Menko Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menjelaskan Indonesia sudah mengalami kerugian dari praktik pencurian ikan. Kerugian tersebut menurutnya kini sudah mencapai triliunan rupiah.
Menurutnya, hal itu bisa terjadi karena kebijakan di sektor perikanan dan kelautan tidak menjadi prioritas selama puluhan tahun.
“Sumber daya kekayaan ikan kita yang dicuri, itu berapa triliun? Tuh, ratusan T nya. Kenapa? karena (nelayan) kita tidak berdaya. Kebijakan-kebijakan tadi tidak menjadi prioritas utama,” kata Zulhas dalam peresmian Ocean Institute of Indonesia di Kantor KKP, Jakarta pada Selasa (21/7).
Zulhas juga menyebut, hal itu menjadi salah satu alasan Indonesia tertinggal di sektor perikanan dari beberapa negara di ASEAN, seperti Thailand dan Vietnam.
“Kita masih tertinggal jauh dibandingkan negara tetangga di ASEAN, yaitu Thailand dan Vietnam. Kalau saya melihat, mengapa kita tertinggal jauh? Memang selama 80 tahun, sektor kelautan belum menjadi skala prioritas utama,” ujarnya.
Hal itu menurutnya juga membuat nelayan Indonesia tertinggal dan tak berdaya. Ia mendetailkan bahwa ketidakberdayaan nelayan Indonesia terjadi baik dari sisi keterampilan maupun sisi permodalan.
Di sisi lain, Zulhas juga menuturkan banyak fenomena di mana hasil tangkapan nelayan Indonesia juga akhirnya dihargai murah.
“Saat nelayan memperoleh banyak ikan, harga yang ditawarkan justru murah. Kalau tidak dijual, ikannya akan busuk. Akhirnya mereka menjual dengan harga rendah, padahal sebenarnya mereka merugi,” kata Zulhas.
Kondisi tersebutlah menurutnya yang membuat nelayan Indonesia terus merugi. Situasi itu diperparah dengan adanya tengkulak yang menjerat nelayan dengan utang. Hal itulah yang menurut Zulhas menjadi perbedaan antara kondisi nelayan di Indonesia dengan nelayan di Thailand maupun Vietnam.
“Hampir rata-rata nelayan Indonesia berada dalam kondisi seperti itu. Mereka meminjam uang dalam jumlah besar, dan ketika melaut hasil tangkapannya harus disetor kepada tengkulak. Sementara itu, nelayan Thailand dan Vietnam mampu meningkatkan kesejahteraannya. Dari kapal kecil mereka berkembang menjadi kapal besar, kemudian menguasai perairan yang luas, bahkan masuk ke wilayah laut kita,” ujarnya.





