PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) masih menghadapi tekanan kinerja yang besar hingga semester I-2026. Meski pendapatan meningkat, emiten konstruksi pelat merah tersebut masih membukukan rugi besar dan beban utang tetap tinggi.
Berdasarkan laporan keuangan semester I-2026, Waskita mencatat rugi bersih sebesar Rp1,92 triliun, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp2,3 triliun.
Di sisi lain, pendapatan usaha naik signifikan 58,5% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp4,91 triliun, dibandingkan Rp3,10 triliun pada semester I-2025.
Namun, kenaikan pendapatan tersebut tidak diikuti perbaikan profitabilitas. Beban pokok pendapatan justru melonjak menjadi Rp4,41 triliun, dari sebelumnya Rp2,44 triliun.
Dari sisi neraca keuangan, total aset Waskita hingga 30 Juni 2026 tercatat Rp68,08 triliun, turun dari Rp70,73 triliun pada akhir 2025.
Aset lancar menyusut menjadi Rp14,85 triliun dari Rp16,89 triliun, sedangkan aset tidak lancar turun tipis menjadi Rp53,22 triliun dari Rp53,84 triliun.
Di saat yang sama, total liabilitas atau kewajiban perusahaan masih sangat besar, yakni Rp66,53 triliun, hanya sedikit lebih rendah dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp67,06 triliun.
Sedangkan ekuitas mengalami penurunan tajam. Hingga akhir Juni 2026, ekuitas Waskita hanya tersisa Rp1,55 triliun, merosot lebih dari separuh dibandingkan posisi akhir Desember 2025 yang masih mencapai Rp3,67 triliun.
Baca Juga: Harga Saham Melonjak Tak Wajar, BEI Pelototi Gerak SMLE, KOKA, dan VERN
Baca Juga: Investor Keluhkan Pencairan Reksa Dana, Begini Gerak Saham Maybank
Baca Juga: Moody’s Ingatkan Risiko Fiskal Indonesia Meningkat, Ini Faktor yang Jadi Sorotan
Total utang jangka pendek Waskita tercatat Rp20,32 triliun. Nilai pinjaman bank yang jatuh tempo dalam waktu satu tahun turun menjadi Rp5,54 triliun dari sebelumnya Rp15,94 triliun.
Sebaliknya, utang obligasi meningkat menjadi Rp2,74 triliun, dari Rp2,08 triliun.
Adapun utang jangka panjang justru naik cukup tajam menjadi Rp46,20 triliun, dibandingkan Rp33,95 triliun pada akhir 2025.
Peningkatan tersebut terutama berasal dari kenaikan pinjaman bank jangka panjang kepada pihak berelasi menjadi Rp15,65 triliun, serta lonjakan utang kepada pihak ketiga menjadi Rp15,08 triliun, atau meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan akhir tahun lalu.





