Aktivitas perdagangan berlangsung normal seperti biasa di Pasar Pramuka, Jakarta Pusat, Selasa (21/7/2026). Orang lalu lalang di lorong-lorong pasar yang menjadi pusat perdagangan obat di Jakarta ini mulai dari pedagang, agen penyuplai barang, pembeli, hingga kurir ekspedisi.
Mereka mencari obat-obatan dalam skala partai hingga eceran. Namun, di balik itu, kelesuan mewarnai transaksi penjualan.
Pedagang pasar ini mengeluhkan kenaikan harga sejak Mei 2026 sebagai imbas lonjakan nilai tukar dolar AS yang sempat menyentuh Rp 18.000. Kondisi ini membuat perdagangan menjadi terpengaruh dengan semakin menurunya angka penjualan. Hal ini dikeluhkan oleh Yudha Hardinata, salah satu pedagang yang juga Ketua Himpunan Pedagang Farmasi Pasar Pramuka (HPFPP). ”Sangat berpengaruh (kenaikan nilai tukar dolar AS) ke penjualan. Harga sebagian produk terpaksa kami naikkan hingga sekitar 11 persen. Akibatnya, pembeli banyak yang mengeluh. Padahal, kenaikan harga ini dari distributornya,” ujarnya.
Keluhan ini dirasakan oleh sebagian besar pedagang Pasar Pramuka. Omzet mereka pun turun 20 hingga 50 persen. Hal ini sangat memberatkan jalannya roda usaha mereka. Pembeli pasar yang sudah biasa berlangganan mengambil partai besar sebagai andalan keuntungan pun saat ini lebih banyak menahan untuk membeli setelah mengetahui adanya kenaikan harga.
Kenaikan nilai tukar dolar AS mengerek harga obat-obatan.
Kondisi ini membuat perdagangan menjadi terpengaruh dengan semakin menurunya angka penjualan.
Omzet pedagang merosot 20 hingga 5 persen akibat kenaikan harga tersebut.
Bahkan, ada juga pedagang yang terpaksa menjual dagangan tanpa untung, atau mereka sebut istilahnya ”seri.” Nasrun (38), pedagang yang telah berjualan di pasar itu sejak 2008, menuturkan, terkadang menjual barang seharga modal. ”Parasetamol itu aja contohnya, ya, biasanya kan modalnya Rp 37.500 (per pak), sekarang Rp 39.500 semenjak dolar naik. Barang naik, pembeli enggak ada, kontrakan naik. Omzet saya turun jauh 50 sampai 60 persen.” tutur pemilik toko ini sambil menunjuk salah satu produk di raknya berwarna kemasan biru putih.
”Kalo parsetamol lain mah biasa aja. Kalo parasetamol itu emang bagus buat anak-anak. Buat puyer atau diracik lebih gampang diulek karena lebih ga sekeras parasetamol biasa. Kadang saya kasih harga seri kalo pembeli ambil 10 dus lebih,” lanjutnya.
Aida, seorang langganan pasar, menuturkan bahwa kenaikan harga sejak Mei ini sangat terasa. ’Kadang-kadang sama Uni (penjual langganannya) suka dikasih tahu ini yang lebih murah. Obat substitusi yang lebih murah menjadi alternatif pengganti bagi pembeli, meski terkadang kualitasnya lebih bagus yang lebih mahal,” katanya.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, potensi kenaikan harga obat bisa terjadi akibat fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Meski begitu, kenaikan harga obat dipastikan tetap dalam batas wajar dan tidak melonjak tajam.
”(Kenaikan) 10 sampai 20 persen itu masih masuk akal. Tetapi, kalau di atas itu, jangan mengambil untung dari situ,” ujar Budi Gunadi dalam siaran pers yang diterima Kompas, di Jakarta, Kamis (18/6/2025). Menyikapi pernyataan itu, pedagang dan pembeli berharap pemerintah mengambil kebijakan yang lebih riil untuk segera menekan kenaikan harga obat-obatan. Hal ini diperlukan agar menjamin kebutuhan masyarakat agar dapat hidup sehat dan mendorong perputaran nafkah para pedagang kembali normal.





