Bertahun-tahun Sekolah 3 Shift, SD Inpres Naimata Kupang Akhirnya Bebas Masalah Kelas Usai Direvitalisasi

medcom.id
13 jam lalu
Cover Berita
Kupang: Kurang lebih 40 tahun, SD Inpres Naimata di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) bertahan dengan enam ruang kelas. Murid yang jumlahnya 500-an orang memaksa sekolah dibagi menjadi tiga shift. 
 
shift pertama pagi hari untuk kelas 1, 5, dan 6. Lalu, kelas 1 pulang pukul 9.30, dilanjut kelas 2 masuk sekolah. Selanjutnya shift ketiga, yakni pukul 13.30, kelas 3 dan 4 masuk kelas. 
 
Tak cuma mesti sekolah hingga malam, kegiatan belajar mengajar yang mestinya satu mata pelajaran 35 menit mesti dipress hingga 20 menit. Ini agar tak berbenturan dengan jam masuk setelahnya. 

"Guru juga kewalahan mengatur jam termasuk kepala sekolahnya. Karena tidak mungkin kepala sekolah pulang di jam 13.00, sedangkan masih ada 200 lebih murid yang masih belajar di sekolah," cerita Kepala SD Inpres Naimata, Martinus Klau, saat berbincang di lokasi, Selasa, 21 Juli 2026. 
 
Beruntung, SD Inpres Naimata menjadi salah satu sekolah di Kota Kupang yang menerima bantuan revitalisasi pendidikan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) pada 2025. Jumlah dana yang diterima mencapai Rp3,1 miliar dan merupakan yang terbesar.  
 
Dana itu digunakan untuk membangun 12 ruang kelas baru, satu ruang administrasi yang juga digunakan untuk kepala sekolah, dan tiga unit toilet ramah disabilitas. Sekolah juga mendapat bantuan lima ruang kelas baru dari Pemkot Kupang. 
 
Atas revitalisasi itu, kini tidak ada lagi sekolah tiga shift. Kegiatan belajar mengajar kini berlangsung satu sif dari pukul 07.00 hingga 13.00. 
 
"Sekarang setelah revitalisasi, ini satu-satunya sekolah mungkin saya salah, tetapi setelah saya cek di Kecamatan Maulafa ini satu-satunya sekolah yang satu shift," kata Martinus.
 

Kepala SD Inpres Naimata, Martinus Klau. Medcom.id/Renatha Swasty
 
Karena itu pula, siswa yang tadinya berjumlah 526 siswa kini menjadi 539 siswa. Bahkan, berpotensi bertambah karena banyak orang tua yang memindahkan anaknya di SD Inpres Naimata. 
 
Ini lantaran orang tua banyak yang tidak bisa mengantar anaknya masuk sekolah siang karena mesti bekerja atau kegiatan lainnya. Jeckson menyebut, sekolah masih bisa menampung siswa sebab masih ada satu ruang kelas kosong. 
 
Penambahan ruang kelas ini juga membuat kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler dapat berjalan maksimal. Kegiatan tidak akan terhambat karena sudah tidak ada lagi kelas siang. 
 
Ruang kelas baru SD Inpres Naimata sendiri dibangun di atas lahan hibah seluas 1.600 meter persegi. Namun, mesti berbagi dengan SMK 8 yang lokasinya bersebelahan. 
 
Revitalisasi pendidikan di SD Inpres Naimata sudah rampung dan diresmikan Mendikdasmen Abdul Mu'ti pada 5 Mei 2026. Namun, masih ada sejumlah hal yang mesti ditambah agar kegiatan belajar mengajar makin baik.  Libatkan sumbangan ortu murid Revitalisasi pendidikan di SD Inpres Naimata turut melibatkan orang tua murid. Melalui Komite Sekolah, orang tua menyumbang untuk pembangunan paving block di tengah bangunan sekolah baru. 
 
"Sebelum pemasangan paving block ini, ini daerah berdebu. Kalau musim panas sangat berdebu dan kalau musim hujan sangat berlumpur. Saya selaku Ketua Komite menggerakan orang tua bahwa kalau kita mau menciptakan sekolah yang inklusif, aman, nyaman, dan ramah maka termasuk area di sini harus diamankan juga," ujar Ketua Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP), Siprianus D Nar.
 
Hasilnya, dalam enam bulan uang terkumpul untuk membuat paving block seluas 500 meter persegi yang menghabiskan anggaran sekitar Rp200 juta. Siprianus mengatakan sumbangan yang diberikan orang tua sukarela. 
 
Komite Sekolah tidak mematok jumlah tertentu untuk sumbangan. Berkat dorongan setiap pertemuan komite, Siprianus mengatakan orang tua tergerak. 
 
