Selama puluhan tahun, Bulan menjadi simbol eksplorasi dan harapan bagi umat manusia. Namun, jika NASA berhasil mewujudkan ambisinya membangun pangkalan permanen di kawasan kutub selatan Bulan, para penghuninya kelak akan menghadapi tantangan psikologis yang belum pernah dialami manusia sebelumnya.
Sejumlah ahli saraf dan psikiater mengatakan kehidupan jangka panjang di Bulan bukan hanya menjadi tantangan dari sisi teknologi, tetapi juga berpotensi mengubah cara manusia berpikir, merasakan emosi, hingga membangun hubungan sosial.
Di satu sisi, pengalaman tersebut bisa membuka peluang baru bagi perkembangan manusia. Di sisi lain, isolasi, ruang hidup yang terbatas, serta keterpisahan dari Bumi dinilai dapat memicu berbagai gangguan kesehatan mental.
NASA tahun ini mempercepat rencana membangun pangkalan permanen di Bulan. Pada Mei 2026 lalu, badan antariksa Amerika Serikat itu merilis roadmap Program Moon Base yang terdiri dari tiga tahap. Tahap terakhir ditargetkan dimulai pada 2032, ketika manusia dapat hidup dan bekerja secara berkelanjutan di permukaan Bulan.
Menurut NASA, fase tersebut akan menjadi titik ketika hidup dan bekerja di Bulan menjadi kenyataan. Namun, badan antariksa itu juga mengakui bahwa tantangan psikologis merupakan salah satu risiko terbesar dalam misi luar angkasa jangka panjang.
Penelitian NASA menunjukkan, kondisi isolasi dan keterbatasan ruang dapat menurunkan kemampuan kognitif maupun perilaku seseorang. Meski berbagai sistem pendukung kesehatan mental di International Space Station (ISS) sejauh ini mampu mengurangi risiko tersebut, NASA menilai misi menuju Bulan dan wilayah yang lebih jauh akan menghadapi tantangan yang lebih besar karena dukungan dari Bumi menjadi jauh lebih terbatas.
Penelitian yang dipimpin NASA dan diterbitkan di jurnal Frontiers in Physiology pada November 2024 menunjukkan bahwa astronaut yang menjalani misi selama enam bulan di ISS secara umum tetap mempertahankan kemampuan berpikirnya. Kendati demikian, para peneliti menemukan adanya periode ketika kemampuan memproses informasi, konsentrasi, dan memori kerja melambat selama berada di luar angkasa.
Sementara menurut Dr. Dave Rabin, seorang psikiater sekaligus ahli saraf, kehidupan jangka panjang di Bulan akan menguji sistem saraf manusia pada tingkat yang sangat mendasar. Ia menjelaskan bahwa manusia berevolusi di lingkungan yang dipenuhi sinar Matahari, gravitasi Bumi, bentang alam alami, dan interaksi sosial.
Kehilangan semua elemen tersebut dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko insomnia, kecemasan, depresi, mudah marah, hingga gangguan fungsi kognitif. Rabin bahkan menyebut luar angkasa sebagai lingkungan yang sangat keras secara psikologis. Menurutnya, isolasi berkepanjangan dapat memicu halusinasi, gangguan tidur, dan tekanan emosional.
"Bulan memang dapat memunculkan rasa takjub. Namun rasa takjub tanpa adanya rasa memiliki bisa berubah menjadi kegelisahan eksistensial," ujarnya.
Ia juga menyebut ancaman terbesar tinggal di Bulan bukanlah rasa bosan, melainkan hilangnya berbagai sinyal dari lingkungan yang selama ini membuat manusia merasa sedang berada di rumah.
"Tidak ada lagi pengingat sederhana dari dunia yang hidup bahwa Anda merupakan bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri," kata Rabin.
Padahal, menurutnya, otak manusia berkembang di lingkungan yang dipenuhi gerakan, suara, aroma, cahaya, serta perubahan alam yang terus berlangsung. Ia bahkan menggambarkan permukiman di Bulan sebagai ruang deprivasi sensorik terbesar dengan pemandangan indah.
Tanpa cuaca, satwa liar, pergantian musim, maupun suara-suara alami lainnya, penghuni Bulan dikhawatirkan akan semakin bergantung pada rangsangan buatan untuk menjaga kesehatan mentalnya.
