Wall Street Ditutup Anjlok, Saham-saham Teknologi Jadi Beban

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Tiga indeks utama Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Kamis (23/7), dipimpin oleh kemerosotan Nasdaq hingga lebih dari 2 persen.

Mengutip Reuters, laporan keuangan terbaru dari raksasa teknologi kembali memicu kekhawatiran terkait tingginya belanja modal untuk AI, sementara lonjakan harga minyak mentah memperkuat ancaman inflasi dan mengerek imbal hasil (yield) obligasi.

Indeks S&P 500 merosot lebih dari 1 persen seiring aksi lepas saham yang terjadi secara meluas. Pelemahan ini terdorong oleh respons negatif investor terhadap rilis kinerja kuartal II Alphabet dan Tesla, dua perusahaan pertama dari kelompok raksasa teknologi 'Magnificent Seven' yang melaporkan kinerjanya musim ini.

Tekanan terhadap bursa saham makin berat setelah harga minyak mentah berjangka jenis Brent ditutup di atas level USD 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei, sementara minyak mentah berjangka AS ditutup melampaui USD 92 per barel.

Eskalasi konflik di Timur Tengah memperuncing kecemasan terkait pasokan minyak global. Militer AS meluncurkan serangan udara lanjutan terhadap Iran, yang dibalas dengan tembakan rudal Iran ke markas militer AS di negara-negara tetangga.

Presiden AS Donald Trump menjanjikan 'hukuman militer berat' bagi Iran dan kelompok Houthi, setelah kelompok pejuang Yaman tersebut menyerang dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi di Laut Merah.

Lonjakan harga minyak yang dialami pasar memicu kekhawatiran inflasi hanya beberapa hari menjelang rapat kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Fed).

"Kenaikan cepat harga minyak menimbulkan risiko makro dan pasar yang signifikan," kata Matt Miskin, Co-Chief Investment Strategist di Manulife John Hancock Investments.

Ia menambahkan bahwa data pengangguran yang tetap rendah akan menekan The Fed untuk berfokus menekan inflasi.

Ia juga menyoroti minimnya antusiasme pasar, bahkan terhadap laporan keuangan yang solid, seiring kesulitan investor dalam membenarkan tingkat valusi saham yang sudah sangat tinggi.

"Secara keseluruhan angkanya bagus, tetapi banyak perusahaan memiliki catatan tertentu yang memicu penurunan harga sahamnya," ujar Miskin, merujuk pada kekhawatiran belanja modal (capital expenditure) sebagai salah satu alasannya.

"Celah sekecil apa pun langsung direspons pasar dengan aksi jual," imbuh dia.

Pada penutupan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average merosot 506,93 poin (0,97 persen) ke level 51.711,65, S&P 500 kehilangan 90,66 poin (1,21 persen) ke posisi 7.408,30, dan Nasdaq Composite anjlok 553,21 poin (2,15 persen) ke level 25.137,69.

Dari 11 sektor utama dalam S&P 500, kinerjanya bervariasi dengan hanya empat sektor yang menguat. Sektor industri mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 1,77 persen, ditopang penguatan saham-saham pertahanan seperti Lockheed Martin dan RTX.

Saham Lockheed melesat 10,5 persen setelah menaikkan proyeksi penjualan dan laba penuh tahun 2026. Sementara itu, RTX menjadi pendorong terbesar kedua bagi S&P 500 dengan penguatan 7,3 persen usai mengerek target penjualan dan laba tahun 2026 berkat tingginya permintaan perawatan pesawat komersial dan sistem militer.

Sebaliknya, saham induk Google, Alphabet, anjlok 7 persen dan menjadi penekan terbesar kedua bagi indeks acuan setelah mengumumkan rencana pembengkakan belanja modal serta arus kas yang tergerus (cash burn).

Kejatuhan saham Alphabet turut menyeret indeks sektor jasa komunikasi melemah 5,20 persen, menjadikannya sektor berkinerja terburuk dari 11 sektor yang ada.

Sektor barang konsumen sekunder (consumer discretionary) menjadi pelemah terbesar kedua dengan koreksi 5,12 persen. Saham Tesla menjadi beban terbesar di sektor ini setelah merosot 14,5 persen akibat laporan arus kas bebas (free cash flow) negatif pada kuartal kedua untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun.

Indeks pengukur kecemasan Wall Street, CBOE Volatility Index (VIX), naik 2,06 poin ke level 18,7, setelah sempat menyentuh posisi 20,3 yang merupakan level tertinggi dalam hampir sebulan.

Seiring melonjaknya harga minyak, kekhawatiran inflasi mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun ke tingkat tertinggi sejak awal 2025. Kendati demikian, berdasarkan instrumen CME Group FedWatch, para pelaku pasar masih memperhitungkan probabilitas sekitar 64 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan pada pekan depan.

Indeks semikonduktor Philadelphia yang volatil ditutup melemah 0,5 persen menjelang rilis laporan keuangan raksasa cip Intel. Saham perusahaan cip analog Texas Instrument merosot 3 persen meski memproyeksikan pendapatan kuartalan di atas perkiraan.

Di sisi lain, saham Thermo Fisher Scientific melonjak 8,7 persen setelah produsen peralatan medis tersebut mengerek proyeksi laba tahunan dan mencatatkan kinerja kuartal II di atas estimasi.

Jumlah saham yang melemah melampaui saham yang menguat di Bursa Efek New York (NYSE) dengan rasio 2,99 banding 1, mencatatkan 82 rekor tertinggi baru dan 354 rekor terendah baru. Di bursa Nasdaq, 1.374 saham menguat dan 3.467 saham melemah (rasio 2,52 banding 1). Indeks S&P 500 mencatat 17 rekor tertinggi baru 52 mingguan dan 15 rekor terendah baru, sedangkan Nasdaq Composite mencatat 41 rekor tertinggi baru dan 184 rekor terendah baru.

Volume perdagangan di bursa AS mencapai 16,21 miliar saham, lebih rendah dari rata-rata 18,51 miliar saham selama 20 sesi terakhir.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Piala AFF 2026 Resmi Dimula Hari Ini! Cuma Timnas Indonesia yang Belum Umumkan Daftar Pemain, Ternyata Ini Penyebabnya
• 8 jam laluviva.co.id
thumb
Purbaya Sebut Pengadaan Kipas Angin Kopdes Rp 1,8 Triliun Tanggung Jawab Agrinas
• 18 jam lalukatadata.co.id
thumb
8 manfaat sereh untuk kesehatan, daya tahan tubuh hingga pencernaan
• 23 jam laluantaranews.com
thumb
PGN Masih Tutup Aliran Gas untuk Penghuni Usai Ledakan di Grand Polonia Medan
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
PalmCo siapkan talenta muda hadapi dinamika industri sawit
• 7 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.