Jakarta, tvOnenews.com - Di balik statusnya sebagai kota metropolitan yang sibuk, Jakarta tetap menjaga kekayaan historisnya melalui deretan bangunan peninggalan zaman Belanda.
Arsitektur bersejarah ini tidak hanya berdiri dengan megah, tetapi juga tetap difungsikan secara aktif dan bisa diakses oleh masyarakat umum yang ingin mengenal masa lalu kota lebih dekat.
Kelima bangunan yang direkomendasikan ini menawarkan pengalaman menyelami arsitektur serta cerita masa lalu Batavia.
Perencanaan yang matang, termasuk memastikan ketersediaan tiket pesawat bagi yang berasal dari luar kota, menjadi langkah awal untuk menikmati perjalanan sejarah ini dengan nyaman.
Rute kunjungan dapat diatur secara efisien dalam satu hari, dimulai dari kawasan utara Jakarta hingga berakhir di Menteng.
Bagi wisatawan yang terbang dari kota lain, membandingkan harga dan jadwal penerbangan, seperti untuk tiket pesawat medan jakarta, dapat dilakukan lebih dulu untuk mengoptimalkan waktu dan biaya perjalanan.
Lantas, apa saja bangunan peninggalan era kolonial yang masih ada hingga saat ini? Simak ulasan berikut ini sampai selesai.
1. Gedung Arsip Nasional (ANRI)
Gedung Arsip Nasional di Jalan Gajah Mada merupakan satu-satunya rumah besar (landhuis) dari abad ke-18 yang masih utuh di Jakarta.
Bangunan ini awalnya dibangun sekitar tahun 1760 sebagai rumah peristirahatan milik Reinier de Klerk, yang kemudian menjadi Gubernur Jenderal VOC.
Setelah melalui berbagai fungsi, gedung ini menjalani pemugaran besar-besaran dan pada tahun 2001 meraih penghargaan UNESCO Asia-Pacific Cultural Heritage Award.
Arsitekturnya memadukan gaya Klasik dan Renaissance dengan langit-langit tinggi dan jendela yang dapat digeser vertikal untuk menyesuaikan iklim tropis.
Saat ini, gedung berfungsi sebagai kantor unit ANRI sekaligus ruang pamer yang menampilkan koleksi mebel antik dan arsip sejarah.
2. Gereja Sion (GPIB Jemaat Sion)
Gereja Sion di Jalan Pangeran Jayakarta dikenal sebagai gereja tertua di Jakarta yang masih berfungsi sesuai tujuan awalnya.
Peletakan batu pertamanya dilakukan pada 19 Oktober 1693, dan gereja ini dikonsekrasi dua tahun kemudian.
Gereja ini dibangun oleh VOC untuk kaum Mardijkers, keturunan Portugis yang dibebaskan dari perbudakan, di atas bekas lahan pemakaman di luar tembok kota Batavia.




