Kata Pakar Soal Pengendara Alphard yang Terobos Lampu Penyeberangan di HI

kumparan.com
12 jam lalu
Cover Berita

Keributan antara pengendara mobil Alphard dan petugas keamanan di kawasan Halte TransJakarta Bundaran HI, Jakarta Pusat, menjadi perhatian publik setelah videonya viral di media sosial. Insiden ini terjadi di area penyeberangan pejalan kaki yang berada di salah satu titik lalu lintas tersibuk di ibu kota.

Kapolsek Metro Menteng, Braiel Arnold Rondonuwu, menjelaskan bahwa peristiwa bermula saat kendaraan tersebut diduga menerobos lampu merah penyeberangan di depan Hotel Pullman. Petugas keamanan yang sedang membantu pejalan kaki kemudian memberikan teguran secara langsung.

“Sudah diselesaikan secara kekeluargaan dibantu mediasi oleh Kapospol di Pospol Thamrin,” kata Braiel saat dikonfirmasi, Rabu (22/7/2026).

Menurutnya, situasi memanas karena pengendara tidak menerima cara peneguran yang dilakukan petugas. Adu argumen pun terjadi sebelum akhirnya kedua pihak sepakat menyelesaikan masalah melalui mediasi di Pospol Thamrin.

Braiel juga menyebut adanya potensi pelanggaran lalu lintas dalam kejadian tersebut. Pengemudi mobil bisa saja dikenai sanksi tilang elektronik atau ETLE apabila terbukti melanggar aturan.

Di sisi lain, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, menyoroti aspek etika dan perilaku berkendara dalam insiden ini. Ia menilai tindakan pengemudi mencerminkan kurangnya kepatuhan terhadap prioritas pejalan kaki.

“Menurut saya si pengemudi Alphard tidak beretika. Karena penyeberang jalan harus diprioritaskan dari mobil yang melintas," kata Sony kepada kumparan, Kamis (23/6/2026).

"Gaya mengemudi orang Indonesia yang srandal-srundul alias susah ngerem, akibat tumit kaki kanan mayoritas diletakkan depan pedal gas saat nyetir. Itu membuat tidak ada cover brake-nya sama sekali," tegasnya.

Sony bilang, kondisi tersebut membuat pengendara kurang mengantisipasi kecepatan saat bertemu dengan rambu-rambu yang mewajibkan harus melambat sampai berhenti.

“Kalau kakinya standby cover brake pasti lebih fokus untuk berhenti," pungkasnya.

Sony juga menegaskan bahwa tindakan menegur pelanggar umumnya hanya sia-sia. Pasalnya, menegur pelanggar justru menimbulkan konflik.

"Mungkin cara menegur yang tidak sesuai, antara lain perkataan, kapasitas, maupun statusnya sehingga banyak yang berujung ribut," katanya.

"Dan lagi, sebetulnya menegur itu buang-buang waktu dan tenaga. Karena mereka sadar kok kalau melanggar, pasti sudah siap juga berkonflik. Yang paling relevan ya diam saja,” ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Fakta-Fakta Sidang Perkara Dokter Tifa Terkait Ijazah Jokowi Dihentikan Hakim
• 2 jam laludisway.id
thumb
Tingkatkan Ekonomi Desa Paddinging, UMI Dorong Diversifikasi Produk Olahan Cabai Rawit Berbasis Digital
• 14 jam laluharianfajar
thumb
Mengenal Teknologi RISE Milik Mitsubishi, Ini Cara Kerjanya Saat Terjadi Benturan
• 17 jam lalumedcom.id
thumb
Hari Anak Nasional, Buku Cerita Diluncurkan untuk Dampingi Anak Pejuang Kanker
• 11 jam lalurepublika.co.id
thumb
Case Closed! Eksepsi Dokter Tifa Bikin Jokowi Aman dari Sidang Ijazah
• 16 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.