Produk Dekoratif yang Mengangkat Tradisi

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Setiap produk dekoratif yang terinsiprasi akar budaya membawa kekuatan cerita dan makna. Hal itulah yang membawa Nini Sumohandoyo (63) menekuni pembuatan produk dekorasi rumah yang terinspirasi akar budaya Indonesia.

Menekuni dunia dekorasi rumah adalah mimpi masa kecil Nini yang diwujudkannya, setelah ia pensiun dari industri asuransi yang membesarkannya lebih dari 26 tahun. Keputusan untuk terjun ke dunia dekorasi dari titik nol membawa Nini dalam totalitas, kesabaran, dan keteguhan.

Meski tidak memiliki latar belakang desainer, kecintaannya terhadap budaya dan tradisi telah membawanya pada visi untuk menciptakan produk yang kaya makna dan menjadi bagian dari sebuah rumah. Bagi Nini, di balik setiap karya selalu ada cerita. Desain dekorasi rumah yang diusungnya merupakan desain kontemporer dengan sentuhan tradisional, serta dipadukan dengan unsur kekinian.

Produk aksesori dekorasi interior rumah bertema ”The Brides Series” dibuat dari bahan papan kayu olahan serat kayu (MDF) dengan teknik khusus pewarnaan cat. Koleksi aksesori dan pajangan rumah itu mengangkat tradisi pernikahan dari seni budaya Indonesia. Produk-produk itu di antaranya berupa nampan, kotak, dan kartu permainan, serta set papan catur.

Baca JugaPengusaha Dekorasi Rumah Berpeluang Tingkatkan Kapasitas

Setiap produk dekoratif yang terinspirasi aksesori tradisi pernikahan membawa cerita dan makna budaya. Cerita itu dituangkannya dalam narasi yang menyertai setiap produk. Dalam tradisi pernikahan setiap budaya di Indonesia, ornamen yang digunakan diyakini mengalirkan doa agar seorang perempuan kelak dapat menjadi anggota keluarga, menjadi istri, ibu, dan menantu yang terbaik, memiliki peran sosial dan dihormati oleh masyarakat.

”Bagi saya, yang paling menarik adalah cerita di balik semua karya. Sebab, makna dan filosofi di balik setiap karya dekoratif itu luar biasa,” ujarnya saat ditemui, Kamis (23/7/2026). Nini mengaku saat ini masih fokus menggarap pasar dalam negeri.

Nini menghabiskan waktu sekitar 3,5 tahun untuk melakukan riset dari literatur dan buku-buku terkait akar tradisi Indonesia, perpustakaan, kedutaan Belanda, hingga kunjungan ke beberapa negara untuk mengasah ide, mempelajari teknis pembuatan produk lebih detail, serta memadukan filosofi dan akar tradisi dengan napas kontemporer.

Beragam tantangan dan jatuh bangun dilaluinya sejak usaha itu dirintis pada 2022. Namun, penyempurnaan produk terus dijalani hingga ia mulai menemukan pola terbaiknya. Ia melibatkan desainer dan seniman yang memiliki kesamaan visi. Seluruh produk karya kerajinan tangan itu melibatkan banyak orang. Proses pengerjaan dilakukan di Jakarta dan Bali.

Pada 2025, Nini meluncurkan pameran pertamanya untuk mengangkat produk-produk yang berakar dari 15 suku bangsa di Tanah Air. Tahun ini, pameran yang digelar pada 25 Juli 2026 merupakan pengembangan dari koleksi tahun lalu dengan mengusung 40 koleksi desain yang terinspirasi dari 15 suku bangsa.

Nini memiliki harapan besar merek yang diciptakannya kelak menjadi salah satu duta warisan budaya Indonesia, sekaligus memberi panggung bagi para perajin agar karya mereka dapat dikenal oleh dunia internasional. Kolaborasi dan cerita menjadi kekuatan dari produk yang dihasilkan.

Pengerjaan setiap produk membutuhkan proses berkisar 1-3 bulan. Pemilihan bahan baku hingga produk cat turut menentukan kualitas produk. Seluruh pemrosesan itu menguji kesabaran dan ketelitian.

”Proses yang panjang paling penting adalah memiliki kesabaran. Kalau dipaksakan cepat, hasilnya justru akan rusak. Saya tidak ingin mengorbankan kualitas demi mengejar hal (kecepatan waktu) tersebut,” ujar Nini.

Cerita yang dibawa

Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia Georgius Budi Yulianto saat dihubungi secara terpisah mengemukakan, beberapa tahun terakhir, tren minat masyarakat terhadap produk home décor, fashion, ataupun berbagai produk gaya hidup yang memadukan unsur tradisional dengan pendekatan modern justru menunjukkan kecenderungan yang semakin positif. Masyarakat, khususnya generasi muda, mulai mencari produk yang bukan sekadar indah secara visual, tetapi juga memiliki cerita, identitas, dan nilai budaya.

”Di tengah derasnya arus globalisasi, ada kebutuhan untuk kembali menemukan akar budaya. Namun, dalam bahasa desain yang lebih relevan dengan kehidupan masa kini,” ujarnya.

