Napas Baru Emiten Bakrie BNBR Usai Right Issue Jumbo Rp 4,76 T, Intip Prospeknya

katadata.co.id
15 jam lalu
Cover Berita

PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) memasuki babak baru usai menggelar penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau right issue kelima. Aksi ini dilakukan untuk merapikan struktur keuangan perseroan dengan memangkas utang setelah mengakuisisi bisnis Jalan Tol Cimanggis-Cibitung (CCT) tahun lalu.

BRI Danareksa Sekuritas menilai right issue tersebut akan memperkuat struktur permodalan BNBR. Melalui aksi korporasi ini, rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) diproyeksikan turun signifikan dari sekitar 536% menjadi 211%.

Penurunan itu terutama didorong oleh penggunaan mayoritas dana hasil right issue untuk melunasi pinjaman yang digunakan dalam akuisisi Jalan Tol Cimanggis-Cibitung.

Dalam aksi korporasi ini, BNBR menargetkan menghimpun dana hingga Rp 4,76 triliun melalui penerbitan 89,91 miliar saham baru Seri E dengan harga pelaksanaan Rp 53 per saham. Seluruh saham baru memiliki nilai nominal Rp 12 per saham dan setara dengan 34,15% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah right issue selesai.

Setiap pemegang 27 saham lama yang tercatat pada recording date 26 Juni 2026 berhak memperoleh 14 HMETD, di mana setiap satu HMETD memberikan hak untuk membeli satu saham baru seharga Rp 53.

"Pemegang saham lama yang tidak melaksanakan haknya akan mengalami penurunan persentase kepemilikan (dilusi) paling banyak sebesar 34,15% setelah pelaksanaan PMHMETD V," tulis manajemen BNBR dalam prospektus, dikutip Rabu (22/7).

Dalam right issue ini, dua pemegang saham utama BNBR yaitu Port Fraser International Ltd dan Fountain City Investment Ltd memutuskan tidak menggunakan seluruh haknya. Kedua pemegang saham tersebut mengalihkan HMETD masing-masing kepada PT Bakrie Capital Indonesia (BCI) yang bertindak sebagai pembeli siaga.

Port Fraser yang menguasai 22,41% saham BNBR mengalihkan sekitar 20,14 miliar HMETD kepada BCI. Sementara Fountain City yang memiliki 22,17% saham mengalihkan sekitar 19,93 miliar HMETD.

Pada Selasa (21/7), BNBR mencatat ada sebanyak 1,57 miliar saham HMETD telah dieksekusi pemegang sahamnya. Dengan demikian, jumlah saham perseroan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia bertambah menjadi 248,36 miliar saham dari perdagangan sebelumnya 246,80 miliar saham.

Penggunaan Dana Right Issue: Mayoritas Lunasi Utang CCT

Merujuk prospektus right issue, sebagian besar dana hasil right issue akan digunakan untuk memperkuat bisnis jalan tol melalui anak usaha PT Bakrie Toll Indonesia (BTI).

Dari total dana yang dihimpun, sekitar Rp 3,66 triliun dialokasikan kepada BTI untuk melunasi seluruh pokok pinjaman kepada Hartman International Pte. Ltd. Selain itu, Rp 700 miliar digunakan untuk melunasi pinjaman kepada PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU).

Perseroan juga mengalokasikan Rp 200 miliar sebagai tambahan modal bagi PT Bakrie Construction (BCONS). Dana tersebut akan digunakan sebagai modal kerja untuk mendukung pelaksanaan proyek Pertamina Hulu Rokan North Dumai Development (PHR NDD).

Selanjutnya, Rp 40 miliar disuntikkan ke PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) guna mendukung pematangan lahan sebagai bagian dari pembangunan infrastruktur dasar Jalan Tol Cimanggis-Cibitung.

Sisa dana hasil right issue akan digunakan sebagai modal kerja perseroan, antara lain untuk membiayai operasional perusahaan, termasuk pembayaran gaji karyawan, sewa kantor, kebutuhan administrasi, layanan teknologi informasi, hingga biaya operasional harian.

