Sepertiga Remaja Indonesia Hadapi Masalah Mental, Dibutuhkan Deteksi sejak Dini

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Gangguan kesehatan mental pada remaja di Indonesia ternyata jauh lebih besar daripada yang selama ini terlihat. Di balik anggapan bahwa masa remaja identik dengan tubuh yang sehat dan bugar, para dokter anak mengingatkan bahwa jutaan remaja justru menyimpan masalah fisik dan psikologis yang tidak terdeteksi.

Berdasarkan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey tahun 2022, sekitar 15,5 juta remaja atau hampir sepertiga populasi mengalami masalah kesehatan mental.

”Sering kali kita mengira anak-anak jarang mengalami gangguan mental. Padahal bukan begitu, melainkan banyak yang tidak terdeteksi. Karena itu dibutuhkan kepekaan orangtua,” kata Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso saat membuka diskusi daring mengenai kesehatan anak dan remaja, Selasa (21/7/2026).

Menurut Piprim, lingkungan keluarga menjadi faktor yang sangat menentukan. Pola asuh yang penuh tekanan, tuntutan akademik yang berlebihan dari orangtua, hingga minimnya kasih sayang dapat menjadi pemicu gangguan mental pada anak. Di sisi lain, lingkungan sekolah dengan kasus perundungan juga memperbesar risiko tersebut.

”Konsep pengasuhan yang baik adalah asih, asuh, dan asah secara seimbang. Jangan sampai anak tumbuh dalam tekanan yang justru memicu gangguan mental,” ujarnya.

Baca JugaKesehatan Mental Remaja Membayangi Visi Indonesia Emas
Baca JugaRemaja dengan Masalah Kesehatan Mental Menggunakan Media Sosial secara Berbeda

Peringatan itu mengemuka di tengah meningkatnya perhatian terhadap kasus bunuh diri pada anak dan remaja. Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Angga Wirahmadi, mencontohkan sejumlah kasus yang terjadi belakangan.

”Minggu lalu di Padang (Sumatera Barat) ada remaja yang membawa bom yang kemudian meledak di sekolah, diduga dalam rangka bunuh diri. Di awal tahun juga muncul laporan bahwa kasus bunuh diri anak di Indonesia termasuk yang tertinggi di Asia Tenggara. Hingga saat ini sudah empat anak meninggal akibat bunuh diri sejak awal tahun,” katanya.

Menurut Angga, berbagai kasus tersebut menunjukkan bahwa remaja bukanlah kelompok usia yang benar-benar bebas dari masalah kesehatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan mendefinisikan kesehatan sebagai kondisi yang mencakup kesehatan fisik, mental, dan sosial, bukan sekadar bebas dari penyakit.

”Remaja memang terlihat sehat. Mereka kuat, aktif berolahraga, tetapi justru pada fase inilah berbagai faktor risiko mulai terbentuk, baik untuk penyakit fisik maupun kesehatan mental di masa depan,” ujarnya.

Ironisnya, hanya sekitar 10 persen remaja di Indonesia yang mengalami gangguan mental mencari pertolongan kepada tenaga kesehatan.

Sepertiga remaja alami masalah mental

Indonesia saat ini memiliki sekitar 46 juta remaja. Berdasarkan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey tahun 2022, sekitar 15,5 juta remaja atau hampir sepertiga populasi mengalami masalah kesehatan mental. Dari jumlah tersebut, sekitar satu dari 20 remaja telah memenuhi kriteria diagnosis gangguan mental, mulai dari gangguan kecemasan, depresi, hingga gangguan perilaku dan hiperaktivitas.

Secara global, WHO memperkirakan satu dari tujuh remaja mengalami gangguan mental. Depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku menjadi masalah yang paling banyak ditemukan. Bahkan, bunuh diri kini menjadi salah satu penyebab utama kematian pada kelompok usia muda.

”Ironisnya, hanya sekitar 10 persen remaja di Indonesia yang mengalami gangguan mental mencari pertolongan kepada tenaga kesehatan. Sebagian besar tidak pernah datang ke dokter atau psikolog. Padahal, gangguan mental bisa dikenali lebih awal jika orangtua maupun dokter peka terhadap gejalanya,” kata Angga.

Menurut Angga, masa remaja merupakan periode transisi yang penuh perubahan. Perubahan fisik akibat hormon, perkembangan otak, perubahan cara berpikir, hingga pencarian identitas membuat remaja lebih rentan mengalami gangguan psikologis.

Pada fase ini, bagian otak yang mengendalikan emosi dan pengambilan keputusan belum berkembang sempurna. Kematangan fungsi tersebut bahkan baru tercapai setelah usia sekitar 24 tahun. ”Kondisi itu membuat remaja lebih emosional, lebih impulsif, dan lebih mudah dipengaruhi lingkungan maupun media sosial,” ujarnya.

Tekanan untuk diterima oleh kelompok sebaya juga membuat remaja lebih mudah terpapar perilaku berisiko, mulai dari merokok, penyalahgunaan obat, konsumsi alkohol, hingga perjudian daring.

Selain itu, paparan media sosial yang berlebihan ikut memperbesar risiko kecemasan dan depresi. Angga menyebut, penggunaan media sosial lebih dari dua jam sehari perlu menjadi perhatian, terutama bila membuat remaja lebih nyaman berinteraksi di dunia maya dibandingkan kehidupan nyata.

Baca JugaKrisis Kesehatan Mental Melonjak di Kalangan Remaja
Baca JugaKesehatan Mental Anak Muda Modal Pemanfaatan Bonus Demografi

Menurut Angga, gangguan mental pada remaja sering kali tidak tampak jelas. Karena itu, orangtua perlu mengenali perubahan perilaku yang muncul. Pada remaja yang mengalami depresi, gejalanya antara lain kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, energi menurun, nafsu makan berubah, merasa tidak berharga, hingga terus-menerus menyalahkan diri sendiri.

Sementara gangguan kecemasan dapat ditandai dengan rasa khawatir berlebihan (overthinking), sulit tidur, menghindari situasi tertentu, gelisah, hingga keluhan fisik seperti sakit perut tanpa penyebab yang jelas. ”Gejala-gejala ini sering dianggap hanya perubahan perilaku biasa pada remaja, padahal bisa menjadi tanda awal gangguan mental,” ujar Angga.

Penapisan rutin

Untuk mendeteksi masalah lebih dini, IDAI mendorong dokter anak menggunakan pendekatan HEEADSSS, yaitu wawancara menyeluruh mengenai kehidupan remaja. Metode ini mengeksplorasi berbagai aspek kehidupan, meliputi kondisi mulai dari rumah (home), pendidikan dan pekerjaan (education/employment), pola makan (eating), aktivitas (activities), penggunaan obat-obatan (drugs), seksualitas (sexuality), risiko bunuh diri atau depresi (suicide/depression), serta keamanan diri (safety).

Pendekatan tersebut dilakukan melalui percakapan yang santai dan tidak menghakimi sehingga remaja merasa nyaman untuk bercerita mengenai masalah yang mereka hadapi. "Dengan pendekatan yang menyenangkan, remaja lebih terbuka sehingga dokter bisa mengetahui faktor-faktor risiko yang mungkin tidak terlihat dalam pemeriksaan fisik biasa," kata Angga.

Faktor-faktor seperti kondisi keluarga yang tidak harmonis, kekerasan dalam rumah tangga, perundungan, kecanduan media sosial, hingga pengalaman kekerasan perlu digali karena berkaitan erat dengan kesehatan mental remaja.

Kementerian Kesehatan kini mendorong seluruh remaja menjalani penapisan atau skrining kesehatan jiwa minimal satu kali setiap tahun, baik memiliki keluhan maupun tidak.

AI dapat dimanfaatkan untuk memperoleh informasi atau membantu masalah psikologis ringan, tetapi tidak boleh menggantikan diagnosis maupun terapi yang dilakukan tenaga kesehatan profesional.

Menurut Angga, deteksi dini menjadi investasi penting karena gangguan mental pada masa remaja dapat berdampak panjang terhadap kualitas hidup seseorang. Selain mengganggu prestasi belajar dan hubungan sosial, gangguan mental yang tidak ditangani juga meningkatkan risiko penyalahgunaan zat, kekerasan, hingga bunuh diri.

"Remaja adalah investasi masa depan bangsa. Karena itu, kesehatan mental mereka harus dijaga sejak dini, bukan menunggu sampai muncul gangguan yang berat," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Angga juga mengingatkan masyarakat agar bijak memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI). Menurut dia, AI dapat dimanfaatkan untuk memperoleh informasi atau membantu masalah psikologis ringan, tetapi tidak boleh menggantikan diagnosis maupun terapi yang dilakukan tenaga kesehatan profesional.

"Kalau sudah mengarah pada gangguan mental, tetap harus diperiksa oleh tenaga kesehatan. Jangan mengandalkan AI sebagai alat diagnosis atau terapi," katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bupati Lombok Barat tiba di KPK usai diamankan terkait dugaan korupsi
• 22 jam laluantaranews.com
thumb
Menyamar Jadi Polisi demi Memikat Wanita Idaman, Pemuda di Jember Ditangkap
• 11 jam lalurctiplus.com
thumb
KLH Usul Ratusan Ribu Hektare Wilayah di Sumatra Bebas dari Pembangunan
• 5 jam lalukatadata.co.id
thumb
Tak Ada Angin Tak Ada Hujan, Rizky Ridho Jadi Sorotan Media Italia Jelang Timnas Indonesia Tampil di Piala AFF
• 19 menit lalutvonenews.com
thumb
Resmi! Andy Burnham Jadi PM Baru Inggris, Umumkan Kebijakan Pertamanya
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.