Tahun-tahun terakhir ini, Palestina, Ukraina, dan Iran kerap menghiasi media massa karena satu hal: perang. Bahkan, pada waktu-waktu tertentu, saat dampak perang di negara-negara itu mampir di dapur jutaan manusia di bagian lain dunia, pemberitaan perang setiap hari terpampang di layar kaca dan gawai banyak orang. Para ahli diundang, mantan praktisi bicara, dan masing-masing orang akan menentukan pihak yang dianggap "suci" sehingga wajib dibela.
Orang sering membicarakan perang dengan bahasa yang sangat sederhana sekaligus sangat rumit. Orang bicara kemenangan, kekalahan, negara, strategi, gencatan senjata, kepentingan nasional, perimbangan kekuatan, bahkan Tuhan dan iman. Namun, ada satu hal yang sering hilang dari istilah-istilah rumit itu: manusia biasa. Seorang ayah, ibu, saudara, atau teman yang terjebak di tengah perang.
Mereka yang rumahnya runtuh, ayah yang kehilangan putri, anak yang harus mencari tubuh ibunya di antara puing. Mereka adalah manusia-manusia biasa yang masih hidup dengan trauma setelah perang selesai, tetapi tidak lagi masuk berita karena kamera dan algoritma sudah berpindah ke tragedi berikutnya.
Puisi Wisława Szymborska mengajak kita untuk mengingat manusia-manusia biasa itu.
Wisława Szymborska tentang "Seseorang"Szymborska adalah penyair Polandia yang menerima Nobel Sastra pada 1996. Akademi Swedia memuji puisinya mampu memperlihatkan konteks sejarah dan biologis manusia melalui potongan-potongan kecil realitas, dengan ketepatan yang ironis. Puisinya sering tampak sederhana, bahkan tawar, tetapi di balik itu terlihat manusia sebagaimana adanya.
Dalam puisi "The End and the Beginning", yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Joanna Trzeciak, Szymborska membuka dengan, "After every war / someone has to clean up." Setelah setiap perang, seseorang harus membersihkan semuanya.
Kalimat sederhana itu punya makna yang dalam. Sebab, perang tidak selesai ketika tembakan berhenti. Kenangan Perang akan terus hidup dalam ingatan seseorang, dalam tembok yang hancur, kaca yang pecah, kain yang menyisakan darah, dan tubuh-tubuh yang harus disingkirkan agar kehidupan mereka yang masih hidup bisa berlanjut lagi.
Dalam siklus pemberitaan, perang kadang tidak lebih dari angin lalu: serangan, ledakan, pernyataan pemimpin, bantuan kemanusiaan, cerita korban, analisis pakar, jumlah yang mati, dan tagar pasifisme. Setelah itu, berita berganti ke perang atau tragedi lain; simpati publik, algoritma, dan perhatian manusia, yang sejak awal memang rapuh, pun ikut berpindah.
Namun, Szymborska menulis tentang bagian perang yang tidak fotogenik, bahwa pekerjaan setelah perang, "photogenic it's not," tidak menarik untuk kamera. Bagi mereka yang selamat, perang tidak selesai ketika kamera wartawan berhenti meliput.
Di sinilah puisi bekerja dengan cara yang berbeda dari berita. Pemberitaan bergerak mengikuti kebaruan peristiwa, sedangkan puisi menahan kita sebentar untuk melihat apa yang sering luput setelah perang tidak lagi menjadi berita. Berita memberi tahu apa yang terjadi, puisi bertanya apa yang tersisa setelah semuanya terjadi.
Karena itu, membaca Szymborska hari ini terasa sangat relevan. Kita hidup di zaman ketika penderitaan manusia begitu mudah terlihat, tetapi juga begitu mudah dilupakan. Gambar perang muncul di layar ponsel, lewat begitu saja di antara iklan, meme, gosip, dan debat politik. Kita bisa menangis pada satu unggahan tentang perang, lalu tertawa pada unggahan berikutnya. Mungkin, bukan karena kita jahat, tetapi karena budaya digital melatih perhatian kita untuk berpindah seperti angin.
