Pantau - Badan Narkotika Nasional (BNN) RI merampas aset hasil Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dari transaksi narkotika dengan valuasi lebih dari Rp165 miliar dalam periode Oktober 2024 hingga Juli 2026, yang berasal dari pengungkapan kasus narkotika dengan penyitaan barang bukti mencapai 12,3 ton.
Kepala BNN RI Suyudi Ario Seto mengatakan perampasan aset tersebut merupakan bagian dari upaya melumpuhkan kekuatan finansial sindikat narkotika melalui strategi follow the money.
Ia mengungkapkan, "Kami tidak cukup, tidak puas hanya menangkap, tetapi kami juga punya semangat untuk memiskinkan para bandar."
BNN Perkuat Penindakan dan Pendekatan IntelijenBNN terus memperkuat pendekatan intelijen dalam pemberantasan narkotika melalui peningkatan kerja sama lintas lembaga dan pelaksanaan operasi bersama untuk membongkar jaringan narkotika.
Upaya tersebut juga dilakukan dengan pengejaran terhadap jaringan narkotika lintas negara serta memutus rantai pasok peredaran narkotika melalui penelusuran aliran dana para pelaku.
Suyudi menegaskan BNN terus menyempurnakan strategi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) melalui pendekatan yang semakin komprehensif dan berimbang.
BNN menerapkan penindakan tegas tanpa kompromi terhadap bandar maupun jaringan narkotika.
Di sisi lain, BNN tetap mengedepankan pendekatan humanis dalam memulihkan penyalahguna narkotika dan para korban sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan masyarakat.
BNN juga memperkuat langkah preventif untuk melindungi anak-anak Indonesia sejak usia dini dari ancaman narkotika.
Ia mengatakan, "Ini lah semangat yang kami maknai dalam War on Drugs for Humanity, yaitu perang terhadap kejahatan narkotika namun tetap menjunjung tinggi hak manusia, humanis terhadap korban penyalahguna demi menyelamatkan manusia."
Bonus Demografi dan Ancaman NarkotikaSuyudi menyatakan Indonesia saat ini berada pada fase yang sangat menentukan karena tengah mempersiapkan generasi yang akan mengisi puncak bonus demografi menuju visi Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, pencapaian visi tersebut membutuhkan sumber daya manusia yang sehat, cerdas, unggul, produktif, berkarakter, dan memiliki daya saing tinggi.
Ia mengatakan, “Pemerintah telah membangun berbagai fondasi penting untuk mewujudkan dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia dan narkotika masih menjadi salah satu ancaman serius.”




