Bisnis.com, JAKARTA — Anak usaha PT Pertamina (Persero), PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) menyampaikan masih menyisakan dana penawaran umum (initial public offering/IPO) sebesar Rp2,84 triliun usai melantai di Bursa sejak Februari 2023.
Direktur Keuangan Pertamina Geothermal Energy Fransetya Hasudungan Hutabarat dalam keterbukaan informasi BEI menjelaskan bahwa jumlah hasil penawaran umum PGEO adalah sebesar Rp8,77 triliun setelah dikurangi biaya penawaran umum.
Rencana penggunaan dana IPO tersebut adalah sebesar Rp7,24 triliun untuk belanja modal (capital expenditure) atau investasi, lalu sebesar Rp1,53 triliun untuk pelunasan utang.
Adapun, sampai akhir Juni 2026, PGEO telah menggunakan dana IPO sebesar Rp4,4 triliun untuk capex atau investasi, dan sebesar Rp1,53 triliun untuk pelunasan utang. “Total realisasi dana IPO adalah Rp5,93 triliun,” tulis Fransetya.
Sementara itu, sisa dana hasil penawaran umum PGEO hingga akhir Juni 2026 adalah sebesar Rp2,84 triliun. Dana IPO ini ditempatkan pada deposito dolar dengan nilai US$100 juta atau 1,78 triliun, dengan tingkat suku bunga 4,65% di Bank BJB.
Lalu, sebesar US$48,6 juta atau Rp870 miliar ditempatkan pada Giro Special Rate dengan tingkat suku bunga 4,15% di Bank BRI, dan sebesar Rp182,24 miliar dengan bunga 5% di Giro Special Rate Bank BRI.
Sebagaimana diketahui, PGEO resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada Februari 2023 dengan harga penawaran Rp875 per saham, dan mengantongi dana segar sebesar Rp9,06 triliun dari aksi korporasi tersebut.
--
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





