PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menawarkan kepastian pasar bagi pemasok biomassa melalui skema kontrak pembelian hingga lima tahun guna mendorong investasi, meningkatkan kualitas dan kontinuitas pasokan, serta memperkuat ekosistem bioenergi nasional.
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, mengatakan kepastian kontrak menjadi faktor penting dalam membangun rantai pasok biomassa yang sehat dan berkelanjutan.
Menurutnya, jaminan pembelian jangka panjang akan memberikan kepastian bagi pelaku usaha untuk berinvestasi sekaligus meningkatkan kapasitas produksi.
"Apabila kualitas biomassa dapat dijaga, baik dari sisi nilai kalor maupun kontinuitas pasokan, PLN EPI dapat memberikan kontrak pembelian hingga lima tahun. Dengan demikian, pelaku usaha memiliki kepastian untuk berinvestasi dan meningkatkan kapasitas produksinya," ujar Hokkop dalam forum AgriWaste to Value di Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Hokkop menjelaskan, PLN EPI menerapkan skema pengadaan biomassa sesuai ketentuan yang berlaku dengan mengutamakan kualitas produk.
Biomassa yang memiliki nilai kalor lebih tinggi dan mampu dipasok secara konsisten akan memperoleh peluang skema harga yang lebih kompetitif sehingga memberikan insentif bagi pelaku usaha untuk terus meningkatkan kualitas produksinya.
Menurutnya, kepastian pasar tidak hanya menguntungkan pemasok biomassa, tetapi juga menjadi fondasi dalam membangun ekosistem bioenergi nasional yang melibatkan petani, koperasi, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), hingga industri pengolahan biomassa sebagai bagian dari rantai pasok energi primer nasional.
"Kami ingin membangun industri biomassa yang sehat. Ekspor tetap menjadi peluang, tetapi pada saat yang sama kebutuhan domestik juga harus terjamin agar transisi energi nasional dapat berjalan secara berkelanjutan," tambah Hokkop.
Hingga Juni 2026, PLN EPI telah mengimplementasikan pemanfaatan biomassa pada 52 pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dengan realisasi penggunaan mencapai 932.906 ton.
Seiring peningkatan kualitas biomassa, nilai kalor rata-rata yang dimanfaatkan juga meningkat menjadi 3.263 kilokalori per kilogram dengan memanfaatkan 16 jenis biomassa yang berasal dari limbah pertanian dan kehutanan.
PLN EPI menargetkan pemanfaatan biomassa mencapai 3,7 juta ton pada 2026 dan meningkat menjadi 10 juta ton pada 2030.
Target tersebut diproyeksikan menghasilkan nilai ekonomi sekitar Rp5,1 triliun, menekan emisi hingga 12 juta ton CO₂ ekuivalen per tahun, memanfaatkan sekitar 20 juta ton limbah biomassa setiap tahun, serta menciptakan sekitar 150 ribu lapangan kerja hijau.
Untuk mencapai target tersebut, PLN EPI terus memperkuat ekosistem biomassa melalui pembangunan jaringan hub dan main hub biomassa, pengembangan fasilitas produksi, digitalisasi rantai pasok, serta kemitraan dengan koperasi, kelompok tani, BUMDes, dan pelaku usaha di berbagai daerah.
Baca Juga: PLN EPI Jajaki Ekspor Hidrogen Hijau ke Singapura
Baca Juga: PLN EPI Asah SDM Hadapi Gejolak Pasar LNG Global
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pasokan biomassa tetap andal, berkualitas, dan mampu memenuhi kebutuhan pembangkit listrik yang terus meningkat.
Forum AgriWaste to Value sendiri mempertemukan pemangku kepentingan dari sektor bioenergi, perkebunan, industri, pemerintah, investor, dan penyedia teknologi untuk membahas pemanfaatan limbah pertanian menjadi biofuel, biomethane, biomethanol, Sustainable Aviation Fuel (SAF), biochar, serta berbagai solusi dekarbonisasi berbasis biomassa.





