Perajin busur panah asal Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Dwi Doto membuat busur dan anak panah demi memfasilitasi atlet pemula. Produk lokal dengan brand Asterion itu tak kalah mentereng dari produk impor. Pesanan sudah sampai ke Malaysia dan Singapura.
Dwi yang juga sebagai Owner Arrow Bambu Purworejo punya tagline yang diusungnya, yakni "Semua Profesional Berawal dari Pemula". Dari keinginan mulia itulah produk busur dan anak panah lokal yang bisa digunakan untuk usia jenjang TK dan SD hadir. Ia juga menyiapkan perlengkapan untuk atlet dewasa.
"Busur dan anak panah yang kami buat tidak berat. Bahan busurnya terbuat dari fiber bending. Sedangkan anak panahnya dibuat dari bambu betung. Produk ini tahan cuaca," katanya kepada kumparan, Selasa (21/7).
Produk dalam negeri dengan brand Asterion itu dibentuknya pada 2021 silam. Berangkat dari keinginan memfasilitasi para pemanah pemula, ia membuat busur dan anak panah dengan harga terjangkau.
"Harga bow set Rp 500 ribu. Harga tersebut di luar anak panah," terangnya.
Selain anak panah dan busur, beragam kebutuhan atlet panahan disediakannya. Mulai dari bow stand yang dibuat dari bambu, finger tab dari kulit sapi, dan quiver.
"Produk kami cocok digunakan untuk klub panahan maupun kegiatan ekstrakurikuler di sekolah," terangnya.
Keinginannya menjembatani kebutuhan atlet dengan harga terjangkau tak selalu berjalan mulus. Ia mengaku kesulitan memasarkan produknya itu lantaran jarang ada pihak penyelenggara kejuaraan panahan yang memberikan tempat untuk membuka lapak.
"Padahal kualitas kami jamin sudah oke kalau beli di kami satu set Rp 1 juta sudah siap pakai. Kalau produk impor, harga busurnya saja itu mencapai Rp 2 juta," jelasnya.
Kualitas produk tetap menjadi hal utama yang menjadi perhatian. Bahkan proses pembuatan anak panah dan busur membutuhkan waktu yang lumayan lama.
Bambu sebagai bahan baku utama dipotong-potong terlebih dahulu. Kemudian direndam di air selama lima bulan. Proses merendam bambu itu bertujuan agar mendapatkan kualitas bambu yang bagus.
Setelah itu, proses selanjutnya bambu dijemur dan difumigasi. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan bau tak sedap yang berasal dari bambu.
Kemudian, bambu dihaluskan dan diluruskan untuk dijadikan anak panah. Sementara itu, dalam sekali pembuatan, Dwi mampu membuat sepuluh ribu pcs anak panah.
Pesanan di dalam negeri datang dari Bandung, Medan, Bengkulu, dan Manado. Pesanan juga datang dari luar negeri. Tepatnya dari negeri Jiran Malaysia serta dari negara Singapura.
Mayoritas, satu pembeli bisa memesan hingga dua sampai lima lusin. Sebenarnya pesanan juga datang dari negara lain. Salah satunya negara Turki. Akan tetapi biaya dan ongkos kirim yang jauh lebih besar dibandingkan harga produk, membuatnya pikir-pikir.
"Biaya pengiriman dan ongkir yang mahal membuat kami belum bisa memenuhi permintaan ke negara lain selain Malaysia dan Singapura," ungkapnya.
Keberadaan event MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 menjadi berkah baginya. Ia didukung oleh salah satu pengurus Persatuan Panahan Indonesia (Perpani), Abdul Rozak serta pihak Bakti Olahraga Djarum Foundation untuk menggelar lapak guna mempromosikan produknya.
"Kami diajak pihak Bakti Olahraga Djarum Foundation untuk membuka stand di sini. Kami berterima kasih sudah di-support," imbuhnya.
Sementara itu, Pelatih Tim Panahan Purworejo, Sumarlan, yang juga berkolaborasi dengan Dwi mengaku produk anak panah dan busur tersebut berkualitas. Ia mengungkapkan jangkauan busur berkisar lima meter sampai 30 meter.
"Kami memang membuat busur dan anak panah yang tidak berat. Fungsinya untuk pemantapan teknik. Supaya anak-anak tidak berat ketika menarik busurnya," ungkapnya.
Tak lupa, ia berterima kasih kepada Bakti Olahraga Djarum Foundation yang telah memfasilitasi tempat untuk mengenalkan produk perlengkapan panahan lokal. Sehingga produk lokal semakin dilirik.
"Event Kejurnas ini ajang terbesar yang kami ikuti dengan membuka lapak. Biasanya hanya event lokalan saja di daerah Purworejo," imbuhnya.
Event MilkLife Archery Challenge Kejurnas Junior 2026 ini digelar pada 22-29 Juli 2026 di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah. Para atlet sudah melaksanakan official training dan equipment check pada Selasa (21/7).
Reporter: Vega M. Ula





