Dari dalam negeri perhatian pasar akan tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI), pertumbuhan kredit perbankan, serta data suplai uang M2.
IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pekan ini, 20-24 Juni 2026, diperkirakan bergerak dengan stimulus makroekonomi yang relatif terbatas.
Kondisi tersebut diproyeksikan bakal membuat fokus perhatian para pelaku pasar bergeser pada musim rilis laporan keuangan kuartalan para emiten.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi menilai rilis kinerja keuangan korporasi akan menjadi motor penggerak utama di pasar saham domestik.
“Hasil kinerja perusahaan diperkirakan akan menjadi penentu utama arah rotasi sektor maupun keberlanjutan aliran dana ke pasar saham domestik,” kata Imam dalam risetnya, Senin (20/7/2026).
Imam menambahkan, dari dalam negeri perhatian pasar akan tertuju pada keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI), pertumbuhan kredit perbankan, serta data suplai uang M2 (M2 Money Supply) untuk membaca kondisi likuiditas.
Sementara dari sentimen eksternal, investor akan mencermati rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) seperti ADP Employment Change, klaim pengangguran awal, lembar kerja The Fed, hingga data Loan Prime Rate China.
Secara teknikal, IHSG sukses melanjutkan tren kenaikan jangka pendek setelah pekan lalu ditutup menguat 1,10 persen ke posisi 6.175,54. Kenaikan ini membuat IHSG menembus indikator MA5 di level 6.085 yang kini beralih fungsi menjadi area support dinamis.
Momentum penguatan terpantau membaik dengan dominasi tekanan beli yang mulai mengungguli tekanan jual.
Meski demikian, IHSG saat ini menghadapi area penting karena berhadapan langsung dengan titik resistance MA50 di level 6.190. Level ini menjadi penentu apakah penguatan indeks hanya bersifat pemulihan sementara (technical rebound) atau mampu berlanjut menjadi pembalikan tren (trend reversal) ke arah penguatan jangka pendek.
“Apabila level 6.190 berhasil dilewati dengan volume transaksi yang meningkat, peluang IHSG untuk melanjutkan rally menuju area 6.380 akan semakin besar,” ujar Imam.
Sebaliknya, jika IHSG gagal menembus level 6.190, terdapat risiko terjadinya aksi ambil untung (profit taking).
Jika skenario penurunan ini terjadi, area 6.085 akan menjadi bantalan support pertama, disusul classic support kedua di level 5.987 jika tekanan jual kembali meningkat.
IHSG sendiri mencatatkan performa solid sepanjang pekan lalu dengan melonjak 4,24 persen. Penguatan mingguan terbesar dalam beberapa bulan terakhir ini disokong oleh melandainya inflasi AS serta keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang (sovereign credit rating) Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil.
Sisi fundamental dalam negeri juga diperkuat oleh ketahanan realisasi Investasi Asing Langsung (Foreign Direct Investment/FDI) pada kuartal II 2026 yang menorehkan rekor tertinggi sejarah sebesar Rp257,7 triliun, atau tumbuh 27,4 persen secara tahunan (YoY).
“Di tengah perlambatan ekonomi global dan masih berlangsungnya ketidakpastian geopolitik, capaian tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu destinasi investasi yang menarik bagi investor asing,” kata Imam.
Menariknya, meski menguat tajam pekan lalu, volume perdagangan tercatat relatif rendah. Hal ini dipengaruhi oleh terpecahnya perhatian pelaku pasar menjelang babak final Piala Dunia FIFA, di mana secara historis volume perdagangan saham global bisa menyusut hingga 48 persen saat tim nasional bertanding.
“Seiring berakhirnya turnamen tersebut, likuiditas pasar diperkirakan berpotensi meningkat kembali sehingga dapat menjadi faktor pendukung apabila momentum penguatan IHSG berlanjut,” kata Imam.
(NIA DEVIYANA)