Fenomena ini juga terlihat pada meningkatnya apresiasi terhadap kerajinan lokal, material alami, serta motif-motif tradisional yang diinterpretasikan secara lebih kontemporer. Meski demikian, ia melihat yang sedang berkembang bukanlah tren kembali ke bentuk tradisional secara utuh, melainkan reinterpretasi tradisi. Artinya, masyarakat tidak selalu menginginkan rumah yang sepenuhnya bergaya etnik atau busana yang sepenuhnya tradisional, tetapi menginginkan sentuhan budaya yang hadir secara lebih sederhana, elegan, dan mudah dipadukan dengan gaya hidup modern.

Pendekatan ini membuat produk terasa lebih universal tanpa kehilangan identitasnya. Survei terhadap konsumen muda juga menunjukkan adanya apresiasi yang tinggi terhadap motif tradisional, tetapi preferensi mereka cenderung pada interpretasi kontemporer, warna yang lebih ringan, serta produk yang nyaman digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca JugaKreasi Limbah Kayu untuk Dekorasi Interior

Dalam konteks desain interior, lanjut Budi, kondisi ini membuka peluang yang sangat besar. Rumah tidak lagi dipandang sekadar sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai ruang yang merepresentasikan karakter pemiliknya. Karena itu, penggunaan motif batik, tenun, ukiran kayu, anyaman, ataupun berbagai elemen Nusantara dapat menjadi identitas ruang apabila diterjemahkan dengan proporsi yang tepat. Sebuah ruang modern justru dapat menjadi lebih hangat, lebih berkarakter, dan memiliki nilai emosional yang lebih kuat ketika diberikan aksen budaya yang dirancang secara cermat.

Ia menambahkan, desain tradisional tidak boleh berhenti pada aspek dekoratif semata. Nilai tambahnya justru terletak pada cerita yang dibawa. Konsumen saat ini semakin menghargai produk yang memiliki narasi mengenai asal-usulnya, siapa perajinnya, bagaimana proses pembuatannya, hingga filosofi yang terkandung di balik sebuah motif.

”Dengan kata lain, yang dibeli bukan hanya produknya, melainkan juga makna yang menyertainya. Di sinilah desain memiliki peran sebagai jembatan antara warisan budaya dan kebutuhan pasar modern,” lanjutnya.

Budi mengingatkan, penggunaan motif tradisional tidak boleh dilakukan secara serampangan hanya karena alasan estetika. Hampir setiap motif tradisional di Indonesia memiliki makna filosofis, nilai budaya, bahkan dalam beberapa kasus memiliki fungsi sosial ataupun fungsi ritual tertentu. Ada motif yang dahulu hanya digunakan oleh kalangan tertentu, ada yang melambangkan doa, harapan, status sosial, hingga peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan masyarakat.

Seorang desainer memiliki tanggung jawab moral untuk memahami konteks budaya sebelum mengadaptasinya menjadi sebuah produk. Hal tersebut tidak hanya menyangkut bentuk motif, tetapi juga menyangkut komposisi, arah pola, pilihan warna, material, bahkan cara penempatannya pada suatu obyek.

Kesalahan penggunaan dapat menghilangkan makna asli atau bahkan menimbulkan interpretasi yang tidak tepat terhadap budaya yang diwakilinya. Karena itu, proses desain sebaiknya melibatkan riset yang memadai, berdialog dengan budayawan ataupun komunitas lokal, sehingga inovasi yang dihasilkan tetap menghormati nilai budaya yang menjadi sumber inspirasinya. Ketika keseimbangan itu berhasil dicapai, produk Indonesia akan memiliki diferensiasi yang sulit ditiru oleh negara lain karena berangkat dari kekayaan budaya yang memang kita miliki.

”Tantangan terbesar saat ini bukan bagaimana membuat motif tradisional menjadi modern, melainkan bagaimana membuatnya tetap otentik sekaligus relevan. Modernisasi tidak identik dengan menghilangkan identitas. Justru kekuatan desain Indonesia terletak pada kemampuannya mengolah warisan budaya menjadi sesuatu yang baru tanpa kehilangan rohnya,” ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Deportasi Abdul Karim Murni Pidana, Tak Pengaruhi Dukungan Indonesia untuk Palestina
• 18 jam laluidxchannel.com
thumb
Polisi Ungkap Jesslyn, yang Dilaporkan Diculik, ke Luar Negeri Bareng Ibu-Tante
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
4 Sayembara Dedi Mulyadi yang Pernah Digelar, dari Buronan hingga Begal
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Mahasiswa KKN Profesi Kesehatan Unhas Gencarkan Edukasi Cegah Stunting, Kesehatan Gigi, Kosmetik Aman, dan Pernikahan Dini di Sidrap
• 10 jam laluharianfajar
thumb
Mobil Listrik di Jakarta Tumbuh Pesat, Pemda Kehilangan Penerimaan Pajak Rp2 Triliun
• 20 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.