CELEBESMEDIA.ID, Makassar – Pentagon memperkirakan biaya perang Amerika Serikat (AS) melawan Iran hingga saat ini telah mencapai 37,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp671,5 triliun (kurs Rp17.909 per dolar AS). Angka tersebut disampaikan Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dalam sidang dengar pendapat anggaran di Senat AS, Selasa (21/7).
Dalam keterangannya, Hegseth menegaskan bahwa pemerintah membutuhkan tambahan anggaran untuk mendukung operasi militer yang masih berlangsung. Menurutnya, pendanaan baru menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda.
"Tanpa pendanaan tersebut, kita menghadapi kondisi kekurangan yang genting," tegas Hegseth di hadapan para senator.
Pernyataan itu muncul ketika anggota Kongres dari Partai Republik mendorong persetujuan terhadap usulan anggaran pertahanan senilai 1,5 triliun dolar AS yang diajukan Presiden Donald Trump. Anggaran tersebut dinilai penting untuk menjaga kesiapan militer sekaligus membiayai berbagai operasi luar negeri, termasuk konflik dengan Iran.
Sebelumnya, pada Juni lalu, Direktur Kantor Manajemen dan Anggaran Gedung Putih, Russell Vought, menyampaikan kepada anggota parlemen bahwa perang melawan Iran telah menghabiskan sekitar 30 miliar dolar AS yang bersumber dari dana pembayar pajak Amerika. Estimasi terbaru Pentagon menunjukkan adanya kenaikan biaya yang signifikan dalam waktu singkat.
Selain membahas anggaran, Hegseth juga menghadapi pertanyaan dari para anggota Senat terkait laporan mengenai keterlambatan Pentagon dalam mengungkap jumlah personel militer AS yang terluka selama konflik terbaru dengan Iran.
Berdasarkan data Pentagon, hampir 100 prajurit Amerika Serikat mengalami luka-luka sejak 7 Juli akibat rangkaian pertempuran yang terjadi dalam konflik tersebut.
Kenaikan biaya perang dan bertambahnya jumlah korban di pihak militer diperkirakan akan menjadi perhatian utama dalam pembahasan anggaran pertahanan AS di Kongres dalam beberapa pekan mendatang. Langkah pemerintah untuk memperoleh tambahan dana juga diprediksi akan memicu perdebatan mengenai besarnya beban fiskal yang harus ditanggung Amerika Serikat di tengah meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Sumber: Antara




