PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF membukukan akumulasi penyaluran pembiayaan sektor perumahan menembus angka Rp141,61 triliun.
IDXChannel - PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF membukukan akumulasi penyaluran pembiayaan sektor perumahan menembus angka Rp141,61 triliun sejak pertama didirikan 21 tahun silam.
Direktur Utama SMF Ananta Wiyogo menekankan soal capaian tersebut mempertegas peran SMF dalam menjembatani kebutuhan pendanaan jangka panjang sektor perumahan. SMF digadang-gadang kian memastikan tersedianya likuiditas jangka panjang bagi lembaga keuangan penyalur pembiayaan perumahan.
"Peran ini menjadi semakin penting karena pembiayaan perumahan memiliki karakteristik jangka panjang, sementara sumber pendanaan lembaga keuangan pada umumnya berjangka lebih pendek,” ujar Ananta dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Khusus sepanjang semester I-2026, penyaluran pembiayaan perseroan telah mencapai Rp14,09 triliun. Dukungan tersebut disalurkan langsung kepada lembaga keuangan penyalur guna memperluas jangkauan dan kapasitas penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) kepada masyarakat.
Selain pembiayaan langsung, SMF juga mengoptimalkan fungsi liquidity provider melalui instrumen sekuritisasi aset kredit perumahan. Hingga Juni 2026, Perseroan sukses memfasilitasi 17 transaksi sekuritisasi dengan nilai akumulasi mencapai Rp14,21 triliun.
Melalui sekuritisasi, lembaga keuangan dapat melakukan recycle aset kredit KPR menjadi sumber likuiditas baru untuk disalurkan kembali kepada calon debitur.
Selain memfasilitasi pasar sekunder, perseroan memegang mandat penting sebagai instrumen fiskal pemerintah dalam program perumahan bersubsidi. Pengelolaan skema pendanaan campuran terbukti efektif memaksimalkan dampak modal negara tanpa membebani keuangan pemerintah secara berlebihan.
“Setiap dana pemerintah yang dipercayakan kepada SMF harus mampu memberikan manfaat yang lebih besar. Melalui skema pendanaan yang terukur dan berkelanjutan, SMF tidak hanya menyalurkan dana, tetapi juga menciptakan kapasitas pembiayaan baru yang dapat menjangkau lebih banyak masyarakat,” ujar Ananta.
Dalam menjalankan fungsi instrumen fiskal, SMF menyediakan dana pendamping sebesar 25 persen untuk Program KPR Sejahtera Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Pendanaan ini bersumber dari kolaborasi skema blended finance antara Penyertaan Modal Negara (PMN) dan penerbitan surat utang perseroan.
Hingga Juni 2026, akumulasi PMN yang diterima SMF untuk KPR FLPP mencapai Rp17,91 triliun. Dana tersebut berhasil dioptimalkan sehingga menghasilkan total penyaluran pembiayaan sebesar Rp36,77 triliun untuk mendanai 962.650 unit rumah, di mana seluruh PMN yang diterima telah tersalurkan sepenuhnya.
Penyaluran pembiayaan perumahan ini, kata Ananta, memberikan dampak rambatan yang luas terhadap perekonomian nasional. Berdasarkan kajian SMF bersama konsultan, setiap investasi Rp1 triliun pada sektor perumahan mampu meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar Rp1,83 triliun serta menggerakkan 185 sektor ekonomi terkait.
Hingga Juni 2026, total aset SMF tercatat mencapai Rp68,29 triliun, tumbuh 21,79 persen dibandingkan posisi Juni 2025 yang sebesar Rp56,07 triliun. Liabilitas perseroan naik 14,23 persen menjadi Rp40,35 triliun, sementara ekuitas melesat 34,65 persen menjadi Rp27,95 triliun.
Dari sisi perolehan hasil usaha, sepanjang semester I 2026 perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp1,70 triliun, naik 6,25 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,60 triliun.
Dari efisiensi dan pengendalian beban, laba bersih SMF melonjak 33,90 persen menjadi Rp391 miliar pada Juni 2026. Kualitas portofolio juga terjaga sangat prima dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) net berada pada posisi 0,00 persen.
“Pertumbuhan kinerja keuangan yang terjaga dan kualitas aset dengan NPL net 0 persen ini menjadi modal utama kami untuk terus memperluas jangkauan pembiayaan," kata Ananta.
(Dhera Arizona)





