Dampak Minimnya Ruang Bermain: Anak Nirempati hingga Sulit Pecahkan Masalah

kompas.com
1 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah megahnya Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) yang sudah dibangun Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta, ternyata masih banyak anak-anak yang sulit mengaksesnya.

Anak-anak tersebut umumnya tinggal di tengah permukiman padat, sementara kebanyakan RPTRA dibangun dekat dengan jalan raya.

Oleh karena itu, banyak anak yang sulit mengaksesnya karena harus berjalan berkilometer terlebih dahulu untuk bisa bermain di taman.

Baca juga: Sedih Anak Main di Got, Kegelisahan Ibu Pekerja di Tengah Krisis Ruang Bermain di Jakarta

Di sisi lain, lokasinya yang dekat dengan jalan raya membuat anak-anak semakin sulit menjangkaunya apabila tidak didampingi orangtua.

Alhasil, anak-anak di permukiman padat itu memanfaatkan gang-gang dengan lebar dua meter untuk melakukan berbagai aktivitas permainan.

Permainan tersebut di antaranya sepatu roda, petak umpet, berlarian, bersepeda, galasin, gobak sodor, dan lain sebagainya.

Dijadikannya gang sebagai area bermain tak jarang menciptakan konflik sosial di tengah masyarakat.

Sebab, tidak semua warga senang apabila area depan rumahnya menjadi tempat bermain anak karena berisik.

Oleh karena itu, banyak warga yang mengusir anak-anak ketika sedang asyik bermain.

Di sisi lain, anak-anak juga terpaksa memberhentikan aktivitas bermainnya ketika gang tersebut harus dilalui kendaraan.

Baca juga: Anak Jakarta Kekurangan Ruang Bermain: Kerap Dimarahi dan Diusir

Pentingnya ruang bermain

Psikolog Gloria Siagian mengatakan, ruang bermain sangat penting untuk tumbuh kembang anak, baik secara emosional, sosial, maupun kognitif.

Sebab, ketika bermain, anak cenderung belajar lebih optimal daripada biasanya.

"Kalau secara neurologis, otaknya menjadi lebih aman karena ada asupan hormon yang menciptakan perasaan positif," ucap dia kepada Kompas.com, Jumat (24/7/2026).

Ketika merasa aman dan bahagia, anak-anak akan cenderung lebih cepat belajar.

Lewat aktivitas bermain, mereka belajar mengekspresikan emosi serta nilai-nilai sosial tentang bagaimana mereka harus menunggu giliran, menghargai teman, dan lain sebagainya.

Di sisi lain, kemampuan kognitif anak juga akan terasah karena ketika bermain mereka mendapat arahan sehingga bisa melihat berbagai kemungkinan dalam permainan, menciptakan ide baru, sehingga kreativitasnya juga meningkat.

"Sehingga anak ini lebih baik ketika dia bermain dibandingkan ketika berada dalam lingkungan pembelajaran yang terstruktur," ucap Gloria.

Pengalaman nyata memang sangat dibutuhkan anak-anak, bahkan orang dewasa sekalipun.

Hal itu bisa diakomodasi dengan bermain bersama agar kemampuan mereka terasah dalam berbagai aspek emosional.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Mereka bisa melihat temannya menangis ketika kalah. Anak juga belajar bagaimana menenangkan temannya, mereka juga belajar tidak egois.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
1.050 Anak Binaan Dapat Pengurangan Masa Pidana pada Hari Anak Nasional 2026
• 16 jam laludisway.id
thumb
Mau Jadi Pengunjung Spesial GIIAS 2026? Cek Harga Tiket VIP
• 20 jam lalumedcom.id
thumb
Prabowo: Ada Lembaga Pemerintah yang Gelembungkan Anggaran Gila-Gilaan!
• 2 jam lalurctiplus.com
thumb
Inspirasi Dress Musim Panas dari Kate Middleton
• 19 jam lalubeautynesia.id
thumb
Puncak Harlah ke-28 PKB Diwarnai Kaos ‘Prabowonomics’, Cak Imin Imin Beberkan Maknanya
• 12 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.