Studi Ungkap Pendekatan Baru Atasi Obesitas pada Pasien Skizofrenia

metrotvnews.com
5 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Perkembangan terapi penyakit metabolik dalam beberapa tahun terakhir kian didorong oleh hasil uji klinis yang mengevaluasi manfaat pengobatan pada kelompok pasien dengan kebutuhan medis kompleks.

Temuan terbaru yang dipublikasikan jurnal JAMA Psychiatry melaporkan penggunaan obat semaglutide pada pasien skizofrenia dengan kondisi prediabetes serta obesitas atau kelebihan berat badan, mampu memberikan perbaikan signifikan pada parameter metabolik, tanpa memicu perburukan gejala kejiwaan.

Studi ini dinilai menjadi bukti klinis penting terkait krusialnya penanganan gangguan metabolik pada penderita gangguan jiwa berat. 

Selama ini, perhatian terhadap pasien skizofrenia cenderung berfokus pada pengendalian gejala psikiatri semata. Padahal, riset menunjukkan kelompok pasien ini memiliki risiko lebih tinggi mengalami obesitas, prediabetes, diabetes melitus tipe dua, hingga penyakit kardiovaskular ketimbang masyarakat umum.

Tingginya risiko tersebut dipengaruhi berbagai faktor. Mulai dari pola makan, aktivitas fisik, genetik, hingga efek samping penggunaan obat antipsikotik generasi kedua yang dapat memicu kenaikan berat badan serta memengaruhi metabolisme glukosa.

Baca Juga :

Perkuat Tata Laksana Penyakit Metabolik di Indonesia, APL Hadirkan Tirzepatide
Hasil Uji Klinis Dalam penelitian bertajuk Semaglutide Treatment of Antipsychotic-Treated Patients With Schizophrenia, Prediabetes, and Obesity: The HISTORI Randomized Clinical Trial, peneliti melibatkan 154 pasien berusia 18–60 tahun yang sedang menjalani terapi antipsikotik generasi kedua. Seluruh peserta tercatat mengalami prediabetes dan obesitas.

Para peserta dibagi secara acak untuk menerima suntikan semaglutide dosis 1 miligram atau plasebo selama 30 minggu. Selama uji klinis, mereka tetap melanjutkan terapi antipsikotik utama agar peneliti dapat menilai efek intervensi metabolik secara murni tanpa mengganggu pengobatan jiwa.

Hasilnya, kelompok yang menerima semaglutide mengalami penurunan berat badan rata-rata sebesar 9,21 kg. Kemudian, kadar HbA1c atau indikator rata-rata gula darah 2–3 bulan turun 0,46 persen dibandingkan kelompok plasebo.

Penelitian ini juga mendapati 81 persen peserta di kelompok semaglutide berhasil mencapai kadar HbA1c normal (di bawah 5,7 persen). Sementara, pada kelompok plasebo hanya 19 persen.

Selanjutnya, peserta yang menerima semaglutide mengalami peningkatan kolesterol baik (HDL), penurunan trigliserida, serta perbaikan kualitas hidup fisik.

Medis ilustrasi. Dok Medcom.id. Aman untuk Stabilitas Kesehatan Mental Salah satu perhatian utama riset ini adalah menjaga stabilitas mental pasien. Berdasarkan evaluasi, peneliti tidak menemukan adanya perburukan gejala skizofrenia atau penurunan kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan mental selama masa penelitian.

Dari segi keamanan, efek samping yang paling umum dilaporkan adalah gangguan saluran cerna, sejalan dengan profil keamanan semaglutide pada penelitian-penelitian sebelumnya. Tidak ada perbedaan bermakna terkait kejadian efek samping serius antara kelompok semaglutide dan plasebo. Pentingnya Pendekatan Multidisiplin Temuan ini memperkuat imbauan berbagai organisasi kesehatan agar pemantauan berat badan, gula darah, dan profil lipid rutin dilakukan pada pasien yang mengonsumsi antipsikotik. Penanganan pasien tidak cukup hanya mengandalkan psikiater, tetapi juga memerlukan pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter spesialis penyakit dalam/endokrinolog dan ahli gizi.

Di Indonesia, hasil studi ini sangat relevan seiring dengan meningkatnya prevalensi obesitas dan diabetes melitus. Integrasi perawatan fisik dan mental menjadi langkah penting untuk menekan risiko komplikasi jangka panjang.

Studi ini secara khusus ditujukan untuk pasien skizofrenia dengan antipsikotik generasi kedua yang mengalami prediabetes dan obesitas, sehingga hasilnya tidak bisa digeneralisasikan ke seluruh populasi.

Penelitian ini tidak mengevaluasi semaglutide sebagai obat skizofrenia, melainkan sebagai terapi pemulihan kondisi metabolik. Uji klinis berlangsung selama 30 minggu, sehingga masih dibutuhkan penelitian lanjutan untuk memantau efek jangka panjangnya.

Di Indonesia sendiri, zat aktif semaglutide dipasarkan oleh Novo Nordisk melalui dua produk dengan fungsi berbeda; Ozempic (untuk diabetes melitus tipe 2) dan Wegovy (untuk manajemen berat badan). Meskipun zat aktifnya sama, keduanya merupakan obat resep yang penggunaannya wajib dengan pengawasan ketat dokter.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Banjarnegara mitigasi antisipasi Waduk Mrica jebol dengan KENCANA
• 21 menit laluantaranews.com
thumb
Pers, Kebebasan Berekspresi, dan Batas Etika di Ruang Publik
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Bapanas Ajak Pemda Perkuat Sinergi Jaga Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan
• 23 jam lalurepublika.co.id
thumb
Putri KW Lolos Ujian Pertama di China Open 2026, Lewati Adangan Wakil Tuan Rumah
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
Video: DPR Sahkan UU PFII, Indonesia Punya Pusat Keuangan Kelas Dunia
• 16 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.