BEKASI, KOMPAS.com – Debit air Kali Bekasi di Jalan Mayor Madmuin Hasibuan, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, menyusut selama musim kemarau.
Kondisi tersebut membuat sebagian dasar sungai terlihat dan memunculkan tumpukan sampah yang selama ini tertutup aliran air.
Pantauan Kompas.com, Rabu (22/7/2026), plastik, kayu, limbah rumah tangga, batu-batu sungai, hingga endapan lumpur tampak mengendap di sejumlah titik bantaran sungai.
Bahkan, beberapa warga dapat berjalan hingga ke tengah sungai karena kedalaman air di sejumlah titik hanya setinggi lutut orang dewasa.
Berbeda dengan kondisi di hilir, aliran air di bawah Bendung Bekasi masih tampak normal.
Cadangan air tetap tertahan di bendung untuk memenuhi kebutuhan irigasi dan pasokan air baku.
Baca juga: DLH Selidiki Penyebab Air Kali Bekasi Menghitam, Indikasi Awal Berasal dari Hulu
Bagi warga sekitar, fenomena ini bukan pertama kali terjadi.
Eman (50), warga Kota Bekasi, mengatakan debit Kali Bekasi mulai menyusut sekitar dua pekan terakhir.
Namun, menurutnya, persoalan yang paling mengganggu bukanlah surutnya air, melainkan bau limbah yang muncul ketika debit sungai menurun.
"Ini mengering karena memang lagi kemarau. Tahun kemarin juga begini. Kalau kering, biasanya muncul bau limbah. Udah tiga harian ini baunya," ujar Eman saat ditemui Kompas.com, Rabu.
KOMPAS.com/NURPINI AULIA RAPIKA Kondisi debit air Kali Bekasi di Jalan Mayor Madmuin Hasibuan, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Selasa (22/7/2026), menyusut akibat musim kemarau. Surutnya air membuat dasar sungai dan tumpukan sampah yang sebelumnya tertutup aliran air terlihat di sejumlah titik bantaran sungai.
Eman menduga bau menyengat tersebut berasal dari limbah yang dibuang ke sungai ketika debit air sedang rendah.
Menurut dia, apabila tidak ada limbah yang masuk ke sungai, penyusutan debit air tidak akan menimbulkan bau yang mengganggu.
Meski begitu, ia mengatakan kebutuhan air warga sejauh ini belum terganggu secara signifikan.
Hanya saja, saat musim kemarau aliran air menjadi lebih lambat sehingga warga membutuhkan waktu lebih lama untuk mengisi penampungan air.
"Airnya jadi susah ngambilnya. Soalnya kan kering. Jadi kami harus nampung lebih dulu. Dan ini makan waktu lama dibanding saat kondisi normal," katanya.