Liputan6.com, Jakarta - Yogyakarta tak pernah kehabisan karya seni yang lahir dari keresahan atas kondisi di sekitar. Kali ini, para pegiat seni di Kulon Progo bergerak. Menjadikan sampah di sekitar sebagai medium untuk menghasilkan karya seni modern.
Bertajuk DAULAT SAMPAH: Mengenang Pilar Seni Rupa Modern Indonesia Trubus Soedarsono dan Api Pengabdian Sujarwo, Teguh Paino dan kawan-kawan menggelar pameran di Galeri Seni Taman Budaya Kulon Progo. Pameran ini sekaligus penghormatan atas dua maestro seniman asal Kulon Progo yakni Trubus Soedarsono dan Sujarwo.
Advertisement
Tema 100 Tahun Trubus Soedarsono + 100 Hari Api Pengabdian Sujarwo dipilih untuk menghidupkan kembali api semangat seni milik dua maestro tersebut. Apalagi kedua seniman legendaris tersebut tak hanya dikenal sebagai pegiat seni, tapi juga aktivis. Seni dan aktivitas di dalamnya, lahir dari sebuah keresahan dan kegelisahan.
“Kami mulanya memiliki keresahan yang sama, karena banyaknya sampah yang menumpuk di wilayah Sungai Progo itu, berbagai jenis, termasuk serpihan kayu-kayu dan batang pohon,” ujar Teguh Paino, pengampu pameran.
Keresahan itu tak sekadar ada dalam pikiran. Tapi dituangkan dalam bentuk nyata. Sampah di Sungai Progo menjadi medium untuk menggugah kesadaran warga. Dibalut dalam karya seni yang menarik dipandang dan penuh makna filosofis di dalamnya.
“Ada sampah, kayu-kayu pohon itu, plastik, juga lukisan berbagai tema itu adalah karya-karya kami,” ungkap lulusan Fakultas Seni Rupa jurusan Seni Murni, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini.
Lokasinya gedung pamerannya sendiri ada di pojok Timur, area Taman Budaya Kulon Progo yang cukup luas, dengan adanya pintu masuk yang tersusun dengan deretan daun kelapa kering dengan gantungan kelapa-kelapanya. Di area depan, terdapat wajah-wajah seniman senior yang terpoles di kanvas kain yang membentang. Wajah-wajah seniman maestro di antaranya Affandi, Hendra Gunawan, Dullah, Sudarso, dan ada juga Trubus saat masih muda.
Di area dinding pagar terpasang kain hitam, serta batok-batok kelapa yang menggantung. Sebuah motor lawas menjadi salah satu properti instalasi pameran milik salah satu seniman.
Melangkah ke dalam ruang pameran, terdapat sejumlah karya instalasi dan lukis. Ada yang diberi judul Terbangun dari Sampah. Instalasi seni karya karya Andhik Kristiantoro ini dibuat dari susunan sampah yang melekat, lalu diberi warna merah muda.
Ada pula karya berjudul Aluwung Meneng. Dibuat dari batang pohon yang menyerupai wajah manusia. Buah sentuhan tangan seorang seniman bernama Agus Priyanto. Agus Irawan hadir melalui karya instalasi dari susunan ranting, kayu dan batang pohon yang menyerupai tokoh pewayangan. Agus memilih judul Samar untuk karyanya tersebut.
Ariswan Adhitama menampilkan sebuah Sepatu Bot Pantofel dengan Seekor Tikus yang muncul-tenggelam. Sementara, Gana hadir dalam lukisan dewa yang lahir dari langit, kemudian turun ke laut namun terjadi karma. Jaka SP menampilkan karya lukis alam indah dengan dua burung yang hinggap di tangkai.
Sang pengampu pameran, Teguh Paino menampilkan instalasi kayu limbah menyerupai wajah bertanduk panjang. Ada pula seni wajah Trubus Soedarsono muda karya Darmadi. Seluruh instalasi ini ditata dengan menarik. Ada yang digantung, ditempel di dinding, dan ditata rapi di area ruang pamer.