"Mereka menyadari bahwa anak-anak kami bersekolah di sini. Percuma kami beli sepatu baru, percuma kami beli seragam baru kalau berdebu, lumpur, cepat rusak, tidak ada gunanya," tutur dia.
 
Ke depan, Siprianus mengatakan, komite sekolah juga akan membantu hal lain. Salah satu yang menjadi kepedulian adalah perlunya pagar keliling sekolah. 
 
Sebab, SD Inpres Naimata bersebelahan langsung dengan SMK 8 Kupang. "Untuk membatasi jarak perilaku sosial yang bisa berdampak negatif, kami merasa perlu harus ada bangun pagar," ujar dia. 
 

Siswa SD Inpres Naimata Richard (kiri) dan Raja (kanan). Medcom.id/Renatha Swasty Siswa dan guru senang  Raja dan Richard, siswa kelas VI senang bukan main bisa masuk sekolah pagi. Selama ini, mereka kedapatan mesti masuk siang. 
 
"Dulu sangat tidak nyaman karena orang bisa lihat. Mereka sif pagi lihat-lihat ke kelas, menganggu," kata Raja. 
 
Tak cuma itu, sekolah pagi juga membuat mereka menjadi punya waktu untuk tidur siang dan main sore. Sekolah juga menjadi lebih semangat.
 
Bangunan kelas juga lebih bagus. Kini, mereka tak perlu khawatir kalau-kalau hujan tidak bocor lagi.
 
“Dulu sangat berdebu. Sekarang tidak,” ujar Richard.
 
Kegembiraan sekolah satu sif juga dirasakan guru Kelas V, Fitriani Usman. Tahun lalu, ketika menjadi guru Kelas IV mesti masuk sekolah siang.
 
“Lebih enak pagi daripada siang. Karena ada yang ngantuk juga kalau siang. Belum dengan anak-anak yang suka main,” tutur dia.
 
Dia juga bersyukur ruangan kelas kini lebih baik. Bahkan, lapangan sekolah juga lebih bagus dari sebelumnya.
 

Guru SD Inpres Naimata, Fitriani Usman. Medcom.id/Renatha Swasty
  Tambah fasilitas lain  Martinus Klau bersyukur dengan fasilitas yang sudah ada saat ini. Ruangan baru sangat nyaman dan anak-anak tidak lagi kepanasan seperti dulu.
 
Terpenting, 22 romongan belajar (rombel) kini bisa masuk satu shift. Meski begitu, masih ada sarana prasarana yang masih dibutuhkan, salah satunya jaringan internet. 
 
Saat ini, sekolah sudah menggunakan dua provider namun belum mencukupi. Untuk kelas bagian atas jaringan internet masih lemah.
 
“Jaringan internet kami sangat membutuhkan itu. Di kelas-kelas, internet belum berjalan lancar terutama saat TKA (Tes Kemampuan Akademik), anak-anak sudah masuk tapi terlempar, jadi mesti ulang lagi,” beber dia.
 
Guru Fitriani juga berharap jaringan internet lebih lancar. Sebab, banyak pembelajaran yang bisa dilakukan lewat ponsel.
 
“Biar mencakup semua, biar kita sebagai guru juga mendapatkan fasilitas yang bagus, anak-anak juga, anak-anak mungkin bisa bawa HP untuk kita bermain games dalam pembelajaran interaktif seperti itu. Kan ada aplikasi,” ujar Fitriani.
 
Pembangunan fisik ini diharapkan dapat mendorong kualitas pembelajaran. Martinus menargetkan SD Inpres Naimata dapat terus mencetak prestasi ke depan.
 
Salah satunya yang ia janjikan, nilai rata-rata TKA bisa meningkat pada 2026. SD Inpres Naimata sendiri berada di urutan 113 dari 200 sekolah di Kota Kupang dalam nilai TKA 2025.
 
“Saya usahakan di bawah 100 minimal 75,” ujar dia.
 

Bangunan baru SD Inpres Naimata. Medcom.id/Renatha Swasty
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Purbaya Buka Peluang KEK Jadi Lokasi PFII, Status Bisa Diubah
• 23 jam lalukatadata.co.id
thumb
Korban Terakhir Ledakan Rumah Grand Polonia Medan Ditemukan Meninggal | KOMPAS MALAM
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
KPK Sebut Bupati Lombok Barat Korupsi 32 Paket Proyek
• 15 jam laluliputan6.com
thumb
Google Rebranding AI NotebookLM Jadi Gemini Notebook
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Bisnis Padel Masih Cuan? Ini Peluang, Risiko, dan Tips Memulainya
• 7 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.