Bisnis com, JAKARTA — Gelombang kekhawatiran terhadap potensi bubble sektor teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) dan memanasnya kembali konflik Amerika Serikat (AS) dengan Iran mengguncang pasar keuangan global.
Namun di tengah tekanan tersebut, pasar saham Indonesia justru menunjukkan ketahanan dengan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditopang aksi beli investor.
Praktisi Pasar Modal dan Co-Founder PasarDana, Hans Kwee mengatakan kekhawatiran investor terhadap tingginya valuasi sektor teknologi, khususnya emiten yang terkait dengan AI, telah memicu aksi jual besar-besaran pada saham-saham semikonduktor global.
Menurutnya, pasar mulai mempertanyakan keberlanjutan belanja modal (capital expenditure/Capex) yang agresif dari perusahaan teknologi raksasa yang sebagian besar dibiayai oleh utang. Di sisi lain, belum ada kepastian mengenai kemampuan bisnis AI untuk menghasilkan arus kas yang memadai guna membayar bunga dan pokok pinjaman tersebut.
"Kekhawatiran terhadap perlambatan belanja AI telah memicu sentimen risk off yang meluas di pasar keuangan global," ujarnya dikutip Senin (20/7/2026).
Tekanan tersebut tercermin dari kinerja Philadelphia Semiconductor Index (SOX) yang merosot lebih dari 18% sepanjang Juli dan telah memasuki wilayah bearish setelah terkoreksi lebih dari 20% dari puncaknya.
Meski demikian, secara tahun berjalan atau year to date, indeks semikonduktor tersebut masih mencatat kenaikan hampir 65%, jauh melampaui penguatan indeks S&P 500.
Selain sentimen sektor teknologi, pasar global juga dibayangi eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memicu aksi risk off.
Hans menjelaskan serangkaian serangan militer yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir memperbesar kekhawatiran terhadap gangguan distribusi energi global, khususnya melalui Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur penting bagi sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
Ancaman terhadap jalur distribusi energi tersebut telah mendorong lonjakan harga minyak internasional dan meningkatkan ekspektasi inflasi global.
Kondisi ini berpotensi memaksa bank-bank sentral dunia untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat atau bahkan kembali menaikkan suku bunga guna mengendalikan tekanan harga.
"Lonjakan harga minyak akibat risiko geopolitik berpotensi memperpanjang periode suku bunga tinggi secara global, yang pada akhirnya meningkatkan tekanan terhadap pasar saham dan aset berisiko," imbuhnya.





