Barista kelas dunia tidak muncul tiba-tiba. Mereka lahir dari proses pembelajaran panjang, pendampingan mentor, hingga sistem pendidikan berkelanjutan. Indonesia memiliki modal sekaligus sederet tantangan untuk mengantar barista ke panggung global.
Salah satu ajang untuk mencetak barista kelas dunia adalah Starbucks Barista Championship (SBC) 2026 yang digelar di Lippo Mall Kemang, Jakarta, Jumat-Minggu (17-19/7/2026). Dalam kompetisi tingkat nasional ini, sembilan barista partner Starbucks saling beradu racikan terbaik.
Mereka adalah Sabiella Renova, Arthur Randy Sandy FJ, Nabilla Sapira Yahya, Iklil Maulana Fadhly, Kadek Seina Febrian M, O’Hara Wolker, Aryo Dwi Samodro, Geralda Putri Rosari, dan Zefanya Van Till Sihombing. Mereka berasal dari Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Bali, dan Batam.
Iklil Maulana Fadhly meracik herbalist coffee sebagai menu kopi andalan (signature beverage), Jumat (17/7/2026) siang itu. Ia memadukan rempah-rempah khas Indonesia, seperti kayu manis, gula jawa, dan cengkeh, lalu menambahkan sentuhan rosemary untuk menambah aroma dan mempertegas karakter rasa kopi racikannya.
Herbalist coffee merupakan kreasi Iklil yang mengantarkannya tampil di SBC 2026. Minuman itu terinspirasi oleh wedang ronde yang menemani kenangan masa kecilnya. Lewat kreasi tersebut, Iklil meramu inovasi sekaligus menyisipkan cerita tentang akar budaya Indonesia.
”Minuman ini membawa inovasi, cerita, dan pesan yang ingin disampaikan,” ujar Iklil, yang mulai jatuh cinta pada kopi sejak kelas III SMP di sebuah pesantren di Bogor.
Bergabung sebagai barista paruh waktu (part-time) Starbucks Indonesia di gerai Terminal 3 International Landside Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, pada September 2024, Iklil terus mengasah keterampilan. Dalam kurun delapan bulan, ia dipercaya menjadi barista purnawaktu (full-time) sekaligus meraih sertifikasi Coffee Master—pengakuan atas penguasaan pengetahuan dan keterampilannya di bidang kopi.
Keseriusan Iklil pun tecermin saat mengikuti SBC 2026. Selama lebih dari sebulan, hampir setiap pekan ia menempuh perjalanan dari Tangerang ke Kelapa Gading, Jakarta Utara, untuk berlatih bersama mentornya. Setiap sesi latihan tak sekadar menyempurnakan teknik meracik kopi, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan mematangkan cerita yang ingin ia sampaikan lewat setiap cangkir kopi.
Perjalanan mengikuti SBC 2026 juga telah menempa Sabiella Renova. Sabiella, yang mengantongi sertifikasi Starbucks Advanced Coffee Master pada Mei 2024, mengikuti ajang kompetisi kopi itu untuk mengasah keterampilan dan membuka jalan menuju beragam peluang.
Bagi Sabiella, menjadi barista bukan sekadar meracik secangkir kopi. Ia menikmati setiap kesempatan untuk mengenalkan dunia kopi kepada pelanggan, sekaligus membangun hubungan yang lebih dekat melalui cerita di balik setiap cangkir yang disajikan. Proses belajar yang dijalani di Starbucks memperluas wawasannya.
Kompetisi SBC 2026, menurut Sabiella, dirasakan lebih dari sekadar ajang memperdalam pengetahuan tentang dunia kopi. Ia terpacu untuk terus mengevaluasi diri, memperdalam kemampuan, dan mempersiapkan diri lebih baik untuk kesempatan berikutnya.
”Kompetisi adalah ajang mencurahkan apa yang telah kita pelajari. Latihan dan persiapan banyak dilakukan untuk membangun diri menjadi semakin baik. Ini adalah ajang stress release bagi saya,” tutur Sabiella, yang bergabung di Starbucks Reserve Metropole Jakarta.
