Alarm Perubahan Iklim dari Jayawijaya

kompas.id
11 jam lalu
Cover Berita

Papua memiliki bentang alam yang lengkap dari lautan dalam nan memukau di perairan Raja Ampat dan Teluk Cenderawasih hingga pegunungan tinggi bersalju di deretan Pegunungan Jayawijaya. Selama ribuan tahun, pulau ini menjadi saksi perubahan iklim yang terjadi begitu drastis.

Lapisan es atau gletser di Pegunungan Jayawijaya, yang pernah dijuluki salju abadi, terus mencair dari tahun ke tahun dan terancam lenyap. Bahkan, berdasarkan kajian terakhir dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gletser di Jayawijaya diperkirakan hilang setidaknya pada awal 2027.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengungkapkan, perubahan iklim global menjadi pemicu utama penyusutan gletser tropis di Jayawijaya. Peningkatan suhu atmosfer dan suhu muka laut menyebabkan gletser mencair secara konsisten. Hingga September 2025, luas tutupan es tropis di Jayawijaya tersisa sekitar 2 persen dari luasan tahun 1988.

Baca JugaUjian Keabadian Salju Puncak Jaya

Berdasarkan data terbaru dari BMKG, menurut Ardhasena, luas tutupan es di Jayawijaya pada September 2025 menyusut menjadi 0,0907 kilometer persegi (9 hektar). Tingkat penyusutan sejak 1850 mencapai 19,3 kilometer persegi atau sudah menghilang lebih dari 99 persen.

”Berdasarkan garis tren penyusutan sebesar 0,07 kilometer per tahun, es di Jayawijaya diprediksi akan hilang sepenuhnya pada akhir 2026 atau awal 2027,” ujar Ardhasena, Senin (22/6/2026).

Ia menambahkan, laju penyusutan area rata-rata adalah 0,07 kilometer persegi per tahun pada periode 2016-2024 dan terus berlangsung hingga sekarang. Sejak 2016, laju penipisan es mencapai 2-2,5 meter per tahun. Pada Desember 2023, tebal es diperkirakan hanya tersisa 4 meter. Pengamatan visual terakhir pada akhir 2024 menunjukkan kondisi tutupan es di area stake (penanda) sudah mencair seluruhnya.

Ketebalan es berkurang

Pengamatan dan data terbaru dari BMKG ini memperkuat penelitian BMKG sebelumnya bersama Ohio State University tentang gletser di Pegunungan Jayawijaya. Dari penelitian itu, terungkap bahwa ketebalan es di Jayawijaya berkurang sekitar 1,05 meter per tahun antara 2010 dan 2015 serta berkurang 5,69 meter (5,4 kali lebih cepat) pada November 2016 setelah kejadian El Nino pada 2015/2016.

Peneliti dari BMKG, Donaldi Permana, bersama Lonnie Thompson dari Ohio State University serta sejumlah peneliti dari lima negara (Indonesia, Amerika Serikat, Rusia, Swiss, dan Chile) menghitung laju kecepatan pencairan dan telah mengambil sampel inti es (ice core) di Pegunungan Jayawijaya, tepatnya di area Puncak Soemantri, pada tahun 2010 untuk memperoleh rekaman iklim yang tersimpan dalam es.

Baca JugaTahun Terakhir Keberadaan Es di Puncak Jaya 

Penelitian tersebut dipublikasikan dalam laman Jurnal Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional Amerika Serikat (PNAS) pada 9 Desember 2019 lewat jurnal bertajuk ”Disappearance of the last tropical glaciers in the Western Pacific Warm Pool (Papua, Indonesia) appears imminent”.

Berdasarkan citra satelit yang diamati tim BMKG, seperti tertera dalam jurnal tersebut, luas tutupan es di Jayawijaya berkurang sebanyak 78 persen antara tahun 2002 dan 2018. Inti es dari gletser Papua menyimpan rekaman iklim sejak tahun 1964 dan menunjukkan pengaruh dari kenaikan suhu udara di wilayah tropis yang diperkuat oleh kejadian El Nino.

