Indonesia saat ini seolah berada di bawah kungkungan kasus epidemiologi yang sunyi. Sebagai negara dengan beban kasus tuberkulosis atau TBC tertinggi ke dua di dunia, estimasi lebih dari 1 juta kasus aktif per tahun, hal ini seharusnya menjadi alarm bahaya yang harus diwaspadai.
Ironisnya, dari satu jutaan kasus tersebut masih menyisakan ruang gelap berupa 200.000 hingga 300.000 kasus yang hilang (missing cases) atau tidak dilaporkan ke dalam sistem kesehatan. Mereka yang tidak terdeteksi ini berada di tengah masyarakat, tetap beraktivitas di ruang publik, dan tanpa disadari berpotensi akan terus memutar roda sirkulasi penularan.
Menghadapi realitas ini, kesadaran kolektif masyarakat harus digugah. TBC tidak akan sulit dieliminasi jika kita hanya sibuk mengobati hilir yang sakit dan abai terhadap hulu infeksi yang tersembunyi.
Dalam The Asia Pasific International Roche Infectious Disease International (APAC-IRIDS) di Bangkok, Thailand pada 8-9 Juli 2026, mendorong agar arah kebijakan penanganan TBC regional mulai dirombak. Paradigma lama yang pasif yaitu menunggu pasien datang setelah bergejala, dinilai telah gagal menekan angka insidensi secara signifikan.
Erlina Burhan, Guru Besar Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Rumah Sakit Persahabatan, mengibaratkan, program penanganan TBC di Indonesia seperti orang yang sibuk mengepel lantai yang basah di hilir, sementara keran air kotor di hulu tetap dibiarkan terbuka.
Hal ini untuk menggambarkan keberadaaan Infeksi TBC Laten (LTBI). Secara ilmiah, satu dari empat orang di dunia saat ini sejatinya telah ditumpangi oleh kuman TBC di dalam tubuhnya. Pada fase laten, bakteri tersebut berada dalam kondisi tertidur (dorman) karena dikurung rapat oleh sistem imun. Mereka tidak memiliki gejala, rontgen dada mereka bersih, dan tidak menularkan penyakit.
Namun, benteng imunitas tersebut bisa runtuh kapan saja akibat penuaan, infeksi komorbiditas seperti HIV dan diabetes melitus, hingga malnutrisi kronis. Ketika imun anjlok, bakteri yang tertidur akan bangkit dan bertransformasi menjadi TBC aktif.
"Jadi kalau kita fokus di menemukan kasus aktif dan mengobati, kita capek. Karena sumbernya ini kita nggak potong. Jadi ada yang kita sembuhkan, ada lagi yang baru disembuhkan, ada lagi yang baru, itu terus kerjaan capek,” ucap Erlina.
Mendiagnosis penyakit TBC sejak dini untuk menghentikan penularan dan mendiagnosis infeksi TBC sejak dini untuk mencegah penyakit di masa depan.
Oleh karena itu, Razia Kaniz Fatima, Technical Advisors for TB Strategy and Global Fund Grant Applications di Kantor Layanan Proyek PBB (UNOPS), menyerukan pentingnya penerapan strategi diagnostik ganda (dual diagnostic strategy) untuk mencapai target strategi ”End TB” pada tahun 2030. Strategi diagnostik ganda yang dimaksud yaitu untuk mereka yang berkembang menjadi penyakit TBC dan untuk mereka yang terinfeksi TBC.
“Mendiagnosis penyakit TBC sejak dini untuk menghentikan penularan dan mendiagnosis infeksi TBC sejak dini untuk mencegah penyakit di masa depan,” ucapnya.
Upaya Indonesia untuk bergeser ke arah hulu ini memerlukan adopsi taktik cerdas dari negara-negara tetangga yang juga berjuang melawan beban tinggi TBC. Razia yang juga Technical Director of Health Solutions International di Pakistan, memaparkan bagaimana Pakistan mengoptimalkan infrastruktur molekuler pasca-Covid-19 untuk menjalankan pengujian terintegrasi.
Pasien dengan gejala batuk kronis langsung disaring secara simultan untuk TBC, HIV, Hepatitis C, hingga kanker serviks (HPV) dalam satu kali kunjungan. Strategi one-stop-shop ini memangkas waktu dan biaya perjalanan pasien secara signifikan.
Sementara di Filipina yang memiliki karakteristik geografis hampir mirip dengan Indonesia disiasati oleh Chairman Department of Health National Capital Region (NCR) South TB Medical Advisory Committee di Filpina, Rugaiya Calapis, melalui penguatan jejaring rujukan. Laboratorium pusat kota difokuskan untuk tes molekuler berkapasitas tinggi, sedangkan klinik pelosok dibekali alat tes cepat molekuler di dekat komunitas demi mencegah pasien lost to treatment sebelum pengobatan dimulai.
