Seorang nenek duduk sendiri di tengah hamparan tanah yang kondisinya gersang, berhiaskan bonggol-bonggol kayu mati. Mengamati sekilas, orang bisa membayangkan isi lukisan pensil di atas kanvas berjudul ”Asa” karya Sugiono itu.
Audiens bisa mengartikan apa yang tengah terjadi. Bagaimana seseorang merasa sepi, sendiri, berada di tengah lingkungan yang tak bersahabat.
Sang perupa pun melengkapi karya itu dengan deskripsi bahwa setiap orang punya harapan ketika melihat alam di sekitarnya mengalami perubahan, baik negatif maupun positif. Tentu saja, tergantung dari sudut pandang pengalaman masing-masing.
”Asa” menjadi salah satu dari 30-an karya seni, terdiri atas dua dimensi, tiga dimensi, dan video yang mengisi Geleri Raos di Kota Batu, Jawa Timur. Bertajuk “Like a Rolling Stone” atau seperti batu yang menggelinding liar, event berlangsung 11 Juli-2 Agustus 2026.
Karya lain yang juga menarik perhatian ialah ketika ada seorang bocah berdiri di samping tumpukan gelondongan (log) kayu. Mengenakan kemeja batik, sang anak melihat ke depan dengan mimik wajah yang seolah menyiratkan sesuatu.
Mengenai lukisan berbahan acrylic on canvas berjudul ”Tipisnya Harapan”, sang perupa, Zhirenk, mengatakan jika alam yang selama ini menyimpan tumpuan dan harapan bagi semua makhluk kini mulai mengikis harapan itu. Hal itu terjadi karena rusaknya alam yang berdampak terhadap ekosistem.
“Sedikit demi sedikit, alam ini rusak karena ulah manusia demi sebuah ambisi untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Alih fungsi lahan dan pembalakan liar terjadi di mana-mana sehingga bencana terjadi di berbagai daerah,” ucapnya dalam keterangan diskripsi.
Di bagian yang lain, ada sosok Semar tiga dimensi karya Agus Sujito yang berjudul ”Ruwat”. Karya ini menjadi sindiran bahwa alam dan lingkungan kita sedang sakit lantaran kebijakan dan ketidakpedulian kita. Tokoh Semar sebagai pengruwat dengan penuh keprihatinan tetap hadir dan berharap agar situasi ini segera berakhir.
Perupa lainnya, A Rokhim menyuguhkan lukisan berujud Crowded dengan wujud tanaman hias yang berhiaskan kaleng-kaleng bekas kemasan minuman ringan sebagai media cangkok. Rupanya, perupa asal Sidomulyo, Kecamatan Batu, yang selama ini menjadi sentra tanaman hias, menuangkan situasi suatu tempat yang penuh sesak, kacau, ruwet dalam lukisan berukuran 120 centimeter x 90 centimeter itu.
“Sambungan antar tanaman yang bukan family atau varietas sejenis, media cangkok dari bekas minuman atau logam secara awut-awutan (serampangan) seakan dengan segala cara membabi buta kita bertahan hidup tanpa peduli karut marut lingkungan sekitar,” ujarnya, Selasa (22/7/2026).
Menurut Rokhim, karyanya tak hanya menyinggung soal kondisi yang terjadi di Batu tetapi juga daerah lainnya. Adapun sebagai wong Batu, perubahan paling mencolok yang dia rasakan selama ini terkait dengan buah apel sebagai komoditas unggulan kota itu. Saat ini banyak petani menggantikan apel dengan komoditas lain.
“Bahkan, yang lebih parah lahan itu dijual. Kalau dibiarkan lama-lama apelnya habis. Ikon Batu sebagai kota apel bisa dipertanyakan,” katanya.
Kurator Leck Budi mengatakan, tema pameran kali ini menyoroti perubahan lingkungan di Kota Batu, nuansa perubahan drastis yang tak terelakkan. Batu yang dulu dijuluki “Swiss Kecil” atau De Kleine Switzerland dikenal tenang dan agraris.
Namun, kini kota berhawa sejuk itu mengalami perubahan cepat akibat alih fungsi lahan dan pembangunan yang masif. Batu yang menggelinding (rolling stone), menurut Budhi menggambarkan transformasi lingkungan melaju kencang, sulit dihentikan dan kehilangan bentuk aslinya.
“Batu yang menggelinding juga dapat dimaknai sebagai pembangunan yang terus berjalan namun kehilangan kearifan lokal dan ekosistem alamiahnya. Kota Batu kehilangan keasliannya seiring ‘menggelindingnya’ pembangunan wisata dan hunian,” ujarnya.
Meminjam judul lagu Bob Dylan, menurut Budi, bentuk pameran ini bernuansa sinis, kritis, menyoroti dampak-dampak kerusakan ekologis, alih fungsi lahan pertanian menjadi beton, hingga hilangnya mata air sebagai dampak pembangunan.
“Batu (stone) adalah elemen alam yang kokoh. Namun menggelinding (rolling) menyiratkan ketidakstabilan, perjalanan, dan nasib. Judul ini memberikan kesan pameran bergaya ‘rock n roll’, berani, kontemporer, dan relevan dengan audiens muda dan generasi yang merindukan suasana Batu tempo dulu,” katanya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Pondok Seni Batu, Watoni, mengatakan, sebagian besar karya yang dipamerkan bertema ekologi yang tidak jauh dari tempat tinggal para seniman itu sendiri.
Para seniman, menurut Watoni, merasa gelisah akan kondisi yang terjadi. Mereka merasakan bagaimana perubahan yang terjadi selama puluhan tahun terakhir, kemudian memunculkannya dalam goresan cat, resin, hingga video. “Ada sedikit masalah sosial juga, lebih banyak mengenai bentang alam,” katanya.
Di Batu sendiri terdapat komunitas Pondok Seni Batu yang berdiri sejak tahun 1980-an. “Event ini sebenarnya mengawali pameran tahunan oleh teman-teman komunitas. Nanti setiap tahun ada pameran dengan tema berbeda. Waktunya diusahakan setiap Juli,” ujarnya.





