jpnn.com, JAKARTA - Tunanetra Berwisata sukses menggelar kegiatan eksplorasi wisata di Taman Wisata Alam Angke Kapuk di area Pantai Indah Kapuk, Jakarta, baru-baru ini.
Ketua Panitia Tunanetra Berwisata Volume Ke-4, Nicky Hogan menyampaikan kali ini, Tunanetra Berwisata volume ke-4 menyelenggarakan olahraga mendayung kayak sebagai tantangan baru.
BACA JUGA: Mitra Netra Terbitkan Direktori Pekerjaan Tunanetra, Dorong Inklusi di Sektor Formal
“Mereka mengayuh kayak kurang lebih selama 2 jam mengarungi perairan di kawasan Hutan Bakau,” ungkap Nicky.
Dia mengungkapkan lewat kegiatan ini anggota komunitas mampu mengasah kepercayaan diri, kemandirian, sekaligus membahagiakan mereka melalui kegiatan wisata petualangan.
BACA JUGA: Kisah Inspiratif di Laga Timnas Indonesia, âTeman Bisikâ Bantu Tunanetra Rasakan Atmosfer Stadion
Total sebanyak 10 peserta dalam petualangan kali ini. Dari jumlah peserta itu, sebagian besar merupakan pasangan tunanetra (suami-istri), yang sudah diseleksi kesiapannya melalui wawancara, mengingat kegiatan kali ini cukup ekstream.
Petualangan juga ditemani para volunteer atau sukarelawan yang kebanyakan merupakan pemain kayak berpengalaman (kayakers) yang bertugas menemani sebagai pendamping atau instruktur dayung. Satu peserta kayak didampingi satu instruktur pendamping untuk memastikan keselamatan mereka.
Menurut Nicky, persiapan petualangan wisata ekstrem bagi para tunanetra ini cukup panjang. "Karena ini konsep yang sedikit nyeleneh, sedikit ekstrem. Termasuk survei di lokasi, di taman mangrove di Peak,” kata Nicky.
Diskusi panjang juga dilakukan dengan fokus utama menyelaraskan data dan memilih para peserta, yang sebagian berasal dari Yayasan Mitra Netra dan sebagian lainnya merupakan peserta independen yang dinilai siap untuk merasakan langsung petualangan berkayak ini.
"Dari beberapa peserta yang terpilih untuk mengikuti kegiatan ini, tim mencoba untuk datang langsung menemui dan mewawancarai kesiapan mereka menjelang hari keberangkatan,” ujar Nicky.
Kabag Administrasi Yayasan Mitra Netra Tri Winarsih menyambut baik inisiatif kegiatan wisata tunanetra tersebut.
Sebagai yayasan mitra dari Komunitas Tunanetra Berwisata, ia berterima kasih telah memberdayakan para tunanetra supaya lebih mandiri, cerdas dan bermakna bagi masyarakat. "Saya senang sekali. Terima kasih sekali itu. Jadi yang tidak tertangani di sini, tetapi ada lembaga atau komunitas yang mau berkontribusi seperti itu,” ujar Tri.
Inisiator komunitas Sergio Kurnianto Rustan (Oci) menjelaskan petualangan tunanetra telah sukses digelar yakni volume ke-1 berpetualang masuk hutan, volume ke-2 snorkeling, lalu ke-3 mencoba scuba diving.
"Nah, yang keempat mencoba mendayung kayak. Kami mau menyambut, mau menyenangkan, mau membahagiakan 10 orang tunanetra. Kalau kita bicara tunanetra berwisata, jadi yang kita ajak berwisata adalah para tunanetra dan pasangannya, totally blind," katanya.
Pengalaman tidak terlupakan
Petualangan mendayung kayak bagi tunanetra menjadi pengalaman yang tidak akan terlupakan. Misalnya bagi Supingatun, seorang tunanetra sejak lahir.
Atun, demikian orang-orang memanggilnya, sehari-hari merupakan ibu rumah tangga dengan keterampilan tukang pijat.
Ketika menerima tawaran berwisata mendayung kayak, segera saja ia setuju.
"Bapaknya (suami) yang pertama kali ditawari, terus mengajak saya, ya sudah, ayo saja, gitu. Saya itu membayangkan 'kayak' itu seperti apa, saya enggak tahu. Tetapi kalau perahu yang di Anyer itu, saya pernah naik. Jadi penasaran, ingin tahu,” ucap Atun.(era/jpnn)
Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul




