Luas Mangrove Dunia Bertambah, di Indonesia Justru Menyusut

kompas.id
13 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Luas mangrove global telah bertambah 47.707 hektar sepanjang 1985-2025. Namun, di balik tren positif tersebut, Indonesia mencatat kabar yang bertolak belakang. Indonesia, negara dengan mangrove terluas di dunia, justru kehilangan 204.300 hektar mangrovenya dalam empat dekade terakhir.

Temuan itu terungkap dalam laporan terbaru Global Mangrove Watch (GMW) versi 4.1. Laporan berbasis data mangrove global ini diluncurkan pada Kamis (23/6/2026) untuk menyambut Hari Mangrove Sedunia, 26 Juli 2026. Peta terbaru ini menggunakan teknologi satelit dan pembelajaran mesin (machine learning) dengan tingkat akurasi 93 persen sehingga diklaim menjadi pemetaan mangrove paling rinci yang pernah tersedia.

”(Peta baru ini) Memiliki keakuratan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Global Mangrove Watch. Ini mengubah pemahaman kita tentang hutan mangrove di tingkat global dan lokal dan merevolusi kemampuan kita untuk melindungi dan memulihkannya,” kata Lammert Hilarides, pemimpin program GMW di Wetlands International, dalam keterangan tertulis.

Dengan data yang lebih akurat dan sistem peringatan yang unik, Hilarides berharap peta tersebut bisa menjadi alat bagi otoritas terkait, masyarakat, dan para konservasionis. Data ini bisa dipakai untuk merencanakan kegiatan terkait hutan mangrove secara lebih efektif dan bereaksi saat terjadi penebangan ilegal bahkan di daerah terpencil di luar jangkauan pengawasan rutin.

Penyusutan mangrove Indonesia

Data menunjukkan bahwa secara global luas mangrove di dunia meningkat 477 kilometer persegi dibandingkan 1985. Kenaikan tersebut didorong oleh regenerasi alami, keberhasilan restorasi di sejumlah negara, serta menurunnya laju deforestasi mangrove.

Namun, Indonesia justru menjadi salah satu negara yang mengalami kehilangan terbesar. Sejak 1985, luas mangrove Indonesia berkurang 2.043 kilometer persegi atau lebih dari 204.000 hektar. Kehilangan itu hanya kalah dari Myanmar yang kehilangan 1.457 kilometer persegi, sementara Malaysia kehilangan 389 kilometer persegi dan Nigeria 312 kilometer persegi.

Baca JugaCegah Kerusakan, Ekosistem Mangrove Perlu Dilindungi dan Dikelola Khusus
Baca JugaMangrove di Riau Tersandera Penebangan Liar dan Alih Fungsi Lahan

Meski demikian, tren di Indonesia mulai menunjukkan perbaikan. Sejak sekitar 2015, laju kehilangan mangrove dilaporkan semakin stabil dibandingkan dekade-dekade sebelumnya.

Sebaliknya, beberapa negara mencatat peningkatan mangrove yang signifikan. Australia menambah 1.396 kilometer persegi mangrove, India 1.180 kilometer persegi, Filipina 473 kilometer persegi, Pakistan 439 kilometer persegi, dan Senegal 349 kilometer persegi.

Bertambahnya mangrove bisa menjadi konsekuensi tidak langsung dari kerusakan ekosistem lain di bagian hulu.

Meski kehilangan luasan yang besar, menurut Hilarides, Indonesia tetap menjadi negara dengan kawasan mangrove terluas di dunia. Karena itu, baik keberhasilan maupun kegagalan konservasi mangrove di Indonesia akan sangat menentukan masa depan ekosistem pesisir global.

Mangrove memiliki peran penting sebagai benteng alami pantai terhadap abrasi, badai, dan kenaikan muka laut. Ekosistem ini juga menjadi habitat berbagai spesies ikan, udang, kepiting, hingga burung air yang menopang kehidupan jutaan masyarakat pesisir.

Dari sisi iklim, mangrove termasuk ekosistem penyerap karbon paling efektif. Per hektar, kemampuannya menyimpan karbon dapat mencapai hingga empat kali lebih tinggi dibandingkan hutan daratan.

Di balik bertambahnya mangrove

Laporan ini juga mengingatkan, peningkatan mangrove dunia tidak sepenuhnya berarti kondisi pesisir membaik. Global Mangrove Watch mencatat bahwa selain dipengaruhi regenerasi alami dan restorasi, sebagian pertumbuhan mangrove justru terjadi akibat perubahan aliran sedimen di muara sungai.

Aktivitas penambangan, pembukaan hutan, dan perubahan tata guna lahan di bagian hulu sungai meningkatkan pasokan sedimen ke kawasan pesisir sehingga memunculkan habitat baru bagi mangrove. Artinya, di sejumlah lokasi, bertambahnya mangrove bisa menjadi konsekuensi tidak langsung dari kerusakan ekosistem lain di bagian hulu.

Baca JugaPulau-Pulau "Tailing" di Muara Ajkwa, Habitat Baru Bagi Rhizophora Mucronata

Karena itu, para peneliti mengingatkan bahwa peningkatan luas mangrove tidak selalu identik dengan membaiknya kualitas lingkungan. Sebaliknya, restorasi yang berhasil umumnya berasal dari pendekatan berbasis ekologi dan masyarakat, bukan sekadar penanaman massal. Berbagai penelitian menunjukkan banyak proyek penanaman mangrove berskala besar gagal membentuk hutan mangrove yang berfungsi karena tidak memperhatikan kondisi hidrologi, pasang surut, maupun jenis vegetasi lokal.

Selain memperbarui data hingga 2025, Global Mangrove Watch juga meningkatkan resolusi pemetaan. Peta dasar mangrove kini tersedia dengan resolusi 10 meter, enam kali lebih rinci dibanding versi sebelumnya. Sementara peta perubahan mangrove tersedia dengan resolusi 30 meter dan mencakup rentang waktu 1985–2025, jauh lebih panjang dibanding versi sebelumnya yang hanya mencakup 1996–2020.

Luz Gil, Kepala Kebijakan untuk Mangrove Breakthrough mengatakan, “Data berkualitas tinggi adalah fondasi kebijakan dan investasi yang efektif. Pembaruan GMW terbaru memberi pemerintah data untuk menetapkan target yang lebih ambisius dan berbasis bukti dalam Kontribusi yang Ditentukan Secara Nasional (NDC) dan strategi nasional lainnya, sekaligus membantu investor mengidentifikasi dan memprioritaskan peluang berdampak tinggi."

Menurut Gil, seiring negara-negara beralih dari ambisi ke implementasi, alat seperti GMW sangat penting untuk mengarahkan pendanaan ke tempat yang dapat memberikan manfaat terbesar bagi iklim, keanekaragaman hayati, dan masyarakat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pekanbaru Jadi Tuan Rumah Forum GCMC, Kepala Daerah RI-Malaysia-Thailand Berkumpul
• 6 jam laludetik.com
thumb
Kader dan Elite PKB Ramai-ramai Pakai Baju "Prabowonomics" di Harlah ke-28, Ini Maknanya
• 10 jam lalukompas.com
thumb
Hotman Paris Berobat ke Singapura Besok Usai Mundur Jadi Pengacara Febrie Adriansyah
• 16 jam lalurctiplus.com
thumb
Jasa Marga Perkuat Layanan Jalan Tol Lewat Transformasi Rest Area dan Pusat Kendali Berbasis Teknologi
• 15 menit lalupantau.com
thumb
Menkeu Purbaya Bertemu Gus Yahya Menjelang Muktamar NU, Bahas Apa?
• 22 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.