DUBAI, KOMPAS.TV - Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara ke Iran untuk malam kesembilan berturut-turut setelah seorang personel militernya tewas di Irak, Senin (20/7/2026) dini hari.
Di saat yang sama, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan turun drastis, dengan hanya delapan kapal melintas pada Sabtu (18/7/2026) dan tiga kapal pada Jumat (17/7/2026), jauh di bawah rata-rata hampir 140 transit per hari sebelum perang yang dipicu serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.
Militer AS menyatakan seorang personelnya tewas di Irak pada Sabtu saat melakukan apa yang mereka sebut sebagai "controlled detonation" atau peledakan terkendali, terhadap drone Iran yang telah dijatuhkan.
Insiden tersebut menambah jumlah total personel militer AS yang tewas sejak perang dimulai menjadi 17 orang.
Sementara itu, perkembangan terkait serangan Iran terhadap pangkalan militer AS di Yordania pada Jumat pekan lalu mulai menemui kejelasan.
Baca Juga: Pengamat: AS Ingin Kuasai Selat Hormuz dan Lumpuhkan Kekuatan Militer Iran
Satu personel AS yang sebelumnya dinyatakan hilang kini dikaitkan dengan "unidentified remains" atau jasad yang belum teridentifikasi yang ditemukan pada Minggu (19/7/2026). Militer AS menyatakan jasad tersebut masih menjalani pemeriksaan.
Gelombang serangan udara terbaru militer AS pada Senin dini hari menandai malam kesembilan berturut-turut operasi terhadap Iran, dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai salah satu target.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan serangan tersebut bertujuan terus melemahkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal komersial dan pelaut sipil yang melintasi Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump mengatakan serangan terbaru tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada personel militer AS yang tewas.
"Kami memukul mereka dengan sangat keras lagi malam ini," kata Trump, dikutip dari Associated Press.
Penurunan aktivitas pelayaran menjadi salah satu dampak utama konflik di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.
Sebuah organisasi maritim yang berada di bawah pengawasan Angkatan Laut AS menyatakan ancaman terhadap pelaut di kawasan tersebut masih sangat serius setelah serangkaian serangan Iran sebelumnya.
Baca Juga: Iran Serang Pangkalan Militer AS di Kuwait, Dua Tentara Amerika Tewas di Yordania
Data terbaru menunjukkan hanya delapan kapal melintas pada Sabtu dan tiga kapal pada Jumat. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata hampir 140 transit per hari sebelum perang.
Situasi di Selat Hormuz semakin genting setelah militer Inggris melaporkan sebuah kapal terbakar di dekat pesisir Oman pada Senin dini hari. Penyebab kebakaran belum diketahui.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : Associated Press
- perang AS Iran
- serangan AS ke Iran
- konflik Timur Tengah
- Garda Revolusi Iran
- Selat Hormuz
- Iran