Puisi Szymborska mengingatkan bahwa setelah perang, selalu ada seseorang. Kata "seseorang" dalam puisinya penting. Bukan presiden atau jenderal. Hanya seseorang. Orang biasa. Mungkin seorang ibu, ayah, atau anak. Seseorang, yang bahkan namanya tidak akan pernah ditulis dalam buku sejarah.
Sejarah perang biasanya mencatat nama pemimpin, tanggal pertempuran, jumlah korban, dan hasil perjanjian. Puisi Szymborska memilih mencatat orang yang menyapu debu, memperbaiki jendela, atau mengubur anggota keluarga. Di situ letak kekuatan puisinya, ia tidak membiarkan perang hanya menjadi urusan negara. Ia mengingat perang dari sudut pandang orang biasa.
Walaupun demikian, puisi Szymborska tidak berhenti pada pekerjaan membersihkan puing. Pada bagian akhirnya, mereka yang mengetahui apa yang pernah terjadi perlahan digantikan oleh mereka yang hanya tahu sedikit, lalu hampir tidak mengetahui apa-apa. Rumput tumbuh menutupi sebab dan akibat. Artinya, Szymborska tidak hanya menulis tentang kehidupan setelah perang, tetapi juga tentang bagaimana ingatan terhadap perang perlahan dikalahkan oleh waktu. Orang biasa bukan hanya membersihkan puing. Kadang-kadang, mereka juga menjadi saksi terakhir sebelum sejarah berubah menjadi ketidaktahuan.
Kita boleh membahas perang dengan teori, menganalisisnya dengan perspektif geopolitik, berbicara tentang aliansi, industri senjata, kepentingan energi, atau kalkulasi kekuasaan. Semua itu perlu. Namun, jika perang hanya dibicarakan melalui bahasa intelektual, manusia dapat berubah menjadi angka dan kategori. Pengalaman manusia kemudian diringkas menjadi angka korban dan kategori seperti "casualties", "pengungsi", atau "korban sipil". Sementara itu, kematian dan kehancuran mereka kadang disamarkan melalui istilah "collateral damage". Istilah-istilah itu memang diperlukan, tetapi dalam konteks tertentu terlalu mengawang-ngawang. Terlalu mudah membuat kita melupakan manusia di baliknya.
Puisi, Perang, dan PolitikPuisi Szymborska sangat sederhana dan hati-hati. Ia tidak menggurui dan tidak merasa paling tahu. Dan sikap ini terasa semakin langka dalam politik kekuasaan yang sering mengawali dan membenarkan perang. Perang sering dipenuhi orang-orang yang terlalu yakin. Pemimpin yang percaya tindakannya benar, negara percaya kekerasannya sah, dan sekelompok rakyat yang mengimani kubunya suci.
Meski begitu, membaca Szymborska bukan berarti melarikan diri dari politik. Justru sebaliknya. Ia membantu kita kembali ke inti politik yang paling dasar: kehidupan manusia. Politik seharusnya bukan hanya tentang siapa menguasai wilayah, siapa menang, siapa kalah, atau siapa lebih kuat. Politik juga tentang bagaimana manusia bisa hidup tanpa terus-menerus dihancurkan oleh keputusan orang lain.
Dalam konteks perang hari-hari ini, suara seperti Szymborska penting untuk dibaca kembali. Bukan karena puisi bisa menghentikan tank atau memaksa negara menandatangani perjanjian damai. Seorang penyair dan puisi-puisinya tidak punya kekuatan ajaib itu. Akan tetapi, puisi bisa melakukan sesuatu yang sering gagal dilakukan politik: menjaga agar manusia tidak sepenuhnya berubah menjadi angka.
Dengan kesederhanaan katanya, Szymborska mengingatkan bahwa perang tidak selesai ketika peluru berhenti ditembakkan. Kadang, perang terus berlangsung setelah tentara dipulangkan, setelah kamera tidak lagi meliput, setelah perayaan kemenangan, dan setelah seseorang, orang biasa, entah siapa, berdiri di antara puing dan mulai membersihkan semuanya. (Ciao!)





