Jakarta: Kereta menjadi salah satu transportasi andalan masyarakat Indonesia baik perjalanan jarak dekat maupun jarak jauh. Namun, tidak banyak orang mengetahui bahwa kereta menggunakan jenis sumber energi yang berbeda-beda, tergantung pada teknologi dan sistem penggeraknya.
Di Indonesia, lokomotif kereta umumnya menggunakan bahan bakar diesel atau solar. Sementara itu, kereta rel listrik (KRL) memanfaatkan energi listrik sebagai tenaga penggeraknya.
Di berbagai negara, pengembangan teknologi juga melahirkan kereta berbahan bakar gas hingga hidrogen yang dinilai lebih ramah lingkungan.
Berikut ini adalah jenis-jenis bahan bakar kereta api Indonesia yang dikutip dari laman Traveloka. 4 Jenis Bahan Bakar Kereta 1. Solar (diesel) Solar merupakan bahan bakar yang paling banyak digunakan lokomotif kereta di Indonesia, terutama untuk layanan antarkota dan perjalanan jarak jauh. Mesin diesel mengubah energi hasil pembakaran solar menjadi tenaga mekanis yang menggerakkan roda kereta.
Ilustrasi. Foto: Dok istimewa
Keunggulan lokomotif diesel adalah mampu beroperasi di jalur yang belum dialiri listrik, memiliki tenaga besar, serta cocok digunakan untuk perjalanan jarak jauh. Namun, penggunaan solar masih menghasilkan emisi gas buang dan bergantung pada bahan bakar fosil. 2. Listrik Selain diesel, sebagian layanan kereta di Indonesia menggunakan tenaga listrik, misalnya KRL yang beroperasi di wilayah Jabodetabek. Kereta jenis ini memperoleh daya dari jaringan listrik aliran atas (LAA) melalui kabel listrik di atas jalur rel.Kereta listrik memiliki sejumlah keunggulan, seperti akselerasi yang lebih cepat, suara operasional yang lebih senyap, serta tidak menghasilkan emisi langsung saat beroperasi. Namun, kekurangannya adalah ketergantungan pada infrastruktur elektrifikasi yang mahal dan perlunya investasi besar di awal pembangunan. 3. Gas alam Gas alam dalam bentuk Compressed Natural Gas (CNG) maupun Liquefied Natural Gas (LNG) mulai dikembangkan sebagai alternatif pengganti solar. Dibandingkan diesel, bahan bakar ini menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah sehingga dinilai lebih ramah lingkungan.
Baca Juga :
Mau Ubah Jadwal? Begini Cara Reschedule Tiket Kereta ApiKeunggulan utama teknologi ini adalah emisinya yang sangat rendah karena hanya menghasilkan uap air. Namun, biaya pengembangan, produksi hidrogen, serta pembangunan infrastrukturnya masih relatif tinggi sehingga belum diterapkan secara luas.
(Eunike Michelle Gultom)




