Industri daging sapi Amerika Serikat melalui US Meat Export Federation (USMEF) menegaskan Indonesia merupakan salah satu pasar strategis di kawasan Asia Tenggara.
Regional Director Asean US Meat Export Federation (USMEF), Sabrina Yin, mengatakan meski pangsa pasar daging sapi AS di Indonesia belum besar, produk asal Negeri Paman Sam memiliki segmen pasar tersendiri, terutama di sektor hotel, restoran premium, hingga jaringan restoran yang menggunakan potongan daging tertentu.
"Produk kami berbeda dibandingkan daging sapi grass-fed dari Brasil maupun buffalo India. Kami memiliki kualitas tersendiri dan market-nya juga berbeda," kata Sabrina dalam acara Food and Hospitality (FHI) 2026 di JIEXPO, Jakarta, Selasa (21/7).
USMEF mencatat ekspor daging sapi AS ke Indonesia mencapai 4.736 metrik ton hingga Mei tahun ini. Sementara itu ekspor daging babi berada di kisaran 1.500 metrik ton, meski komoditas tersebut bukan menjadi fokus utama pasar Indonesia.
"Sampai dengan bulan Mei produk Amerika yang diekspor ke Indonesia hanya 4.736 metric ton untuk beef. Untuk pork sekitar 1.500-an [ton,]" ungkap Country Representative US Meat Export Federation, Arrofi Alam.
Meski demikian, Arrofi menilai permintaan terhadap daging sapi premium asal AS masih terus berkembang.
"Kami punya kualitas yang berbeda, grain-fed, corn-fed, yang punya market-nya sendiri dan market-nya growing. Demand-nya besar," ujar Arrofi.
USMEF juga menyebut daging sapi AS bukan pemain baru di Indonesia. Produk tersebut telah masuk ke pasar domestik sejak era 1990-an melalui sejumlah importir yang sudah lama memasok daging premium ke Indonesia.
Terkendala Regulasi ImporDi sisi lain, USMEF menilai tantangan utama ekspor daging sapi AS ke Indonesia bukan berasal dari tarif impor, melainkan berbagai hambatan regulasi non-tarif.
Menurut asosiasi tersebut, keterbatasan alokasi impor bagi importir swasta serta keterlambatan penerbitan izin impor membuat pelaku usaha kesulitan mengatur pengiriman produk dari AS.
“Izin impor tahun ini yang seharusnya keluar Januari baru diterbitkan akhir Februari. Buat Amerika itu big loss karena pengiriman lewat laut membutuhkan waktu minimal 3 bulan," jelas Arrofi.
Dia pun menilai alokasi impor untuk importir swasta saat ini masih terbatas, yakni sekitar 30 ribu ton untuk seluruh negara asal. Kondisi ini membuat produk AS mesti bersaing dengan pasokan dari Brasil, Australia, maupun daging kerbau India.
“Tantangan yang ada di Indonesia saat ini kita banyak regulasi yang tidak terlalu menguntungkan untuk produk daging Amerika,” tuturnya.
Arrofi juga memandang proses persetujuan ekspor menuju Indonesia masih cukup panjang karena dilakukan berdasarkan persetujuan setiap fasilitas produksi (plant-by-plant approval), mulai dari penelaahan dokumen hingga audit lapangan yang bisa memakan waktu 3-5 tahun.
Atas dasar itu, USMEF berharap pembahasan kerja sama perdagangan antara RI dan AS dapat menghasilkan penyederhanaan mekanisme persetujuan menjadi system-by-system approval.
Sehingga fasilitas yang telah memenuhi standar United States Department of Agriculture (USDA) dan sertifikasi halal tidak perlu melalui proses perizinan yang berulang.





