sangat dibutuhkan, bukan untuk gaya-gayaan, melainkan karena kualitasnya yang lebih tahan lama dan tidak mudah basi. Pemerintah perlu memastikan pasokan beras premium ini kembali normal di pasaran dengan harga yang rasional. Kami tidak masalah dengan berbagai program beras bantuan, tetapi ketersediaan beras premium di pasar reguler jangan sampai dikorbankan karena itu tetap menjadi kebutuhan pokok harian kami. (FAJ)

Imeliana (57), warga Kota Pontianak, Kalimantan Barat

Sebagai negara penghasil beras, lumbung beras, hingga negara agraris, rasanya agak aneh jika harga beras di pasar sangat mahal. Ini tentu tidak masuk akal. Kok, bisa?

Kita warga tentu keberatan dengan lonjakan harga beras dan pangan semuanya. Harga beras, contohnya, di pasar atau di warung itu sudah sampai rata-rata Rp 17.000 per kilogram. Itu beras biasa (bukan premium). Itu harganya terlalu tinggi.

Di atas itu (beras premium), lebih mahal pasti. Saya belinya, ya, beras biasa karena itu yang paling banyak tersedia.

Makanan pokok (beras) untuk harian menjadi mahal sehingga ini menggerus uang rumah tangga. Ini tentu bisa jadi perhatian pemerintah. Bisa dengar suara masyarakat terkait kebutuhan pokok yang melonjak tinggi. (GIO)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kinerja Indeks Sektoral Juni 2026: Penurunan Membaik, Jasa Keuangan Peringkat Aman
• 21 jam laluidxchannel.com
thumb
Perbankan Pacu Kredit Baru, Proyeksi Pertumbuhan 2026 Melandai
• 22 jam lalubisnis.com
thumb
Bertahan di Zona Hijau, IHSG Sesi I Lanjut Menguat ke 6.228
• 22 jam laluidxchannel.com
thumb
Ungkap Dugaan Korupsi Proyek Pengadaan Batu Bara PLN, Polri Tetapkan 3 Orang Tersangka
• 18 jam lalurctiplus.com
thumb
Cekcok Berujung Ucapan Rasis Penjahit di Bali ke Pelanggan Berakhir Damai
• 22 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.