Di Thailand, Senior Medical Expert in Preventive Medicine (Tuberculosis) and Director of the Global Fund Project Management Office, Department of Disease Control, Palin Kamolwat, membagikan pentingnya kemandirian domestik. Thailand memanfaatkan anggaran negara secara masif untuk mendanai logistik diagnostik gratis di area rentan dan meluncurkan strategi khusus untuk mendobrak dinding stigma sosial di masyarakat.
Ketika kesadaran masyarakat mulai tumbuh untuk memeriksakan diri, hal ini perlu dipersiapkan dengan system kesehatan yang baik. Sayangnya, penerapannya secara ideal masih dihadapkan pada tembok ketimpangan ekonomi.
Metode paling akurat untuk mendeteksi infeksi TBC laten saat ini adalah melalui tes darah IGRA (Interferon-Gamma Release Assay), yang jauh lebih praktis dan akurat dibanding metode Mantoux kulit zaman dulu. Sayangnya, biaya satu kali tes IGRA di Indonesia saat ini setidaknya di angka Rp 1 juta.
Bagi masyarakat kelas pekerja bawah, biaya tersebut setara dengan uang belanja keluarga selama berminggu-minggu. Sangat tidak realistis mengharapkan masyarakat menyaring diri secara mandiri atas penyakit yang sama sekali tidak memicu gejala klinis. Oleh sebab itu, intervensi penuh dari pemerintah melalui subsidi total dan penetapan skala prioritas yang ketat pada kelompok paling rentan menjadi keharusan.
"Penduduk Indonesia 280 juta jiwa, nggak mungkin kan kita periksa seperempatnya, itu crazy banget. Tapi kan mungkin kita prioritaskan yang high risk group. Contohnya kontak erat yang usianya di bawah 5 tahun, kontak erat yang HIV, orang yang cuci darah. Kelompok-kelompok inilah yang karena memang ada keterbatasan biaya tadi, jadi diprioritaskan,” ucap Erlina Burhan.
Keterbatasan kemampuan finansial ini selain dihadapi negara juga pada sebagian warganya. Pengobatan TBC aktif membutuhkan kepatuhan meminum obat selama minimal enam bulan penuh. Namun, ketika memasuki bulan kedua, sebagian besar kuman telah mati dan tubuh pasien kembali bugar.
Bagi pekerja informal, hilangnya gejala klinis menjadi sinyal untuk langsung kembali bekerja demi menyambung hidup keluarga. Akibatnya, banyak pasien yang drop-out atau putus obat di tengah jalan karena merasa sudah sembuh.
Putusnya pasokan obat ini menjadi malapetaka epidemiologi baru yaitu kuman yang tersisa di dalam tubuh tidak mati, melainkan bermutasi secara genetik menjadi kuman super yang kebal terhadap antibiotik standar. Kondisi inilah yang melahirkan TBC Resisten Obat (TBC RO), yang memerlukan regimen pengobatan lini kedua yang jauh lebih keras dengan efek samping masif dan biaya yang melonjak berkali-kali lipat.
Sergio Carmona, Principal Medical Scientist Director Infectious Diseases Roche, mengingatkan pentingnya ketepatan aksi pasca-diagnosis: "Nilai dari diagnostik hanya memiliki nilai jika kita bertindak berdasarkan hasil tersebut. Jika Anda positif untuk tes molekuler, baik itu kotak kecil di pulau kecil atau kotak besar seperti milik kami di tingkat rumah sakit distrik yang terpusat, itu hanya berharga jika kita akan benar-benar memulai pengobatan,” ucapnya.
Realitas ini membuktikan bahwa aspek medis klinis hanya menyumbang sekitar 40 persen dari keberhasilan penyembuhan, sedangkan 60 persen sisanya dikendalikan oleh faktor non-medis seperti ekonomi, perbaikan gizi, dan dukungan jaminan pendapatan sosial selama masa kritis pengobatan.
Indonesia saat ini sedang berkejaran dengan waktu demi mengejar target ambisius WHO End TB Strategy pada tahun 2030 untuk menurunkan angka insidensi sebesar 80 persen dan kematian hingga 90 persen. Menatap sisa waktu yang kian sempit, target ini menjadi ujian yang sangat berat bagi ketahanan kesehatan nasional kita.
Langkah maju yang harus diambil Indonesia tidak boleh lagi terjebak dalam rutinitas biasa (business as usual). Seluruh elemen bangsa harus mereplikasi keterpaduan gerak dan agresivitas saat kita menghadapi pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu. Sinergi masif antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, hingga kader-kader posyandu di lapangan harus digerakkan serentak.
Dengan keberanian memotong rantai infeksi laten di hulu melalui anggaran pencegahan yang kuat, serta menjamin keadilan sosial-ekonomi bagi pasien di hilir, Indonesia baru memiliki peluang nyata untuk benar-benar membebaskan diri dari belenggu purba tuberkulosis.





