-
-
-
-
-
Penanganan bibir sumbing tentu tak hanya soal proses medis, tetapi terselip pula sisi emosional yang terasa berat bagi para orang tua. Setidaknya, itulah yang diceritakan oleh Country Director Smile Train Indonesia, Deasy, dan spesialis bedah plastik dr. Yantoko, ketika hadir di acara poscat Special Interview, dan membagikan pengalaman mereka mendampingi ribuan keluarga, mulai dari stigma yang masih melekat hingga momen mengharukan bersama pasien. Deasy pun bercerita, soal salah satu pengalaman paling menyedihkan yang pernah ia temui. Yakni, momen ketika dirinya menemukan seorang bayi yang justru dijauhi keluarganya sendiri.
"Banyak juga kita temui anak-anak yang terlahir dengan kondisi sumbing itu tidak diasuh oleh ibunya atau orang tuanya karena masih banyaknya juga masyarakat yang masih mengait-ngaitkan ini dengan sesuatu yang ya mitos ya stigma." Ujar Deasy Larasati
Bagi Deasy, hal itu dapat diperbaiki dengan edukasi yang menjadi kunci untuk mengubah cara pandang ini, karena kondisi sumbing sama sekali tidak terkait dengan hal-hal yang selama ini dipercaya masyarakat di daerah.
Ia menekankan bahwa edukasi menjadi kunci untuk mengubah cara pandang ini, karena kondisi sumbing sama sekali tidak terkait dengan hal-hal yang selama ini dipercaya masyarakat di daerah.
"Jadi ibu hamil bisa siapa saja ibu hamil mau latar belakang secara ekonomi mampu atau tidak bisa saja mempunyai bayi lahir dengan kondisi sumbing gitu ya. Jadi dan itu tidak ada kaitannya dengan mitos tadi gitu." sambungnya
Baca Juga: Anak Sumbing Bukan Aib! Ini yang Perlu Diketahui Orang Tua Baru
Sementara itu, dr. Yantoko punya cerita berbeda soal kedekatannya dengan pasien pasca operasi. Ia mengaku nomor teleponnya terbuka 24 jam untuk siapa pun yang membutuhkan panduan mendadak. Hal itu ia lakukan dengan senang hati, karena baginya itu bagian penting dari proses pemulihan pasien yang tidak berhenti begitu saja setelah operasi selesai.
"Kadang telepon gitu kan, maaf dok, malam-malam saya panik. Oke, kita layani dengan baik ya. Ibu ya WA saja, ibu foto, ibu videoin. Tetapi pesannya tersampaikan dan instruksi berikutnya tersampaikan ya." Ucap dr. Yantoko
Namun bagi Desi, hal paling berharga dari program ini justru tumbuh dari komunitas 12.000 ibu sesama orang tua pasien, yang saling menguatkan satu sama lain sejak masa kehamilan, lengkap dengan arahan rumah sakit terdekat berdasarkan pengalaman masing-masing. Sehingga, dr. Yantoko berpesan bagi orang tua yang masih menyembunyikan kondisi anaknya karena rasa malu,
"Jangan takut Anda tidak sendiri. Banyak komunitas yang memperhatikan, banyak wadah ya yang mengatasi keluhan ya. Tidak usah takut, tidak usah menyembunyikan." Tegasnya