Dalam jurnal tersebut turut dituliskan, dalam kurun 2002 hingga 2015, tutupan es di Jayawijaya, tepatnya di Soemantri dan Nggapulu, menghilang 1,45 kilometer persegi atau setara dengan laju penyusutan sekitar 0,11 kilometer persegi per tahun.

Puncak Soemantri dan Nggapulu ini berada di seberang Puncak Jaya atau lebih dikenal sebagai Carstensz Pyramid, dengan ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl). Adapun lapisan es di Carstensz Pyramid sudah lenyap lebih dulu.

Cepatnya penyusutan gletser di Pegunungan Jayawijaya, terutama di area Puncak Nggapulu dan Soemantri, ini turut disaksikan Nur Huda (40), pendaki Wanadri yang kerap menjadi pemandu pendakian ke Carstensz Pyramid. Pada Maret 2026, ketika mendampingi sejumlah pendaki untuk menuju Carstensz Pyramid, Huda sudah tidak lagi melihat lapisan es di bagian sadel antara Puncak Nggapulu dan Soemantri.

Padahal, pada April 2010, lapisan es masih tebal menyelimuti bagian sadel antara Puncak Nggapulu dan Soemantri tersebut. ”Sekarang di sadel itu hanya tersisa batuan sampai ke atas Puncak Nggapulu. Kalau mendaki ke sana, harus rock climbing (memanjat tebing) tidak bisa seperti dulu,” ujar Huda, salah satu pendaki Indonesia yang sudah merampungkan pendakian tujuh puncak tertinggi di dunia (seven summiters).

Menyusutnya gletser di sekitar Puncak Jaya ini sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Berdasarkan buku Retreat of Glaciers on Puncak Jaya, Irian Jaya, determined from 2000 and 2002 IKONOS Satellite Images yang ditulis Andrew G Klein dan Joni L Kincaid, dari 20 kilometer persegi gletser yang terdapat di Jayawijaya pada tahun 1850, terjadi penyusutan hingga 90 persen atau hanya bersisa 2 kilometer persegi pada rentang waktu tahun 2000-2002 atau setelah 150 tahun berlalu.

 

Kondisi di Carstensz   

Secara kasatmata, Carstensz Pyramid sebagai puncak tertinggi di kawasan Jayawijaya sudah lebih dari tiga dekade terakhir tidak lagi terlihat lapisan es di puncaknya. Carstensz Pyramid juga merupakan bagian dari tujuh puncak tertinggi di dunia.  

Baca JugaCarstensz Pyramid: Puncak Impian di Ujung Negeri

Mendiang Muhamad Gunawan, salah satu pendaki senior Wanadri, pernah berkisah kepada Kompas, saat dia mencapai puncak Carstensz Pyramid pada 1986, lapisan es masih menyelimuti puncak Carstensz. Namun, saat dia kembali pada 1991, es telah menyusut karena hanya sebagian tebing yang masih tertutupi es di kawasan puncak.

”Ketika 1994 saya kembali ke sana, sudah tidak ada lagi tebing yang tertutup es,” kata Gunawan yang telah berpulang pada 26 Agustus 2018 setelah berjuang melawan kanker nasofaring.

Muhamad Gunawan atau akrab disapa Ogun menceritakan penyusutan es tersebut kepada Kompas pada akhir April 2010 ketika sama-sama mendaki puncak Carstensz Pyramid. Saat itu, Kompas meliput Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia (World Seven Summits) Wanadri yang diawali dari mendaki Carstensz.

Benar saja, pada 26 April 2010, ketika Kompas menjejak puncak Carstenz Pyramid, tidak lagi terlihat lapisan es di sekitar puncak yang berupa tebing batu tersebut. Ketika suhu turun drastis hingga tembus di bawah 0 derajat celsius, bulir-bulir es sempat menghujani tebing di sekitar puncak, tetapi langsung tersapu hilang ketika cuaca menghangat.