Gravitasi Bulan Bisa Pengaruhi EmosiSelain isolasi, para ilmuwan juga mulai mempelajari bagaimana gravitasi Bulan yang hanya sekitar seperenam gravitasi Bumi dapat memengaruhi kondisi psikologis manusia.
Menurut Rabin, gravitasi bukan sekadar gaya fisika. Keseimbangan tubuh, postur, sirkulasi darah, pola tidur, kemampuan bergerak, hingga orientasi ruang semuanya bergantung pada gravitasi.
"Seiring waktu, kondisi tersebut dapat memengaruhi fungsi kognitif dan suasana hati melalui perubahan kualitas tidur, pola gerak, regulasi sistem kardiovaskular, proses peradangan, sistem keseimbangan tubuh, hingga hilangnya rasa membumi," jelasnya sebagaimana dikutip Newsweek. "Tubuh manusia berevolusi di Bumi. Tubuh akan selalu mengingat Bumi, bahkan ketika pikiran kita berusaha meninggalkannya."
Pendapat serupa disampaikan Matt Grammer, psikolog klinis sekaligus pendiri Therapy Training. Menurutnya, kehidupan di Bulan akan menghilangkan hampir seluruh petunjuk lingkungan yang selama ini membantu manusia mengatur suasana hati dan membentuk identitas, seperti perubahan cuaca, pepohonan, suara alam, maupun ritme kehidupan sehari-hari.
Isolasi dan keterbatasan ruang dalam jangka panjang berpotensi meningkatkan risiko kecemasan, depresi, mati rasa secara emosional, mudah marah, hingga menurunnya kemampuan mengambil keputusan. Berbeda dengan astronaut di ISS yang hanya bertugas sementara, penghuni Bulan nantinya harus membangun sebuah masyarakat yang dapat berfungsi secara mandiri.
"Di Bulan, pikiran mungkin tidak terlalu berjuang melawan rasa takut, tetapi melawan kehampaan akibat monoton," kata Grammer.
Menurutnya, manusia membutuhkan perubahan dalam kehidupan sehari-hari, baik melalui cuaca, pergantian musim, alam, komunitas, maupun rutinitas. Tanpa semua itu, penghuni Bulan harus menciptakan pengganti secara buatan agar lingkungan tempat tinggal mereka tidak terasa datar secara emosional.
Muncul Identitas Baru Manusia BulanMeski penuh tantangan, para ahli meyakini manusia memiliki kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Kendati kemampuan tersebut mungkin akan melahirkan bentuk identitas manusia yang benar-benar baru.
Dr. Sam Zand, psikiater sekaligus CEO Anywhere Clinic, mengatakan tantangan terbesar para penghuni Bulan adalah mempertahankan hubungan antarmanusia. Ia membandingkannya dengan ekspedisi ke kutub maupun misi luar angkasa, yang menunjukkan bahwa manusia membutuhkan variasi dan kehidupan yang terasa normal agar dapat berkembang secara psikologis.
"Tubuh kita mampu beradaptasi dengan lingkungan baru, tetapi tidak ada jaminan kondisi psikologis kita akan mengikuti," ujarnya.
Karena itu, habitat di Bulan pada masa depan harus mampu menghadirkan berbagai unsur kehidupan di Bumi agar penghuninya tetap merasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Rabin memperkirakan kehidupan permanen di Bulan suatu hari nanti dapat melahirkan identitas manusia yang berbeda.
"Manusia yang secara biologis tetap manusia, tetapi secara budaya dibentuk oleh jarak mereka dari Bumi."
Menurutnya, kondisi tersebut mungkin akan terasa menarik dalam jangka pendek, tetapi juga dapat memunculkan rasa asing, kesepian, bahkan mengguncang kondisi spiritual seseorang.
Pada akhirnya, pertanyaan psikologis terbesar bukanlah apakah manusia mampu bertahan hidup di Bulan? Melainkan, apakah para penghuni Bulan akan merasa sebagai pionir yang memperluas peradaban manusia, atau justru sebagai orang-orang yang terasing dari satu-satunya dunia yang memungkinkan mereka hidup.





