Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengatakan meningkatnya laporan kasus kekerasan terhadap anak tidak serta merta menunjukkan jumlah kejadian kekerasan bertambah.
Menurutnya, kenaikan laporan justru bisa menjadi indikator semakin banyak masyarakat dan korban yang berani melapor.
“Kekerasan itu kalau kasusnya naik, itu tidak berarti sepenuhnya jumlah kasusnya naik, tapi bisa juga berarti masyarakat semakin berani untuk menyampaikan pengaduan,” ujar Pratikno dalam Konferensi Pers Update Program Prioritas/PHTC serta Penguatan Perlindungan Anak Nasional di gedung Balai Komunikasi (Bakom) RI, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (22/7).
Ia menegaskan pemerintah saat ini justru mendorong masyarakat untuk tidak takut melaporkan setiap dugaan maupun tindakan kekerasan terhadap anak. Menurutnya, selama ini masih banyak korban, khususnya anak-anak memilih diam karena takut atau tidak memiliki keberanian untuk berbicara.
“Justru sekarang ini kita dorong semua masyarakat untuk aktif menyampaikan pengaduan seandainya melihat kekerasan atau menjadi korban dari kekerasan. Ini bukan hal yang mudah dalam tradisi budaya kita, terutama untuk anak-anak. Anak-anak sering kali tidak berani untuk speak up," ujar Pratikno.
Upaya tersebut menjadi bagian dari implementasi Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (GERNAS RANA) yang tengah digalakkan pemerintah. Program ini bertujuan menciptakan lingkungan yang aman bagi anak, baik di keluarga, sekolah, ruang publik, maupun ruang digital.
“GERNAS RANA menjadi sangat penting karena kategori sehat itu bukan hanya sehat secara fisik, tetapi juga sehat secara mental, sehat secara sosial, sehat secara spiritual. Anak-anak tidak hanya kita jamin nutrisinya saja, tapi kita juga jamin kesehatan mentalnya," ujar Pratikno.
Ia menjelaskan, pemerintah membangun perlindungan anak melalui empat ruang utama, yakni ruang keluarga, satuan pendidikan, ruang publik, dan ruang digital. Menurutnya, perlindungan di empat ruang tersebut penting karena kekerasan terhadap anak dapat menimbulkan dampak jangka panjang.
"Kalau setiap kali terjadi kekerasan itu akan menimbulkan dampak trauma panjang bagi anak. Mulai dari gelisah, menjauhkan diri untuk interaksi sosial, tidak bisa konsentrasi, bahkan yang berat ke depan adalah anak yang mengalami kekerasan akan melakukan kekerasan kembali ketika dia sudah dewasa," kata Pratikno.
Pratikno mengajak masyarakat untuk ikut berperan menciptakan ruang yang aman bagi anak dengan melaporkan setiap dugaan kekerasan agar dapat segera ditindaklanjuti pemerintah.
“Jika sampai terjadi kekerasan kami mengajak masyarakat untuk berani bersuara melihat kekerasan untuk menyampaikan ini ke dalam respons cepat yang disiapkan pemerintah,” ujar Pratikno.
Dalam mendukung penanganan laporan tersebut, Pratikno menjelaskan, pemerintah melalui Kemenko PMK bersama kementerian dan lembaga terkait tengah menyiapkan dashboard terintegrasi untuk mempercepat koordinasi penanganan kasus kekerasan terhadap anak.
Pratikno mengatakan sistem tersebut dibangun karena penanganan perlindungan anak melibatkan banyak kementerian dan lembaga, mulai dari tingkat pusat hingga pemerintah daerah dan desa.
"Dashboard itu nanti akan mempermudah lintas kementerian dan lembaga dibantu oleh teknologi sehingga penanganannya lebih cepat dan terintegrasi karena sekali lagi kementerian dan lembaga yang terlibat juga sangat banyak. Itu secara horizontal sangat banyak, apalagi secara vertikal itu kita juga harus handle sampai ke tingkat desa," tambah Pratikno.