Jika dilihat dari udara pada akhir April 2010 tersebut, lapisan es yang cukup tebal masih terlihat menyelimuti bagian Pegunungan Jayawijaya lain, seperti area Puncak Nggapulu atau biasa disebut Puncak Soekarno, Puncak Carstensz Timur (4.400 mdpl), dan Puncak Soemantri. Namun, volume ini jauh berkurang dibandingkan dengan pencitraan yang pernah diambil United States Geological Survey pada tahun 1936 dan 1972, yang memperlihatkan bentangan gletser masih melapisi hampir seluruh bagian puncak Jayawijaya, termasuk Cartensz Pyramid.

Padahal, karena hamparan es itu, suku Dani menyebut puncak Carstensz Pyramid dengan nama Ndugu-Ndugu, yang berarti berjatuhan atau berguguran. ”Dulu, orang Dani sering melihat salju atau es yang berguguran di puncak tersebut sepanjang tahun,” ucap Narniur Erelak, warga suku Dani, kepada Kompas pada April 2010.

Adapun penamaan Carstensz Pyramid diambil dari nama penjelajah asal Belanda, Jan Carstenszoon, yang menyebarkan informasi kepada masyarakat Eropa mengenai keberadaan puncak bersalju di kawasan Pegunungan Jayawijaya, Papua, seusai memimpin pelayaran ke kawasan tersebut pada tahun 1623.

Baca Juga”Angkernya” Carstensz, Puncak Gunung Bersalju di Wilayah Tropis Indonesia

Selain Carstensz Pyramid dan tiga puncak di sekitarnya, yakni Nggapulu, Soemantri, dan Carstensz Timur, kawasan Pegunungan Jayawijaya memiliki sejumlah puncak yang menjulang, antara lain Puncak Mandala (4.760 mdpl), Puncak Trikora (4.730 mdpl), dan Puncak Idenberg (4.673 mdpl).

Ardhasena menyampaikan, selain dipicu pemanasan global, terus menyusutnya lapisan es di Jayawijaya juga dipercepat oleh fenomena El Nino yang terjadi pada 2015-2016, kemudian 2023-2024, dan El Nino Godzilla pada 2026-2027. Ketinggian titik beku yang meningkat juga menyebabkan presipitasi lebih banyak jatuh sebagai hujan daripada salju.

Ardhasena menilai, menghilangnya gletser di Jayawijaya dapat mengganggu keseimbangan hidrologi lokal dan mengancam habitat spesies yang bergantung pada pasokan air gletser ke sungai dan danau di lembah pegunungan. Selain itu, hilangnya gletser juga membuat masyarakat adat lokal, seperti suku Amungme, kehilangan identitas spiritual dan budaya. ”Adapun secara global mencairnya gletser tropis berkontribusi pada kenaikan permukaan laut,” ucap Ardhasena.

Tak pelak, terus menyusutnya lapisan es di Jayawijaya menjadi alarm perubahan iklim yang berdampak begitu nyata di Tanah Air. Penyebutan salju abadi di Jayawijaya tampaknya menjadi ironi karena lapisan es di Papua tersebut akan segera menghilang dari ”Bumi Cenderawasih”.

 

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Paripurna DPR Setujui PAW Anggota Ombudsman Pengganti Hery Susanto
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Bungkam saat Tiba di Gedung Merah Putih KPK
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Keluarga Sebut Abdel Achrian Ajak Kenang Momen Lucu Bareng Mendiang Temon
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Telkom CorpU Dorong Transformasi Talenta melalui Forum CorpU Association Insight
• 4 jam lalukatadata.co.id
thumb
Gempa Hari Ini Guncang Kuta Selatan Bali, Cek Magnitudo dan Pusatnya
• 2 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.