Prudential Syariah: Inflasi Medis hingga Tekanan Daya Beli jadi Tantangan Asuransi Syariah

bisnis.com
12 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — PT Prudential Sharia Life Assurance (Prudential Syariah) membeberkan tantangan terbesar yang perlu diwaspadai perusahaan asuransi syariah pada 2026. Meskipun, di satu sisi tantangan ini tetap dinilai sebagai peluang besar untuk tetap bisa tumbuh.

Chief Customer Marketing Officer Prudential Syariah Vivin Arbianti Gautama mengemukakan tantangan utama bagi industri adalah inflasi medis yang tinggi.

Berdasarkan laporan Health Trends 2026 dari Mercer Marsh Benefits (MMB), biaya medis di Indonesia diperkirakan naik 17,8% tertinggi di Asia Tenggara dan jauh di atas rata-rata Asia (12,5%) serta inflasi umum nasional (±2,5%).  

“Bagi kami, kondisi ini justru mempertegas urgensi proteksi kesehatan berbasis syariah yang terjangkau dan berkelanjutan,” ucapnya kepada Bisnis, dikutip pada Senin (20/7/2026).

Tantangan berikutnya adalah tekanan daya beli dan ketidakpastian ekonomi-geopolitik global. Kondisi ini berpotensi menahan laju pertumbuhan industri jika tidak diantisipasi dengan strategi bisnis yang tepat. 

Vivin mengatakan volatilitas tersebut juga menuntut industri asuransi syariah untuk semakin adaptif dalam pengelolaan dana dan menjaga amanah peserta. Tantangan selanjutnya adalah penetrasi asuransi syariah yang masih rendah.

Baca Juga

  • Prudential dan Data Labs Analytics Pacu Adopsi AI, Pelayanan Pelanggan Lebih Cepat
  • Prudential Indonesia Bukukan Laba Rp2,4 Triliun pada 2025, Tumbuh 44%
  • Prudential Perpanjang Outlook Investasi saat Gejolak IHSG Tak Kunjung Reda

“Berdasarkan data OJK [SNLIK 2025], penetrasi asuransi syariah masih di bawah 1%. Ini tantangan sekaligus peluang terbesar kami, karena masih ada lebih dari 80 juta keluarga Indonesia yang belum terlindungi dengan memadai,” sebutnya.

Oleh karena itu, Prudential Syariah optimistis bahwa hingga akhir 2026 perusahaan akan tetap dapat meraih kinerja yang baik. Hal ini didorong oleh ketidakpastian global, hingga inflasi medis membuat kebutuhan masyarakat akan proteksi finansial justru akan menjadi hal yang diprioritaskan.  

Selain itu, imbuh Vivin, lonjakan tingkat literasi keuangan syariah dari 9,14% pada 2022 menjadi 43,42% pada 2025 menunjukkan bahwa momentum permintaan terhadap solusi syariah akan terus menguat.

“Sebagai pemimpin pasar asuransi jiwa syariah dengan pangsa pasar 25% [data sumber dari AAJI e-Reporting Q1 2026] Prudential Syariah terus berupaya melakukan inovasi layanan berbasis teknologi, penguatan produk dan distribusi, serta perluasan literasi dan inklusi,” tegasnya.

Sebagai informasi, sepanjang 2025 Prudential Syariah mencatat total kontribusi bruto mencapai Rp4,2 triliun, tumbuh 9% (year on year/YoY) sepanjang 2025. Khusus untuk kontribusi bisnis baru, tumbuh 31% menjadi sekitar Rp1 triliun. 

Sementara itu, Prudential Syariah telah membayarkan santunan klaim dan manfaat sebesar Rp2,2 triliun atau setara dengan Rp6 miliar per hari. Adapun, Risk Based Capital (RBC) dana perusahaan tercatat 1.496% dan RBC dana tabarru’ sebesar 209%.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
MAKI Blak-blakan Temuan Uang dan Emas di Kasus Febrie Sulit Dibantah - ZOOMCAST
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Macet Horor di Jalan Raya Cakung-Cilincing, Ini Penyebabnya
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Messi: Rasa Sakitnya Sangat Besar, Luka Ini Butuh Waktu untuk Sembuh
• 10 jam laluharianfajar
thumb
Konflik Tak Temukan Titik Terang, Nanda Persada Beri Pesan untuk Sarwendah: Supaya Nggak Makin Panas
• 4 jam lalugrid.id
thumb
Hasil China Open 2026: Sabar/Reza Melaju ke Babak 16 Besar Usai Sukses Bungkam Pasangan Baru Malaysia
• 1 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.