Kesembilan barista peserta SBC 2026 yang berusia 20-an tahun ini adalah pemenang dari kompetisi tingkat gerai, distrik, dan wilayah. Mereka mengungguli lebih dari 500 peserta lainnya. Dari sembilan perwakilan wilayah itu, Nabilla meraih juara ketiga, Geralda juara kedua, dan Seina tampil sebagai juara pertama SBC 2026.
Fellicia Andrean, kepala juri SBC 2026, mengatakan, jalan barista menuju panggung dunia memang tidak mudah. Sebab, mereka harus membagi waktu antara bekerja dan berlatih meracik kopi. ”Mereka pasti kesulitan mencari waktu untuk latihan. Ini yang kami coba fasilitasi,” ungkap juara kedua SBC 2016 ini.
Di Starbucks, terdapat tim coffee and partner engagement yang mendukung para barista untuk berkompetisi. Seina, misalnya, akan menjalani ”karantina” sekitar tiga bulan menjelang kompetisi SBC tingkat Asia Pasifik. Bahkan, terdapat area khusus pelatihan di Jalan Adhyaksa, Jakarta Selatan, yang dilengkapi dengan beragam peralatan mutakhir. Harapannya, barista bisa lebih fokus mempersiapkan diri.
”Nanti, kami akan atur jadwal latihannya dan meminta izin kepada pimpinannya. Kami akan dukung dengan pelatihan, biaya, mentor, pokoknya yang terbaik,” ujar Fellicia, Senior Manager Coffee and Partner Engagement Starbucks Indonesia.
Selain keahlian meracik kopi, Seina juga akan mengasah keterampilan berbicara, bercerita, hingga berbahasa Inggris. Tidak menutup kemungkinan, pihaknya mengundang tim dari luar Starbucks untuk memoles persiapan Seina.
”Barista-barista Indonesia sangat kreatif, tetapi yang menjadi tantangan kalau berkompetisi di tingkat regional dan global itu adalah bahasa Inggris. Ini yang harus dilatih terus,” ucapnya. Meski demikian, Fellicia optimistis barista Indonesia mampu bersaing di skala Asia Pasifik, bahkan berada di peringkat tiga teratas bersama Jepang dan Malaysia.
Pada 2025, misalnya, George Wenno menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia serta Asia dan Pasifik dalam Starbucks Global Barista Championship di Amerika Serikat. Jauh sebelum itu, pada 2015 Ryan Wibawa juga mewakili Indonesia untuk bertarung dalam ajang serupa di tingkat Asia Pasifik.
”Sebenarnya, cara menuju panggung dunia itu adalah melalui kompetisi, apalagi yang berjenjang, seperti yang dibuat Starbucks,” ujar Ryan, peraih peringkat ketiga penyeduh kopi terbaik dunia (World Brewers Cup 2024) ini. Ryan pun mendorong para barista untuk tetap belajar dan berani berkompetisi di berbagai tingkatan.
Isman Ramadhan, pengajar ABCD School of Coffee, mengatakan, barista kini memiliki banyak akses untuk meningkatkan kompetensinya. ”Dulu, sekitar tahun 2007, kalau ada kompetisi barista, penyelenggaranya yang keliling jemput bola. Sekarang, kalau ada kompetisi manual brew, enggak sampai 10 menit pendaftaran sudah penuh,” ujarnya.
Kondisi itu, lanjutnya, tidak terlepas dari tumbuhnya industri kopi di Indonesia. Kedai kopi terus bermunculan dan kompetisi digelar hampir setiap minggu. Barista pun perlu meningkatkan kompetensinya melalui pelatihan. Bahkan, pemilik kedai kopi ikut terjun belajar menjadi barista.
”Dari awal kami membuka sekolah kopi pada 2011 sampai tiga kali pindah tempat, kelas selalu ramai meskipun berbayar. Umumnya, yang ikut pelatihan itu pemiliknya (owner),” ujarnya.
