JAKARTA, KOMPAS– Keberlanjutan lingkungan menjadi keniscayaan. Krisis iklim dan lingkungan pun telah berdampak pada berbagai aspek kehidupan masyarakat. Karena itu, isu keberlanjutan lingkungan mesti menjadi arus utama dalam pembangunan nasional.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menuturkan, krisis iklim menjadi tantangan baru yang mendesak untuk diantisipasi. Pemanasan global bukan lagi wacana, namun persoalan tersebut sudah hadir di tengah-tengah masyarakat. Tren urbanisasi pun turut memperburuk kondisi tersebut.
Karena itu, ia menyampaikan, kebijakan dan strategi pembangunan bangsa mesti menempatkan tiga pilar utama secara bersamaan, yakni aspek pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan. Isu keberlanjutan tidak lagi bisa dikesampingkan.
“Keberlanjutan lingkungan tentu bukan lagi pilihan dan tidak boleh lagi jadi isu pinggiran. Ini harus jadi mainstream dalam pengambilan kebijakan di semua tingkatan,” ujarnya saat membuka acara Lestari Awards 2026 di Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Lestari Awards merupakan ajang penghargaan yang diinisiasi oleh KG Media untuk mengapresiasi perusahaan, organisasi, dan pelaku usaha di Indonesia yang berhasil menjalankan inisiatif keberlanjutan. Sejumlah kategori dalam ajang perhargaan ini, antara lain, ekonomi sirkular, manajemen limbah, energi terbarukan, konservasi ekosistem, serta keberagaman dan inklusi.
Keberlanjutan lingkungan tentu bukan lagi pilihan dan tidak boleh lagi jadi isu pinggiran.
Adapun sejumlah pejabat tinggi yang hadir dalam Lestari Awards 2026, antara lain, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang, Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, dan Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat.
Dalam sambutannya, AHY menuturkan, isu keberlanjutan pun harus menjadi arus utama dalam pengambilan kebijakan dan pembangunan nasional di seluruh tingkatkan. Pembangunan berbasis ekonomi hijau dan ekonomi biru dapat menjadi peluang besar bagi Indonesia di masa depan.
Bencana alam yang terjadi di Indonesia kini semakin sering terjadi. Bencana banjir dan longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir tahun lalu menjadi contoh nyata dari dampak krisis iklim.
Sementara itu, upaya rehabilitas dan rekonstruksi pascabencana membutuhkan anggaran dan upaya yang cukup besar. Dampak korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta kehidupan sosial ekonomi masyarakat juga sangat besar.
“Itu mendesak kita untuk benar-benar fokus dan serius pada isu keberlanjutan. Tentunya kita ingin melakukan lompatan bagaimana transformasi ekonomi bisa kita kawal secara nasional dari hulu ke hilir,” ujar AHY.
Ia pun menegaskan pentingnya pendekatan pentahelix dalam pembangunan yang berkelanjutan. Pemerintah tidak dapat bergerak sendiri, tanpa dukungan berbagai pihak, termasuk kelompok bisnis, akademisi, media, dan masyarakat.
Pada kesempatan yang sama, Chief Executive Officer of KG Media, Andy Budiman dalam sambutannya menuturkan, ketidakpastian ekonomi dan transformasi digital yang cepat membuat komitmen terkait keberlanjutan tidak mudah dijalankan. Meski begitu, itu bukan berarti keberlanjutan lingkungan tidak dapat diwujudkan. Isu keberlanjutan tetap menjadi strategi krusial bagi setiap organisasi dan lembaga.
“Keberlanjutan kini bukan lagi sekadar agenda tambahan, melainkan strategi krusial, termasuk juga bagi kami di organisasi KG Media untuk bisa membangun ketahanan, menjaga relevansi, serta menciptakan nilai jangka panjang, serta tentunya memberikan kontribusi bermakna bagi masyarakat, lingkungan, dan negara,” tuturnya.
Ia menyebutkan, penyelenggaraan Lestari Awards diharapkan dapat mendorong semakin banyak pihak untuk berkomitmen dalam isu keberlanjutan. Pada penyelenggaraan tahun ini, setidaknya 14 kategori penghargaan diberikan. Kategori tersebut dirancang untuk merepresentasikan beragam aspek keberlanjutan.
Secara bersamaan, digelar pula ajang serupa yakni Sustainability Awards di Malaysia dan Filipina. Ketiga ajang ini, termasuk di Lestari Awards di Indonesia menjadi bagian dari kolaborasi lintas negara di bidang ESG (Environmental, Social, and Governance).
“Kami yakin setiap karya tetap mencerminkan komitmen nyata organisasi untuk terus melangkah di tengah berbagai macam tantangan. Lestari Awards tidak hanya diukur dari jumlah partisipasi, tapi juga dari dampak yang dihasilkan, serta semangat untuk terus menginspirasi ekosistem keberlanjutan di Indonesia,” kata Andy.