Prospek Usai Right Issue

Dengan menggelar aksi right issue ini, prospek BNBR dipandang lebih menarik. Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menilai Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menilai rights issue ini menjadi titik balik bagi BNBR karena fokus utamanya memperbaiki struktur permodalan melalui pelunasan utang akuisisi CCT. 

“Kondisi ini memberikan ruang yang lebih besar bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi dan meningkatkan fleksibilitas keuangan di masa depan,” ujar Elandry kepada Katadata, Rabu (22/7). 

Kendati demikian, menurutnya, pasar kini tak lagi hanya melihat keberhasilan rights issue, tetapi juga menunggu kemampuan BNBR mengubah perbaikan struktur keuangan tersebut menjadi pertumbuhan pendapatan dan laba yang berkelanjutan.

Apabila penggunaan dana berjalan sesuai rencana dan ekspansi bisnis terealisasi, Elandry memperkirakan saham BNBR berpeluang menuju kisaran Rp 110-Rp 120 dalam jangka menengah. Bahkan, apabila kinerja operasional menunjukkan perbaikan signifikan, saham tersebut berpotensi menguji level psikologis Rp 130 hingga Rp 150.

Senada, pengamat pasar modal Rita Efendy mengatakan rights issue ini menjadi langkah penting untuk memperkuat fundamental BNBR. Menurut dia, penurunan utang akan memperbaiki struktur modal sekaligus menekan beban bunga sehingga membuka ruang ekspansi yang lebih besar.

Rita juga menilai kehadiran Bakrie Capital Indonesia sebagai pembeli siaga meningkatkan kepastian keberhasilan rights issue karena seluruh saham yang tidak ditebus pemegang HMETD akan diserap.

Selain itu, BNBR dinilai memiliki sejumlah katalis pertumbuhan jangka panjang. Perseroan kini memiliki portofolio usaha yang lebih terdiversifikasi, mulai dari manufaktur, kendaraan listrik melalui PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), infrastruktur jalan tol, energi hingga proyek pembangkit listrik.

Bisnis jalan tol juga dinilai mampu memberikan arus kas berulang melalui potensi peningkatan volume lalu lintas dan penyesuaian tarif. 

Garap Proyek WtE Danantara

Tak hanya itu, katalis lain dari BNBR adalah perseroan menjadi pemenang tender proyek Waste to Energy atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) besutan Danantara. Proyek ini berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru dalam beberapa tahun mendatang.

BNBR masuk ke proyek Danantara lewat entitas afiliasinya Bakrie Power bersama konsorium bernama Mentari Citra Lestari yang menggenggam protek WtE di Surabaya. 

Tak hanya itu, Grup Bakrie juga masuk di proyek WtE lain lewat PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) dan PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) di Lampung.

"Keberhasilan turnaround tetap bergantung pada realisasi penggunaan dana rights issue, pengurangan utang, dan eksekusi proyek-proyek baru," kata Rita. 

Rita memandang, secara fundamental, BNBR menunjukkan perbaikan kinerja. Pada 2025, perseroan membukukan laba bersih sekitar Rp 503 miliar atau meningkat 49,6% dibandingkan tahun sebelumnya, meski pertumbuhan pendapatan relatif terbatas.  “Jangan lupa disclaimer,” ucap Rita.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Begini Nasib Proyek Motor Listrik Mangkrak BGN Senilai Rp 1 Triliun
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Nanik S Deyang Beberkan Alasan Mundur sebagai Kepala BGN
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
KPK periksa empat tersangka kasus dana hibah Jawa Timur
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
Wali Kota Surabaya Tegaskan Audit Independen KBS Berlanjut Pascaterungkapnya Kasus Korupsi
• 6 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Sahroni: Sesuai Arahan Presiden, TNI-Polri Harus Loyal dan Solid
• 10 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.