Meski demikian, upaya mencetak barista kelas dunia juga menghadapi tantangan. ”Tantangannya itu harga kopi yang mahal, terbatasnya stok kopi, dan persaingan memperebutkan barista. Barista yang tidak mendapatkan sponsor juga harus mengeluarkan biaya sendiri untuk sertifikasi dan lainnya,” ujar Isman.
CEO Starbucks Indonesia Anthony McEvoy mengungkapkan, ketika seseorang bergabung dengan Starbucks, mereka diistilahkan sebagai green bean. Artinya, potensinya sudah ada, tetapi belum sepenuhnya berkembang. Pelatihan untuk mengasah keterampilan dilakukan di ruang-ruang kelas hingga gerai simulasi.
Biasanya, diperlukan waktu sekitar sembilan bulan hingga satu tahun sampai kemampuan mereka berkembang ke titik di mana mereka tidak lagi dinilai sebagai green bean. Pada tahap itu, potensi mereka sebagai barista mulai benar-benar terlihat. Setelah itu, barista berkesempatan untuk menjadi coffee master. Untuk mencapai tingkat tersebut, mereka tidak hanya harus mahir membuat minuman, tetapi juga memahami teori di balik kopi.
Setelah menjadi coffee master, barista dapat berkembang menjadi district coffee master atau coffee ambassador, dan selanjutnya menjadi specialist. Pada level ini, mereka mendalami aspek teknis dan ilmiah mengenai kopi, seperti cara menciptakan minuman baru, memahami pengaruh tekanan mesin, suhu air, profil rasa, hingga detail lain yang memengaruhi hasil akhir secangkir kopi.
Anthony menambahkan, barista-barista Starbucks memiliki kecintaan yang luar biasa pada kopi. Banyak hal yang mereka pelajari atas inisiatif sendiri. Pihaknya menginvestasikan banyak usaha untuk mengembangkan barista dalam jalur kariernya. Ada banyak pilihan karier bagi para barista, yakni jalur spesialis dan jalur manajemen (generalis).
”Tugas kami adalah menyediakan jalur dan kesempatan bagi mereka untuk terus berkembang,” lanjutnya.
Ketika seseorang sudah menjadi sangat ahli (specialist) di bidang kopi, lanjut Anthony, jalur karier terbuka untuk terus menekuni bidang tersebut secara profesional. Sebagian besar memilih menjadi spesialis karena mereka telah mendedikasikan begitu banyak waktu untuk kopi dan memiliki gairah yang sangat besar terhadap bidang tersebut.
Namun, ada juga yang memilih beralih ke jalur manajemen atau bergabung dengan tim kopi Starbucks. Misalnya, terlibat sebagai juri dalam berbagai kompetisi dan aktif berkecimpung di dunia kopi di luar Starbucks. Mereka yang sudah mendalami bidang seperti roasting juga dapat memilih jalur manajemen, mulai dari store manager, area manager, hingga ke tingkat manajemen operasional.
”Kesempatan yang tersedia sangat besar. Namun, sekali lagi, semua itu merupakan cerminan dari dedikasi dan kecintaan mereka terhadap kopi. Kami akan selalu mendukung mereka semaksimal mungkin,” ucap Anthony.
Chairman Specialty Coffee Association Indonesia (SCAI) Daryanto Witarsa berpendapat, hingga saat ini hanya 1-2 persen barista di Indonesia yang mengantongi sertifikasi internasional. Ia menilai sertifikasi sangat penting dalam jenjang karier barista. SCAI terus mendorong program sertifikasi internasional, serta mendapatkan bantuan dari pemerintah agar sertifikasi bisa diberikan secara lebih massal dan mudah.
”Sertifikasi menjadi dasar untuk menekuni profesi barista ataupun bekal menjadi wirausahawan,” kata Daryanto.
Ia menambahkan, kompetisi barista merupakan ajang pembentukan karakter dan wadah untuk mengetahui potensi mereka sebagai pemimpin pada masa depan. Karakter barista yang sesungguhnya akan terlihat ketika mereka mempersiapkan diri untuk latihan kompetisi.
”Banyak (barista) yang biasa sudah menjadi champion, mereka pasti bisa naik tingkatan. Karakter mereka sudah teruji,” ujar Daryanto.





