Presiden Iran Akui Sedang Hadapi Perang Skala Penuh Lawan AS

detik.com
16 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya saat ini tengah menghadapi "perang skala penuh" dengan Amerika Serikat (AS). Menurutnya, pemerintah dan masyarakat harus siap menghadapi berbagai konsekuensi dari konflik tersebut, terutama di sektor ekonomi.

Dilansir AFP, Selasa (21/7/2026), pernyataan itu disampaikan Pezeshkian saat bertemu para pejabat peradilan di Teheran pada Senin (20/7).

"Kenyataannya adalah bahwa saat ini Republik Islam Iran terlibat dalam perang skala penuh," ujar Pezeshkian, seperti dikutip dalam pernyataan resmi kepresidenan.

Baca juga: Konflik Memanas, Houthi Umumkan Blokade Laut Arab Saudi

Ia menambahkan Iran harus bersikap realistis terhadap situasi yang sedang dihadapi.

"Kita harus realistis dan menerima konsekuensi alami dari perlawanan ini," lanjutnya.

Pezeshkian menilai tantangan terbesar yang kini dihadapi Iran bukan hanya di medan militer, melainkan juga di bidang ekonomi.

"Medan perang terpenting saat ini adalah ekonomi dan mata pencaharian rakyat," katanya.

Ia memperingatkan tekanan ekonomi yang terus meningkat dapat memicu ketidakpuasan masyarakat. Jika kondisi itu meluas, menurutnya, dukungan publik terhadap negara bisa terkikis.

"Jika tekanan ekonomi menyebabkan ketidakpuasan sosial terbentuk dan ketidakpuasan ini menyebar, modal sosial yang sangat besar yang telah dibangun rakyat untuk mendukung negara dapat rusak," ujarnya.

Iran menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat setelah konflik dengan Amerika Serikat memanas. Pada Juni lalu, inflasi tahunan di negara tersebut melonjak hingga mendekati 90 persen. Data inflasi untuk Juli belum dirilis.

Pada akhir Desember lalu, protes yang semula dipicu tingginya biaya hidup berkembang menjadi demonstrasi anti-pemerintah secara luas. Aksi tersebut mencapai puncaknya pada 8-9 Januari.

Baca juga: Perang Berlanjut, Trump Ancam Lebih Banyak Serangan ke Iran

Pemerintah Iran menyebut lebih dari 3.000 orang tewas dalam rangkaian kerusuhan tersebut dan menuding kekerasan dipicu oleh "aksi teroris" yang didalangi Amerika Serikat dan Israel.

Sementara itu, sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berbasis di luar Iran memperkirakan jumlah korban jiwa akibat kerusuhan itu jauh lebih tinggi.




(azh/azh)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sinergi Dua BUMN Dorong Peningkatan Standar Keselamatan Transportasi Laut
• 17 jam lalutvonenews.com
thumb
Mamdani: Surat perintah ICC atas Netanyahu harus diperlakukan serius
• 8 jam laluantaranews.com
thumb
Ungkap 74 Kasus Narkoba, Polres Bogor Tangkap 95 Tersangka dan Sita Barbuk Senilai Rp10,8 Miliar
• 19 jam laluokezone.com
thumb
Pemerintah Terbitkan Panda Bond pada 23 Juli 2026, Target Raup USD 1 Miliar
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Prabowo Komitmen Bersihkan Penyelewengan, Sebut Korupsi Racun bagi Ekonomi
• 9 jam lalueranasional.com
Berhasil disimpan.