Bedah Editorial MI: Sepak Bola tanpa Jalan Pintas

metrotvnews.com
1 hari lalu
Cover Berita

Final Piala Dunia 2026, dini hari tadi, menutup pesta sepak bola yang selama sebulan terakhir menyita perhatian dunia. Siapa pun yang akhirnya mengangkat trofi, pelajaran paling penting yang bisa dibawa pulang Indonesia bukanlah soal kecanggihan taktik ataupun kehebatan individu para bintang. Piala Dunia kembali menegaskan bahwa tidak ada jalan pintas menuju puncak sepak bola dunia.

Selama turnamen berlangsung, publik menyaksikan bagaimana negara-negara kuat mempertontonkan kualitas permainan yang tinggi. Mereka tampil dengan kedalaman skuad, disiplin taktik, kemampuan teknik, hingga mental bertanding yang nyaris tidak menurun meski berganti generasi.

Begitu pula dengan negara-negara yang sebelumnya tidak punya sejarah memiliki tim nasional yang kuat. Lewat permainan yang disajikan selama Piala Dunia, terlihat mereka telah berkembang pesat dengan kemampuan yang bahkan mulai bisa mengimbangi kualitas negara-negara unggulan.
 
Semua itu jelas bukan hasil kerja buru-buru empat tahun menjelang Piala Dunia. Itu adalah buah dari pembinaan yang berlangsung puluhan tahun. Lihatlah negara-negara yang terus berada di papan atas. Regenerasi pemain tidak pernah terputus, akademi terus berjalan, dan kompetisi usia muda senantiasa dihidupkan dengan dukungan penuh dari negara.

Itulah yang membuat filosofi dan kualitas permainan tiap negara dapat terjaga dari satu kelompok umur ke kelompok berikutnya. Hal itu pula yang menyebabkan mereka nyaris tidak pernah mengalami krisis pemain karena sistemnya terus menghasilkan talenta baru.

Pada titik itulah sesungguhnya letak perbedaan mendasar dengan sepak bola Indonesia. Kita terlalu sering berharap hasil besar datang lebih cepat daripada proses membangunnya. Ketika prestasi belum sesuai harapan, arah kebijakan berubah. Program berganti, pelatih dirotasi, target pun berubah-ubah.

Yang paling dibutuhkan sepak bola Indonesia sejatinya konsistensi, tapi yang kerap mengemuka justru kebijakan-kebijakan jalan potong demi hasil yang instan. Sebutlah satu contoh yang belakangan malah seperti menjadi program utama, yakni naturalisasi pemain-pemain diaspora untuk menjadi penggawa tim nasional Garuda.

Sejujurnya, naturalisasi memang memberi kontribusi penting terhadap peningkatan daya saing tim nasional. Kebijakan itu dapat menjadi bagian dari strategi percepatan. Namun, naturalisasi sama sekali tidak boleh diposisikan sebagai fondasi utama pembangunan sepak bola nasional.

Program naturalisasi yang masif kiranya seperti menggampangkan masalah bahwa seolah-olah pekerjaan rumah sepak bola Indonesia hanya berkaitan dengan tim nasional senior. Padahal itu hanya secuil pekerjaan di antara banyak pekerjaan lebih besar yang mesti diselesaikan.

Negara, melalui federasi sepak bola yang ada, sesungguhnya masih punya utang sederet persoalan utama. Mulai dari pembinaan usia dini, kompetisi kelompok umur yang berkualitas, akademi klub yang benar-benar berfungsi, peningkatan kualitas pelatih, hingga tata kelola kompetisi yang sehat dan modern. Di sanalah masa depan sepak bola Indonesia dipertaruhkan.

Saat ini, momentum yang dimiliki Indonesia sebenarnya tidak kecil. Antusiasme masyarakat terhadap tim nasional sedang tinggi-tingginya. Infrastruktur mulai membaik. Kepercayaan publik terhadap sepak bola nasional kembali tumbuh. Modal sosial sebesar itu seharusnya menjadi kesempatan untuk memperkuat fondasi, bukan sekadar mengejar hasil jangka pendek.

Piala Dunia mengajarkan satu hal yang sederhana sekaligus sangat penting. Jika Indonesia betul-betul ingin suatu hari berdiri di panggung Piala Dunia, yang dibutuhkan bukan semata mimpi besar, bukan pula jalan pintas. Indonesia butuh keberanian untuk setia pada proses pembinaan yang konsisten, berjenjang, dan tidak mudah berubah oleh euforia ataupun kekecewaan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kak Seto: Kita Perlu Ajak Anak Kembali Cintai Permainan Tradisional
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Landing Nongsa Changi Cable Tandai Era Baru Koneksi Digital ‘Kilat’ Tanpa Jeda
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Justin Bieber Bawakan Everything Hallelujah di Halftime Show Final Piala Dunia
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Jawaban Menohok Frank Hutapea saat Perseteruannya dengan Hotman Paris Disebut Cuma Drama dan Pengalihan Isu
• 10 jam laluviva.co.id
thumb
BPBD Tasikmalaya Pasok Air Bersih untuk 16.869 Jiwa Terdampak Kemarau
• 20 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.