Penduduk di kota-kota besar di Jawa kehilangan 59-91 jam tidur setiap tahun akibat suhu malam yang semakin panas. Temuan itu berasal dari laporan Climate Central bertajuk Climate Change is Costing People Sleep yang menganalisis dampak suhu malam terhadap kualitas tidur selama periode 2020-2025.
Secara global, rata-rata penduduk kehilangan hampir 56 jam tidur setiap tahun akibat suhu malam yang tinggi, dengan sekitar enam jam di antaranya dapat diatribusikan pada perubahan iklim akibat emisi gas rumah kaca. Di Indonesia, khususnya Pulau Jawa, kehilangan waktu tidur tercatat lebih tinggi dibandingkan rata-rata global.
Warga Surabaya mengalami kehilangan tidur terbesar, mencapai sekitar 91 jam per tahun, disusul Jakarta 84 jam, Semarang 83 jam, Medan 78 jam, Bandung 61 jam, dan Malang 59 jam. Untuk masing-masing kota tersebut, sekitar tujuh hingga sembilan jam kehilangan tidur setiap tahun berkaitan langsung dengan perubahan iklim.
Menurut laporan tersebut, kenaikan suhu malam mengganggu kemampuan tubuh melepaskan panas saat tidur sehingga menurunkan durasi maupun kualitas tidur. Dampaknya lebih besar di wilayah yang sudah beriklim panas, terutama kota-kota dengan fenomena urban heat island atau pulau panas perkotaan.
Dokter gawat darurat sekaligus Ketua Global Climate and Health Alliance, Courtney Howard, mengatakan orang dewasa membutuhkan tidur selama tujuh hingga sembilan jam setiap malam untuk menjaga kesehatan.
“Tidur kurang dari 7 jam per malam dikaitkan dengan gangguan fungsi kekebalan tubuh dan kinerja, serta peningkatan kesalahan, nyeri, dan kecelakaan. Jika kurang tidur terus berlanjut secara teratur, hal itu dikaitkan dengan penambahan berat
badan, diabetes, hipertensi, penyakit kardiovaskular, dan peningkatan risiko kematian,” kata Howard, dikutip dari siaran pers, Senin (20/7).
Kehilangan jam tidur di Indonesia relatif lebih buruk lantaran diperparah oleh efek pulau panas perkotaan (urban heat island) yang memperkuat suhu malam hari, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan. Kepadatan penduduk tinggi dan terbatasnya ruang terbuka hijau memperburuk akumulasi panas.
Meskipun pendingin udara (air conditioning/AC) dapat membantu melindungi masyarakat dari malam yang panas. Tapi, akses ke pendingin udara sangat terkait dengan pendapatan. Hanya sekitar 35 persen rumah tangga global yang memiliki AC pada
2021, dan tingkat kepemilikan di Indonesia jauh di bawah angka tersebut, terutama di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah.
Koordinator Outreach and Advocacy Cerah Dzatmiati Sari menambahkan, tidur berkualitas adalah hak dasar masyarakat. Maka itu, dia menekankan pentingnya lingkungan yang sehat tanpa polusi, dan keputusan politik untuk mempercepat transisi energi guna menekan laju krisis iklim.
“Pemerintah perlu segera menempatkan krisis iklim sebagai agenda prioritas dengan segera menghentikan ketergantungan pada PLTU batu bara yang berkontribusi pada polusi udara, dan beralih ke energi terbarukan untuk memenuhi hak dasar warga negara atas lingkungan yang baik dan sehat yang telah dijamin oleh konstitusi," kata dia.
Dia menambahkan, transisi energi ini harus dijalankan secara demokratis dengan melibatkan partisipasi publik dalam pengambilan keputusan.
Climate Central merekomendasikan agar pemerintah memperkuat strategi adaptasi perkotaan, antara lain dengan memperluas ruang terbuka hijau, mengurangi efek pulau panas, serta memasukkan risiko panas malam ke dalam perencanaan tata ruang dan kebijakan kesehatan masyarakat.




