Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan devisa dari ekspor batu bara Indonesia telah mencapai sekitar US$14 miliar hingga US$15 miliar, atau sekitar Rp250,6 triliun hingga Rp268,5 triliun, pada semester I/2026.
Capaian tersebut dinilai menjadi sinyal membaiknya kinerja sektor energi di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Hal itu disampaikan Bahlil usai melaporkan perkembangan sektor energi kepada Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan lanjutan setelah Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/7/2026).
Bahlil mengatakan salah satu materi yang dilaporkannya kepada Presiden adalah perkembangan penerimaan negara dan kinerja ekspor sektor batu bara.
"Kemudian, devisa kita dari ekspor batu bara yang sudah mencapai kurang lebih sekitar US$14 miliar sampai US$15 miliar," kata Bahlil kepada wartawan.
Dia menilai capaian tersebut menunjukkan strategi pemerintah dalam menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan (supply and demand) komoditas mulai membuahkan hasil. Menurutnya, upaya tersebut turut menjaga stabilitas harga komoditas di tengah dinamika ekonomi global yang masih bergejolak.
Bahlil menambahkan perbaikan tersebut juga tercermin dari meningkatnya penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sektor ESDM.
Baca Juga
- Bahlil Pastikan Putusan MK Tak Ganggu Izin Tambang Ormas: Punya NU Tetap Jalan
- Prabowo Titahkan Bahlil Cabut Izin Lahan dan Tambang Nganggur Hingga Dua Tahun
- Angin Segar Ekspor Batu Bara dari China, Jepang, Korea Selatan
"Dengan melihat PNBP kita naik dan devisa kita dari hasil penjualan hampir kurang lebih sekitar US$15 miliar pun semakin membaik," katanya.
Sebelumnya, Bahlil mengungkapkan realisasi PNBP sektor ESDM hingga semester I/2026 telah melampaui 60% dari target tahunan.
Menurutnya, kombinasi peningkatan penerimaan negara dan devisa ekspor menjadi indikasi bahwa kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas sektor energi dan pertambangan mulai menunjukkan hasil di tengah volatilitas pasar komoditas global.





