Jakarta, VIVA – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo melaporkan, aliran investasi portofolio asing membukukan net inflows sebesar US$8,5 miliar di kuartal II-2026, utamanya ditopang Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Dia memastikan, tren tersebut berlanjut hingga 20 Juli 2026, terutama didorong SBN yang mencatat net inflows sebesar US$0,1 miliar.
"Dari transaksi modal dan finansial, berbagai penguatan respons kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia bersinergi dengan kebijakan fiskal pemerintah untuk meningkatkan imbal hasil instrumen keuangan domestik dapat mendorong berlanjutnya aliran masuk modal asing," kata Perry dalam telekonferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu, 22 Juli 2026.
- [tangkapan layar]
Secara umum, BI memandang kinerja neraca pembayaran Indonesia (NPI) perlu terus diperkuat untuk memitigasi dampak rambatan tingginya ketidakpastian global.
Neraca perdagangan Indonesia pada Januari hingga Mei 2026 secara kumulatif mencatat surplus sebesar US$4,03 miliar, dengan perkembangan pada Mei 2026 mencatat defisit sebesar US$1,61 miliar.
Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 tetap terjaga sebesar US$145,6 miliar, setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
BI memprakirakan bahwa ke depannya, kinerja transaksi berjalan 2026 tetap sehat dalam kisaran defisit 1,3 persen sampai dengan 0,5 persen dari produk domestik bruto (PDB).
"Penguatan sinergi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia terus ditempuh untuk memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional dan sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dalam menghadapi gejolak global," ujarnya. (Ant).





